Sabtu, 20 Juni 2015

Tidak Harus Seindah Asa

Aku memang melihat ada gelagat aneh adikku belakangan ini. Semangatnya luar biasa, membuatku iri saja. Berangkat mengajar cepat kurang cepat, bahkan ketika pulang pun lama kurang lama. Ingin rasanya Aku meminta kiat darinya agar Aku pun bisa sesemangat dia. Membayangkan sekolah saja sudah membuatku penat dengan segala macam jenis pekerjaan yang serasa terus semakin membebaniku. Apa lagi kalau sudah bertemu dengan anak-anak, “haahhh” mau pecah rasanya isi kepala ini. Ingin segera keluar dari sekolah ini, tapi bingung juga mau kerja apa. Jaman sekarang bukannya mudah mendapat pekerjaan walaupun sudah sarjana. Seno, Waras, dan Izul, mereka semua teman kuliahku dulu, sekarang hanya bekerja sebagai tukang becak motor.  Tiba-tiba jadi teringat nasihat Pak Yadi guru baru di sekolah.
“Titel Sarjana Pendidikan itu bagi saya adalah amanah pak Sholeh, jadi akan sangat berdosa rasanya kalau saya enggan untuk mengajar. Sebab, mungkin dengan lulusnya kita di jurusan pendidikan telah menyingkirkan orang lain yang sebenarnya memiliki keinginan yang kokoh untuk jadi guru. Bisa jadi jika kita tidak lulus dan tidak keterima di kampus, maka orang yang berkeinginan kuat tersebutlah yang menggantikan posisi kita saat ini.”
Dia memang guru spiritualku, tak segan-segan aku kadang mencurahkan isi hatiku padanya. Dari pancaran ketawadhu’an wajahnya saja sudah meneduhkan kekeringan hatiku walau hanya sebentar. Orangnya sholeh, jauh kalau dibandingkan denganku. Padahal namaku Sholeh.
“Syifa?” panggilku pelan di tengah kekhusyuannya memeriksa latihan murid-muridnya.
“Hmm?” sahutnya walau tak mengalihkan pandangan pada lembar jawaban yang ia periksa.
“Boleh minta saran?” Syifa pun menghentikan aktivitas centang-mencentangnya.
“Jangan sekarang yang bang, Syifa lagi sibuk nih, ntar aja kalo dah siap ya? Oke?”
“Iya deh..” Sahutku kesal sambil berlalu meninggalkannya, seraya itu pula moodku untuk curhat pun sirna. Tidur aja deh, batinku. Mungkin memang harus kuhadapi sendiri saja, lagian gengsi juga harus curhat dengan Syifa. Adik kecilku yang sudah beranjak dewasa bahkan kalaupun menikah ini memang sudah saatnya. Eh, bicara tentang menikah aku jadi minder sendiri. Usiaku sudah kepala tiga lebih, tapi masih melajang saja. Bukannya tidak ada keinginan untuk menikah, hanya saja belum rela melepaskan Syifa sendirian apalagi suasana berkabung masih kurasakan ada pada dirinya. Aku dan Syifa selisih 3 tahun, baik umur maupun sekolah. Ayah kami meninggal sejak aku SMA, hal ini menyebabkan Aku harus menunda kuliah selama 3 tahun untuk membantu perekonomian keluarga dan biaya sekolah Syifa, hingga akhirnya aku pun kuliah sambil bekerja. Barengan dengan Syifa menjadi angkatan yang sama. Setelah kami semua selesai kuliah, kami pun memutuskan untuk mengajar di tempat yang sama agar mudah saat berangkat ke sekolah. Saat itulah Ibu kami mulai sakit-sakitan. Hingga akhirnya Ibu dipanggil Allah tepatnya 2 tahun setelah kami memasuki dunia kerja, itu tiga bulan yang lalu. Mungkin karena tugas Ibu memang sudah selesai membimbing dan membiayai kami sampai kuliah, selanjutnya kamilah yang harus berusaha secara mandiri. Kalau mengingat masa lalu, tidak bisa aku membendung air mataku.
Sejak meninggalnya Ibulah, Syifa kelihatan kehilangan gairah dalam hidupnya. Namun, Aku selalu memberinya semangat dan terus menghiburnya agar ia tetap bisa tersenyum. Belakangan ini sepertinya Aku tidak perlu menghiburnya lagi. Ia telah menemukan semangatnya kembali. Wajahnya pun selalu dihiasi dengan senyuman. Benar-benar membuatku heran. Tapi bahagia juga kok kalo melihatnya bisa bahagia begitu. Masalahnya sekarang ada di diriku sendiri, kenapa tidak bisa sebahagia dan sesemangat Syifa. Entalah, malam pun sudah semakin larut, mataku sudah mulai berat, langsung kubaringkan tubuhku dan tidur.
***
Mataku terbuka, di tengah keheningan malam ku dengar suara tangisan seorang gadis yang sedang memohon dan meminta penuh harap. Memelas sekali. Membuat bulu kudukku merinding. Aku pun bangkit menuju sumber suara itu. Suara detakan jam dinding pun semakin keras ku dengar menyebar ke penjuru ruangan. Ku perhatikan jam, tepat pukul 02.00 dini hari. Suara tangis semakin dalam kurasakan. Dan tepat tebakanku, suara itu ada di kamar Syifa. Dari pintu kamar yang memang sudah terbuka itu kulihat seorang gadis mungil berbalut mukenah menengadahkan kedua tangannya dengan wajah dibanjiri air mata. Luluh rasanya raga ini menyaksikan pemandangan itu. Sekujur tubuhku melemas, tak kuasa rasanya aku untuk tidak menghampirinya. Langsung saja ku peluk ia. Tidak pernah Aku melihatnya sesedih ini. Air mataku pun berlinang, bagai di film-film kenangan masa lalu kebersamaan kami bersama Ayah dan Ibu terus tergambar. Namun, aku sangat kaget ketika tiba-tiba saja Syifa mengatakan sesuatu dari mulutnya.
“Bang, Syifa jatuh cinta!.” Suaranya agak terbata karena tangisannya. Bagai tersambar petir, tubuhku tiba-tiba jadi dingin dan menggigil seketika. Tidak pernah aku mendengar kata-kata ini darinya. Aku hanya terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, aku mencoba menenangkan dan mencairkan kebekuan pikiranku, karena sebenarnya jatuh cinta itu sangatlah wajar apa lagi di usia Syifa yang harusnya sudah sangat layak baginya memasuki dunia rumah tangga. 26 tahun lebih. Kemudian ia pun melanjutkan perkataannya sambil melepaskan pelukanku dan menatapku dalam-dalam.
“Bang, Syifa sudah berusaha untuk menahan rasa ini. Sudah bertahun-tahun sejak kuliah. Dulu pernah ada beberapa laki-laki yang sholeh mengajak Syifa untuk serius, tetapi berulang kali Syifa tolak dan Syifa tahan perasaan ini sampai semua siap. Syifa tahu bahwa Syifa belum siap. Syifa juga berhasil membuang jauh-jauh perasaan Syifa laki-laki itu meskipun sebenarnya Syifa sukai. Namun, saat ini Syifa sudah tidak sanggup menahannya lagi bang. Semakin Syifa tepis, perasaan ini semakin menggebu datangnya. Jika Syifa ungkapkan dan sampaikan ke Abang, Syifa juga takut jika nanti membuat Abang marah. Syifa harus bagaimana bang?” Air matanya semakin meleleh deras dan tanpa sadar air mataku juga menetes. Aku merasa bersalah, selama ini ia terdiam hanya karena takut dan segan padaku. Pasti semua ini disebabkan sampai saat ini aku belum kepikiran untuk menikah sehingga membuatnya merasa lancang jika harus melangkahiku. Kembali aku mencoba menstabilkan hati dan pikiranku.
“Abang minta maaf ya dik, semua ini memang kesalahan Abang. Syifa takut melangkahi Abang khan?” Tanyaku sambil mencoba tersenyum di sela-sela tetesan air mata. Syifa hanya menjawab dengan mengangguk.
“Apa Syifa memang harus menunggu abang nikah duluan ya? Kalau memang begitu, gak apa-apa kok Syifa mesti menunggu lagi.” Kembali kupandangi lekat wajahnya. Ketahuan bahwa ia penuh harap.
“Bilang ke Abang, siapa laki-laki yang mampu meluluhkan hati Adik kecil abang itu?” Sambil kuangkat dagunya sambil ku beri isyarat senyum tanda setuju.
“Boleh bang?”
“Boleh, asal membuat Syifa bahagia pasti Abang bolehkan.” Jawabku meyakinkan.
“Ada laki-laki yang begitu sholeh. Tapi, Syifa juga gak tau dia suka apa gak sama Syifa.”
“Gak masalah dik, ntar biar Abang tanyakan ke orangnya langsung. Kalau dia gak mau ntar Abang pilihkan dengan yang lainnya, Abang sekarang wali Syifa.” Tiba-tiba tergambar wajah Pak Aman Hariyadi sang guru spiritualku yang juga sama-sama bekerja di sekolah tempatku mengajar. Pak Yadi adalah pilihan yang tepat, pikirku. Mudah-mudahan beliau mau, itupun kalau beliau masih belum ada pilihan.
“Tapi Syifa malu sebenarnya bang?” Syifa kembali tertunduk dan aku kembali tersenyum. Itu ekspresi yang wajar bagi seorang wanita.
“Hehe, ini Abang Syifa sendiri loh. Masa malu-malu? Ayo kasih tau Abang”
“Abang pasti kenal orangnya, karena Syifa lihat Abang sering ngobrol dengannya.” Tiba-tiba jantungku berdegup kencang.
“Apa maksud Syifa, Pak Yadi?” Sergahku dan Syifa kembali hanya menganggukkan kepala kemudian menundukkan kepalanya kembali. Tapat pilihanmu dik, pikirku.
“Abang setuju, besok coba Abang tanyakan ke beliaunya. Semoga beliau mau. Syifa banyak-banyak do’a aja ya, dan jangan lupa berdo’a untuk diberi kesabaran jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan.” Aku juga berharap semoga tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, tiba-tiba muncul kembali rasa minderku. “Aku kapan ya?” Ah sudahlah, yang penting Syifa bisa bahagia dulu. Aku pasti bisa mencarinya nanti.
“Pasti bang, Syifa tahu kok harus bagaimana.” Senyum manisnya kembali mengembang. Senyum itulah yang selama ini membuatku tenang dan nyaman. Aku baru sadar, inilah yang membuat Syifa sangat bersemangat berangkat kerja belakangan ini.
***
Udara pagi ini sangat bersahabat, ku kendarai motorku menuju sekolah tercinta dengan semangat menggelora. Entah mengapa hari ini aku kembali bersemangat. Mungkin karena ada misi besar hari ini. Misi yang mempertaruhkan kebahagiaan Adikku tercinta. Aku yakin Pak Yadi pasti mau menerima Syifa.  Aku juga tidak tahu memperoleh keyakinan ini dari mana. Hehe, aku hanya bisa tersenyum sepanjang jalan. Sedangkan Syifa sudah berangkat 15 menit yang lalu juga dengan semangatnya yang pasti lebih menggelora.
Gerbang sekolah sudah kelihatan beberapa meter di depan dan langsung ku belokkan memasuki kawasan sekolah. Tepat di depan kantor banyak guru berkumpul dengan wajah panik. Langsung ku parkirkan motorku dan berhambur menuju keramaian tersebut. Kulihat di sana Syifa yang sudah tiba dari tadi terpojok terdiam lesu dan semakin membuatku bingung.
“Ada apa pak?” Tanyaku pada Pak Rizal salah satu staff Tata Usaha sekolah.
“Pak Yadi di penjara.” Jawabnya singkat.
“Loh kenapa?”
“Masih belum jelas, katanya gara-gara melakukan tindakan kekerasan” Tukasnya.
“Kok bisa?”
“Inilah pak masih belum jelas. Nanti pulang sekolah sama-sama kita jenguk.” Jantungnya berdegup kencang serasa memungkiri kejadian pagi ini. Namun, pancaran kesedihan lebih terlihat di wajah Syifa. Ia serasa kehilangan harapan, duduk termenung dengan mata berkaca-kaca. Harusnya aku mampu memberinya kabar gembira tapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Kasihan adikku. Ingin aku rasanya menguatkan hatinya, tetapi tidak mungkin aku lakukan saat sekarang ini. Pasti semua akan bertanya-tanya mengapa kami yang sangat merasa terpukul dan bisa memunculkan spekulasi negatif.
Hatiku benar-benar diliputi kegalauan hari ini. Aku kehilangan konsentrasi selama mengajar. Aku sadar sebenarnya tidak boleh menunjukkan wajah murung di depan anak-anak, tapi apalah daya Aku sangat tidak bisa membohongi mereka. Guratan kebimbangan dan duka terlukis jelas di raut wajah setengah tua ini. Mudah-mudahan nanti semua terjelaskan dan tercerahkan setelah bertemu dengan Pak Yadi di kantor polisi. Yang pasti, kami semua guru-guru di sekolah tahu bahwa Pak Yadi bukanlah tipe guru “killer”, orangnya sangat sabar dan penyayang. Ini pasti hanya kesalahpahaman.
***
“Tadi tepatnya jam istirahat pertama, Haikal mencoba memanjat pohon mangga di depan kelas II c. Saat sebelum itu terjadi memang saya sedang diliputi amarah Pak, jadi reflek aja Saya menjewer si Haikal. Mungkin terlalu kuat ya, hingga akhirnya dia ngadu ke Orang tuanya. Karena tidak terima langsung aja saya di gelandang kemari.” Penjelasan Pak Yadi di tengah-tengah kerumunan kehadiran kami sebagai teman-teman seprofesinya di tempat mengajar. Kembali Aku melihat Syifa masih tersudut menunduk seperti seorang tersalah atas peristiwa ini.
Terus terang saja, Aku merasa sangat konyol dengan aduan yang dipertuntutkan orang tua Haikal. Hanya gara-gara menjewer imbasnya ke penjara. Jika ku ingat-ingat, aku juga termasuk guru yang tidak jarang melakukan hal yang sama. Tidak hanya menjewer, terkadang menarik jambang atau mencubit anak-anak juga sering. Namun aku tersadar, bahwa Haikal adalah anak dari konglomerat sekaligus mafia ditakuti di kota ini. Kalau hanya mengutak-atik hukum di kota yang kecil ini tentu sangat tidak sulit baginya. Benar-benar aneh. Jadi teringat, dulu aku saat SD pernah lupa mengerjakan PR. Langsung saja guru marah-marah sambil memukulku dengan dua batang rotan seukuran telunjuk yang disatukan sampai membuat betisku merah dan tidak hilang memarnya selama 1 bulan, tapi tidak pernah aku laporkan ke orang tua. Sebab jika ku laporkan akan bertambah fatal, bisa jadi akan ditambahi dengan hukuman lain di rumah. Begitulah pendidikan di jaman ini, anak-anak sulit diajari mandiri.
Satu hal yang aku pahami, ternyata tepat tebakanku bahwa Pak Yadi bukanlah melakukan kejahatan besar. Ini hanya na’asnya beliau saja.
“Kami sudah berkomunikasi dengan pihak polisi.” Tukas pak Syakir kepala sekolah dengan nada agak berbisik kepada Pak Yadi. “Katanya Pak Yadi bisa bebas jika bisa membayar dua puluh juta. Jika Pak Yadi berkenan, kami sudah sepakat dan rela jika harus mengusahakan uang tersebut entah bagaimana caranya untuk membebaskan Pak Yadi dari sini.” Pak Syakir menawarkan bantuan kepada Pak Yadi dengan harapan ia mau menerimanya, tetapi alangkah sangat terkejutnya kami dengan jawaban Pak Yadi atas tawaran tersebut.
“Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman atas kehadirannya, tetapi untuk tawaran Pak Syakir tadi saya tidak bisa menerimanya Pak maaf. Saya menyadari bahwa memang sebenarnya sayalah yang bersalah atas kasus ini. Jadi, biarkan saja saya menjalani prosesnya. Saya sudah pasrah, jika memang harus dipenjara ya mungkin inilah teguran dari Allah agar saya lebih berhati-hati terhadap emosi saya.” Sontak jawaban Pak Yadi membuat kami terdiam dan malu. Ketakjubanku atas pribadi Pak Yadi semakin bertambah. Tidak salah jika Syifa benar-benar mendambakan sosok beliau dan Aku pun semakin yakin untuk meneruskan hajatku memintanya untuk menjadi imam bagi Syifa adikku. Aku juga teringat perkataan Pak Yadi yang mengutip dari sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Turmudzi “Sebaik-baik anak Adam bukanlah yang tidak pernah melakukan dosa, tetapi ia yang selalu bertaubat ketika melakukan dosa”.
Setelah panjang bercerita, kami pun berpamitan pulang untuk kembali ke rumah masing-masing. Aku berencana untuk menemuinya lagi dan membicarakan niat yang tertunda sejak tadi pagi. Setelah aku yakin semua keluar, beberapa menit kemudian aku pun kembali menuji ruang lobi untuk menemuinya. Namun ternyata, kulihat dari luar ia juga kedatangan tamu. Seorang wanita dengan anak seumuran kelas 3 SD. Mereka bercerita sepertinya menyenangkan hingga membuat wajah Pak Yadi berseri sekali. “Jangan-jangan mereka adalah istri dan anak Pak Yadi”, batinku.
Ku urungkan niatku, lagipula ini masa-masa yang tidak tepat untuk menanyakan hal semacam ini. Nanti sajalah ketika beliau sudah keluar dari buih. Aku sangat yakin Pak Yadi akan segera bebas. Hmm kasihan dia, begitu juga dengan Syifa. Sejak mengetahui kabar ditangkapnya Pak Yadi ia hanya bisa merenung dan meneteskan air mata.
Setibanya di rumah Aku langsung menemui Adikku. Ia sedang mengurung diri di kamar. Ingin ku ketuk pintunya, tapi ku tahan. Sudahlah, mungkin ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Namun tiba-tiba suara deritan pintu terdengar, Syifa keluar.
“Bang, Syifa lah yang menyebabkan Pak Yadi ditangkap. Syifa bersalah bang.” Ia menangis menunduk menggeletar, tentu membuatku terkaget tidak faham.
“Maksud kamu apa Syifa? Sini duduk, tenangkan hatimu lalu bicaralah!” Syifa memaksakan dirinya untuk berhenti menangis dan menahan guncangan hebat dari hatinya.
“Tadi pagi di jam istirahat pertama pas Syifa kembali ke kelas dari kamar mandi, Syifa liat sapu tangan Pak Yadi melayang dari lantai dua dari kelas III dan tersangkut di pohon mangga di depan kelas II c. Jadi, karena di situ ada Haikal, Syifa suruh Haikal memanjat untuk mengambilkan sapu tangan Pak Yadi yang tersangkut itu. Tapi tiba-tiba Pak Yadi datang dan marah-marah trus langsung jewer kuping Haikal. Syifa gak pernah liat Pak Yadi semarah itu bang. Syifa menyesal…” Syifa kembali menangis, kali ini semakin kencang. Badannya terguncang hebat karena isakannya, matanya pun semakin membengkak.
“Sudahlah Syifa, semua sudah terjadi.” Aku mencoba menenangkan.
“Jadi Syifa mesti gimana bang?”
“Ayo kita ke rumah Pak Jalal orang tua Haikal. Kita jelaskan kondisinya. Kita mohon agar beliau bersedia mencabut tuntutannya.”
“Kalo begitu ayo kita berangkat bang, sekarang! Syifa gak mau dihantui rasa bersalah terus.” Desak Syifa padaku agar Aku mengikuti ajakannya.
Kami pun berangkat menjelang maghrib itu pula. Ada perasaan takut yang menghampiriku, wajar saja. Jalal Abdi adalah mafia yang sangat terkenal. Semua orang segan padanya. Walau aku belum pernah bertemu dengannya, Aku bisa menebak pasti orangnya sangar. Ah biarlah, Aku siap menanggung apapun resikonya. Bismillah..
Tepat maghrib kami tiba di sebuah komplek perumahan yang dihuni oleh orang-orang kelas atas. Dan kabarnya di sinilah Jalal Abdi tinggal. Aku tidak tahu tepatnya yang mana, tapi Aku berencana akan bertanya pada warga setempat. Karena sudah maghrib, kami pun sholat di mushola di komplek perumahan megah tersebut. Kontras memang. Komplek yang dihuni puluhan orang kaya tetapi tempat ibadahnya hanya mushola yang bisa dikatakan tidak cukup besar. Kurang lebih hanya berkapasitas 50 jamaah. Mungkin disesuaikan dengan jumlah penduduk di komplek itu, terbukti jamaah sholat maghribnya pun tidak begitu ramai, hanya 2 shaff tidak penuh.
Dengan berusaha khusyu’, sholat maghrib pun dilaksanakan. Memang cukup sulit bagiku untuk mengkhusyu’kan sholat apalagi saat ada tekanan seperti ini. Ah itu tidak penting, sekelas Ali bin Abi Thalib saja pun ketika dites kekhusyu’annya oleh Rasul beliau gagal. Lagipula khusyu’ tidak menjadi bagian dari rukun sholat. Sebagai manusia kita hanya berusaha, ikhtiar untuk beribadah sebaik-baiknya. Urusan diterima atau tidak, itu hak prerogatifnya Allah. Saat sholat selesai, Aku menegur sang imam sholat tadi. Wajahnya sangat tawadhu’, badannya kurus. Ia sedang berbincang dengan seorang salah satu makmumnya tadi. Ia juga kelihatan ramah sekali karena sangat mudah tersenyum. Temannya berbadan gemuk tinggi. Kulitnya gelap.
“Maaf pak, numpang Tanya!” Aku sambil menyodorkan tangan mengajak bersalaman. Bergantian, setelah sang imam juga ku salami teman bicaranya tadi.
“Oh iya, ada apa pak?”
“Hmm gini, rumah Pak Jalal yang mana ya?” Tanyaku sambil menunduk sebagai rasa sopan santunku. Namun mereka tertawa.
“Beliau inilah pak Jalal Abdi.” Sang imam menunjuk pria berbadan gemuk, tinggi dan berkulit gelap tadi. Tentu saja aku kaget. Badanku serasa menggigil seketika. Tapi pria tersebut masih saja dengan ramahnya melemparkan senyuman padaku.
“Maaf pak!” Aku mencoba memaksa diri untuk senyum. Tanpa basa-basi aku langsung memanggil Syifa dan memberitahukan bahwa beliaulah Jalal Abdi. Ternyata tidak seperti tebakanku, Jalal Abdi ini orangnya sangat welcome. Kami pun bercerita panjang lebar terkait peristiwa yang terjadi tadi pagi sampai ke perkara Pak Yadi di penjara. Namun, yang membuat kami semakin kaget ternyata Pak Jalal tidak mengetahui masalah ini.
“Ini pasti kerjaan si Tomtom. Maaf ya bapak dan ibuk. Walaupun anak saya dijewer, kalau dia salah saya gak akan pernah sampai marah-marah gak jelas. Aduh, bangsat ni Tomtom! Ya sudah nanti saya urus pak. Bapak dan Ibuk tenang aja. insyaAllah malam ini juga Pak Yadi sudah bebas.” Pak Jalal meyakinkan kami. Tentu saja kami sangat senang. Aku pun mengajak Syifa untuk pulang, tapi ia menolak dan belum puas sebelum melihat Pak Yadi benar-benar keluar. Maka kami pun memutuskan untuk membuntuti Pak Jalal, dan benar. Pak Jalal sangat serius dengan ucapannya tadi. Hingga kamipun mengikutinya sampai ke kantor polisi dan melihat Pak Jalal membebaskan Pak Yadi. Kami pun pulang dengan wajah sumringah. Tapi Aku baru tersadar dengan kejadian sore tadi. Siapa sebenarnya orang yang menjenguk Pak Yadi. Ah, besok aku akan tanyakan di sekolah. Karena misiku masih belum selesai.
***
“Apa Pak Yadi udah nikah?” Tanyaku pada seseorang yang kukagumi sosok kepribadiannya. Aku mendambakan memiliki adik ipar sesholeh pria tersebut.
“Eh belum pak..” jawabnya cepat melegakan pikiranku. Alhamdulillah.
“Trus, udah siap nikah gak?”
“Wah itu lah pak..” Malu-malu.
“Saya serius loh pak.” Aku meyakinkannya.
“Gini pak Sholeh, InsyaAllah saya udah siap. Tapi saya ragu.” Pak Yadi mencoba merapikan duduknya dan mencoba serius. Memang ini yang Aku harapkan. Kemudian ia melanjutkan.
“Ada wanita yang saya kagumi, cuma saya masih bingung bagaimana cara memulai untuk mengutarakan keseriusan saya menyuntingnya”. Degg, harapanku pupus.
“Siapa memangnya pak?” sahutku.
“Saya gak tau namanya, tapi saya yakin orangnya sholehah. Mama angkat si Topo Lukito siswa kelas tiga, pak.” Benar-benar hancur harapanku. Fokusku hilang dan sudah tidak bisa ku cerna lagi apa yang diucapkan Pak Yadi berikutnya. Akhirnya akupun undur diri dengan pura-pura ada keperluan. Berarti ia bukan jodoh Adikku. Kasihan Syifa. Ya Allah kuatkanlah Adikku menerima semua kenyataan ini. Aku tidak mau membuat Syifa berharap terlalu lama. Langsung ku SMS ia.
“Syifa, Pak Yadi sudah berniat mempersunting wanita idamannya. Sudahlah, nanti Abang carikan yang lain. Mudah-mudahan orangnya lebih baik.”
Sengaja Aku SMS dia karena jika ku katakana langsung di depannya Aku tidak sanggup harus melihat wajahnya diliputi kekecewaan. Sudah teramat banyak penderitaan yang dialaminya. Akupun berencana mengelak untuk bertemu dengannya dengan bersengaja pulang larut malam. Harapannya saat Aku pulang dan ia sudah tertidur. Tapi tidak sesuai harapan, ternyata ia telah menungguku sedari tadi.
“Abang gak perlu mengelak dari Syifa.” Syifa nyeletuk dengan senyum kecil di wajahnya. Tapi aku tahu, itu hanyalah tipuan. Senyum ikhlasnya tidak begitu. Aku hanya terdiam seribu bahasa.
“Syifa udah siap kok apapun jawabannya. Syifa udah pasang mental sehebat baja. Jadi Abang gak perlu ngerasa gak enak gitu. Syifa juga yakin, harapan manusia tidak selamanya paling baik. Jadi, tidak harus seindah asa. Meskipun resikonya agak menyakitkan.”
“Alhamdulillah, berarti adik kecil abang udah semakin tegar sekarang. Abang janji, akan carikan yang labih manteb.” Hiburku sambil mencubit pipi kanannya.
“Manteb?” Dahinya mengerut.
“Manteb sholehnya, manteb gantengnya, manteb semuanya deh. insyaAllah….heheh” Aku pun mencoba menghiburnya agar tidak terlalu galau.
***
1 minggu kemudian.
Entah ada angin apa, Pak Syakir meneleponku dan menyuruhku ke rumahnya malam-malam begini. Pas ditanya beliau malah berkata, “Datang aja, ada keperluan yang gak seru banget kalau dibicarakan melalui telepon!” Ya sudahlah, nurut saja. Siapa tahu ada rezeky nomplok pikirku.
“Gini pak sholeh, langsung aja ya tanpa basa-basi. Kebanyakan basa-basi malah asem nanti.” Canda beliau yang ku sahuti dengan senyuman. Kemudia beliau melanjutkan.
“Biasa tiap malam selasa, saya kan ngisi pengajian. Jadi, malam selasa lalu salah satu murid pengajian saya ada yang ngebet nikah. Dia tsiqoh sama pilihan saya siapa aja. Nah, kebetulan Pak Sholeh ini kan walinya Ibuk Syifa Shalihah. Saya pikir ini akan menjadi pilihan tepat nantinya. Jadi kira-kira gimana kalau kita proseskan saja mereka.” Aku tercengang, tidak mampu menerjemahkan perasaanku sendiri. Harus bagaimanakah Aku baiknya. Aku sama sekali tidak meragukan pria yang dipilihkan Pak Syakir itu. Pak Syakir adalah sosok yang sangat disegani, banyak ilmunya. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya dengan baik sampai S2 di Al-Azhar Kairo. Kesholehannya pun tidak diragukan. Aku hanya bingung dan bimbang, apakah Syifa bisa cocok dengan pilihanku ini jika ku iyakan. Walau sebenarnya Syifa sudah mempercayakan sepenuhnya ke Aku. Dia yakin dengan pilihanku.
“Sebenarnya pak, Syifa memang sudah siap secara lahir dan bathin jika harus menikah. Dan ia sudah mempercayakan semuanya pada saya untuk mencarikan pendamping hidupnya. Tapi saya masih punya ketakutan pak.”
“Ya kan bapak gak mesti menjawab sekarang. Dikonsultasikan baik-baik ke buk Syifanya. Pernikahan itu gak bisa langsung bilang iya dan menerima begitu saja. Harus menjalani prosesnya secara syar’i dan sehat.” Jelas Pak Syakir.
“Betul itu pak, ngomong-ngomong siapa laki-laki itu? Apa saya kenal pak?” Aku mulai penasaran.
“Pak Sholeh pasti kenal, namanya Aman Hariyadi salah satu guru kita juga.”
“Kalau begitu saya SETUJU.” Pak Syakir bengong.

The End.

Rabu, 21 Januari 2015

Sepenggal Suka Duka Seorang Guru (bagian akhir)

“Kurang ajar kau ya, binatang kau, …..!” Ada banyak makian yang tak layak disebutkan dari mulutnya. Sengaja aku menyensornya di sini. Aku hanya tak mengerti apa-apa. Rahangku, sakit sekali, serasa patah akibat pukulan pria kekar yang berpenampilan seperti preman itu.
Dengan cepat, polisi tadi memborgol dan membawaku secara paksa untuk masuk ke mobil yang mereka kendarai. Aku masih tak tahu dan bingung.
“Ada apa ini pak?” Aku mencoba bicara dengan paksa karena masih terasa sakit sekali rahangku. Tanpa sadar air mataku keluar. Aku linglung, seperti mendadak menjadi gila. Aku tak mengerti dengan semua ini dan sangat tidak menduga peristiwa seperti ini akan menimpaku. Mereka tidak menggubris pertanyaanku, sementara aku masih menduga-duga kesalahan apa yang telah kulakukan hingga berakibat seperti ini. Ya Allah kuatkan hamba-Mu.
***
Sesampainya di kantor polisi akupun diinterogasi oleh salah seorang petugas kepolisian berwajah ramah penuh senyum, tidak seperti polisi yang digambarkan dalam sinetron-sinetron yang selalu mengidentikkan petugas polisi dengan wajah sangar. Dari seragam yang dikenakannya aku bisa mengetahui namanya Edi Prabowo, tertulis jelas di atas saku kanannya. Orang Jawa. Proses interogasi pun dimulai dengan memastikan identitasku dan menyampaikan hal yang membuatku kaget setengah mati.
“Aman Hariyadi, Anda telah dituntut oleh keluarga Bapak Jalal Abdi karena telah melakukan tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap anaknya di sekolah. Anda dikenakan pasal berlapis tentang penganiayaan dan tindakan kekerasan KUHP pasal 335 dan 351. Anda terancam dipenjara paling lama lima tahun.” Aku seperti disambar petir. Aku harus mendekam di penjara selama lima tahun? Benarkah? Seketika itu pula aku mencoba mengingat-ingat kejadian pagi tadi di sekolah. Iya, aku menjewer kuping si Haikal. Masa sih aku masuk penjara hanya gara-gara menjewer kuping? Aku terus bertanya-tanya tapi tak bisa berkomentar apa-apa. Beberapa detik kemudian datanglah pria kekar yang tadi memukulku.
“Hey guru bejat, berani-beraninya kau cari masalah sama keluarga Bang Jalal ya? Kau tau gak siapa Bang Jalal itu? Jawab!” Dia membentak sambil mendorong kepalaku keras sampai membuatku hampir terjatuh dari kursi panas ini, tapi masih saja aku tak bisa berucap apa-apa.
“Udah Bang, tinggal aja! Biar ku selesaikan tugasku.” Cegah pak polisi yang tadi menginterogasiku dan preman itupun berlalu sambil menatapku sinis seperti hendak melumatku.
“Pak polisi?” Aku mencoba membuka mulut.
“Ada apa?”
“Siapa sebenarnya dia itu? Apa polisi juga?” Aku sungguh penasaran dan pak polisi pun menarik nafas panjang sebelum menjawabku.
“Bukan, dia adiknya Jalal mafia terkenal itu. Ayah dari anak yang anda pukul.” Jawabnya dengan penuh kesal, terlihat dari ekspresinya.
“Pak, saya tak pernah memukul murid-murid saya. Saya hanya menjewernya karena saat itu sedang lepas control. Tidak pernah sebelumnya saya main fisik begitu pak.” Kembali aku menjatuhkan air mataku. Tiba-tiba aku teringat mamak, bapak, dan adik-adikku di kampung. Pasti mereka akan sangat khawatir jika tau aku di sini. Aku rindu sekali dengan mereka. Aku ingin mengadu dan menangis di pangkuan mamak. Usahaku selama ini mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta, berkorban harta, waktu dan tenaga. Mati-matian dengan gaji kecil, harus berakhir di penjara.
“Berdasarkan aduan yang kami terima, anda telah menganiaya dan menyiksa korban hingga mengakibatkan anak tersebut luka di bagian telinga, wajah, punggung dan kaki.” Jelasnya
“Astaghfirullah, itu fitnah pak. Bagaimana mungkin jeweran saya berimbas ke bagian tubuh yang lain.” Penjelasanku nampak sia-sia, polisi tersebut tidak menunjukkan wajah belas kasihan sama sekali padaku. Aku hanya terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya memohon padanya agar tidak memberikan informasi ini kepada keluargaku di kampung. Awalnya ia menolak tetapi pada akhirnya dituruti juga. Aku hanya tidak sanggup bila kabar buruk ini membuat susah keluargaku yang memang sudah susah dengan permasalahan hutang-piutang. Bisa menjadi bencana besar pastinya.
Sampai tengah malam ini air mataku terus meleleh, di tengah jeruji besi aku meratapi nasib diri. Nasi bungkus yang disediakan oleh petugas sejak maghrib tadi masih teronggok di sudut bui. Nyaris hilang selera makanku, semakin gelap pandangan dan akal ini serasa berhenti pada satu titik gelap tak berarah. Seperti yang dikatakan pak Edi tadi, aku harus menjalani masa kurungan sembari menunggu jadwal sidang dari kejaksaan negeri.
Tiba-tiba keluar juga bibit-bibit pemberontakan di hatiku. Kemana semua teman-teman mengajarku, kepsekku? Apa mereka lepas tangan dengan masalah ini. Tidak mungkin kabar ini tidak sampai ke mereka. Aku adalah guru di sana. Guru sah di bawah yayasan yang sah dibuktikan dengan SK. Sekolah pasti terseret dengan masalah ini. Astaghfirullahal ‘adzhiim, aku telah berprasangka buruk dengan mereka. Aku harus menata hatiku, menjernihkan pikiranku. Mungkin mereka memang belum berkesempatan kemari atau ada hal lain yang diprioritaskan. Mereka adalah rekan-rekan terbaik, aku ingat betul kebaikan-kebaikan mereka selama ini. Kepala sekolah adalah sosok pimpinan yang mampu menjadi teladan. Ibadahnya, akhlaknya, kebijakannya dan kecerdasannya. Aku percaya beliau tidak akan tinggal diam. Hanya saja mungkin sedang menyiapkan langkah yang tepat.
“Heh Yadi!” Seorang petugas polisi menemuiku, kali ini beda dengan yang tadi menginterogasiku. Mengenakan kaos abu-abu dan celana lapangan. Aku tak menjawab, hanya mengarahkan pandanganku ke matanya.
“Kau mau bebas?” Aku masih tak menjawab, hanya menunduk.
“Kalau bisa kau siapkan 20 juta, aku bisa mengeluarkanmu dan menghapus segala bentuk tuntutan terhadapmu”. Aku hanya mengerutkan dahi sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Pastinya juga mempertimbangkan tawaran dari pria jangkung berkumis tipis itu.
“Anda bisa jamin bebas?” Aku mencoba mencari kepastian.
“Aku jamin, kalau malam ini ada pun bisa ku keluarkan kau.”
“Aku pasti bebas, aku tidak bersalah. Aku bisa memenangkan persidangan.” Aku meyakinkan.
“Heh, kau sadar gak bermasalah sama siapa? Kau itu bermasalah sama orang yang Aparat sendiri gak berani berkutik sama dia.” Aku terdiam dan langsung mengalihkan cara pandang. Dari mana aku bisa mendapat 20 juta itu. Tidak mungkin ada yang mau menghutangiku sampai sebanyak itu. Lalu, apa tidak berdosa aku menyuapnya. Polisi itu pergi, aku diberi waktu berpikir selama 24 jam. Setelah itu ia tidak bisa lagi menjamin bebas. Beginilah negeri ini, yang punya kelebihan harta bisa berbuat seenaknya memlintir-mlintir hukum.
***
Aku semakin sadar, emosi tidak boleh menguasai diri ini. Kecil yang dilahirkan emosi, tapi dahsyat dampaknya. Aku mulai berpikir jernih dan terus introspeksi. Orang tua Haikal tidak bersalah. Ini adalah respon yang wajar bagi seorang yang mencintai buah hatinya. Berlebihan bagi seorang pendidik sepertiku melampiaskan emosi pada anak-anak yang memiliki kecenderungan bermain-main sebagai kebutuhan mereka. Aku pun terus memperbanyak istighfar. Aku telah memutuskan tidak akan menyuap polisi itu. Aku rela jika harus dipenjara 5 sampai 7 tahun. Mungkin dengan inilah Allah akan mengampuni dosaku.
Seorang polisi mendekati sel tempatku dikurung sambil menyodorkan kunci sebuah lubang pintu penjara. Ia membukanya.
“Ada yang mau ketemu tuh!” Ketusnya. Akupun keluar menuju ruang lobi. Tepat seperti perkiraanku. Semua teman-teman mengajarku datang menjengukku. Aku terharu sekali. Mereka mencoba menguatkanku dan berusaha akan mengeluarkanku dari sel ini tapi aku menolak. Aku sudah memutuskan untuk menjalani semua prosesnya. Biar Allah yang memutuskan. Ingin sekali bisa lebih lama bersama mereka, tapi tidak mungkin. Mereka juga memiliki kesibukan lain hari ini. Akupun kembali ke sel. Tak berapa lama, polisi yang tadi menghampiriku lagi.
“Ada tamu lagi tu!” Sinisnya.
“Siapa pak?” tanyaku.
“Ah, mana lah aku tau.” Bentaknya
“Gitu aja pake bentak pak..pak…”
“Ya kau pikirlah, kenal aja pun enggak aku sama kau.” Aku hanya tersenyum. Tersenyum bukan karena jawabannya. Aku memikirkan hal lain, “Benar juga ya, kalau lah polisi itu kriterianya seperti mau menjadi pramugara pramugari pasti udah banyak yang datang kemari minta ditangkap. Hehehe. Tapi tunggu dulu, kira-kira siapa ya? Apa mungkin Mamakku. Tidak mungkin, aku sudah berpesan untuk tidak mengabarinya. Ah langsung sajalah.
“Yadi!” Polisi tadi memanggilku hingga membuat langkahku tertahan.
“Ya pak?” Sahutku.
“Cewek cantik tu yang datang,tapi dah ada anaknya.” Aku terperanjat, jangan-jangan… iya betul, Mama Topo. Aku masih mengintip dari balik pintu tak berdaun yang memisahkan bilik-bilik kurungan dengan ruang lobi tempat Mama Topo dan Topo berada. Duduk gelisah menunggu seseorang. Aku pun kepedean, hihihi. Ku tata hatiku, ku hilangkan gengsi dan kurapikan rambutku. Eakkkk…..
“Assalamu’alaikum?” Sapaku pada gadis berjilbab lebar berwarna pink yang kelihatan memancarkan aura kesholihannya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Jawabnya dan Topo langsung menyodorkan tangannya menyalamiku.
“Tadi siang saya mengantar makan siang Topo ke sekolah, saya lihat seperti ada kericuhan dan saya mencari tahu ternyata Pak Yadi di sini.” Terangnya dan aku pun menjelaskan semua kejadian yang ku alami. Hingga pada akhirnya Ia mengatakan sesuatu yang membuatku semakin takjub.
“Saya bisa bantu mengeluarkan Pak Yadi dari sini.”
“Aduh, gak usah buk. Saya mengakui kesalahan saya kok. Memang saya yang bersalah.” Saya mencoba menolak dengan merendahkan diri.
“Ingat, Pak Yadi punya keluarga dan Pak Yadi juga punya kewajiban mendidik Topo dan anak-anak lainnya. Itu juga harus jadi prioritas.” Ia terus memaksakanku agar menerima tawarannya. Mana mungkin aku menerimanya, aku sudah memutuskan akan menjalani semua prosesnya. Dan aku punya alasan besar mengapa harus menolaknya. GENGSI. Oleh karena aku terus menolak, akhirnya ia pun menyerah.
“Ya sudah kalau Bapak tidak mau menerima tawaran saya, saya juga tidak mungkin memaksa. Oh iya, ini pak kami membawa sedikit makanan untuk bapak.” Ia menyodorkan rantangan plastik tempat makanan. Aku tidak tahu isinya, hanya menebak-nebak sambil berbunga-bunga.
“Wah jadi merepotkan ini buk.” Aku berbasa-basi, padahal mau.
“Ah enggak koq, sekalian aja tadi.” Ia pun menjawab basa-basiku. aku terdiam di hadapan Mama Topo, tidak tau harus ngomong apa lagi, bingung. Untuk menghilangkan kekikukanku aku langsung beralih ke Topo untuk bertanya-tanya seputar sekolah hari ini dan lain-lain.
“Pak, kami pamit dulu ya. Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberi yang terbaik buat Pak Yadi. Assalamu’alaikum?” Pamitnya sambil berlalu pergi, aku masih memandanginya sampai di ujung pintu keluar. Darahku berdesir kencang, karena kejadian detik-detik beralalunya Mama Topo. Dia menoleh. Hadeuhhh….. Rontok jantungku rasanya. Astaghfirullahal’adzhiim, ini syetan. Makhluk la’natullah telah berhasil menghiasi wanita yang kulihat agar goyah imanku. Langsung aku mengucap ta’awudz tiga kali.
***
Aku kembali ke bui dan langsung membuka rantang yang diberi oleh Mama Topo, kulihat di dalamnya ternyata berisi nasi dan sop ayam lezat. Sedap sekali.
“Pak, dapat rezeki ini. Ayuk makan bareng!” Ajakku pada seorang petugas yang sejak pagi tadi menungguku di sini.
“Enak gak?”
“Wah, yo enak toh pak. Mriki lah!” Dia kemudian tak segan membuka sel untuk bergabung bersamaku makan sop lezat buatan Mama Topo. Dalam sekejap kami pun jadi akrab. Nama beliau Dedi Prabowo, adiknya Pak Edi Prabowo yang kemarin menginterogasiku. Aku tak tahu dan tak mau tahu kenapa mereka kakak beradik bisa di tempat kerja yang sama. Suasana kami semakin cair, dikarenakan sama orang jawa. Kami dengan aktif berkomunikasi dengan mengguanakan bahasa daerah yang menurutku bahasa daerah tersopan yang pernah ku ketahui. Ya setuju atau tidak, itu kan menurutku. Hehehe, bukan deskriminatif loh.
Pak Dedi bercerita bahwa ia dan kakaknya sudah tidak betah bekerja di kawasan yurisdiksi kota ini. Sangat kotor. Terlalu banyak permainan dan kolusi “merajalela”. Enak bener si Lela jadi raja. Eh, jadi ngawur. He, Pantas saja kemarin saya bisa lihat wajah ketidaksenangan Pak Edi saat adik si Jalal main hakim sendiri hendak memukulku. “Sabar-sabar lah Di, Aku sih sakjane lebih percoyo karo kuwe. Laporan wong iku pasti digawe-gawe sak pena’e udele dewe.” Pak Dedi menguatkanku untuk bersabar dan secara moril mendukungku. Aku jadi terhibur. Senengnya…
***
Pukul 21.18 wib di kantor polisi. Aku masih terduduk di atas tikar bersandarkan dinding semen yang warna catnya sudah pudar penuh coretan. Aku mencoba memuroja’ah (mengulang-ulang) hafalanku di juz 29. Mulai dari surah Al-Mulk, Al-Qolam, Al-Haqqoh sampai Al-Mursalat. Hening sekali, terasa benar nikmat Allah yang telah mengalir selama 26 tahun ini di tubuhku. Air mata pun tak terbendung lagi, terisak aku. Namun, aku tersentak tiba-tiba ketika seorang polisi –bukan Pak Dedi- memanggilku. Dia adalah polisi yang mendapat shift malam berjaga di polres kota ini. Polisi yang menawarkanku bebas jika mampu membayar 20 juta, tapi aku menolak.
“Hey Yadi, bangun! Ada yang mau ketemu itu.” Ia mengiraku tertidur, padahal memejamkan mata untuk memperoleh kekhusukanku membaca ayat-ayat cinta-Nya.
“Siapa pak?”
“Hati-hatilah kau, Bang Jalal sama Tomtom adeknya yang datang.” Jelas saja aku terkaget. Adiknya saja kemarin tidak segan-segan menghajarku, ini orangnya langsung. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Kencang sekali. Aku tak tahu harus apa dan bagaimana. Sesaat lagi akan berhadapan dengan kepala mafia. Kasian tubuh kerempengku. Ah sudahlah, pasrah saja, aku yakin Allah Maha Melihat dan menolong hamba-Nya yang teraniaya. Langsung ku langkahkan kakiku dengan mantab menuju lobi. Terlihat di sana dua tubuh kekar yang sepertinya telah bersiap memangsa tubuh kurusku. Benar saja, yang seorangnya adalah yang menghajarku kemarin tetapi nampak sedikit berbeda, di wajahnya seperti ada lebam bekas pukulan tepat seperti di wajahku, dan yang satu lagi pasti si Jalal itu. Sebentar kemudian, tepatlah aku berdiri di hadapan mereka. Deg….
“Assalamu’alaikum, Anda Pak Yadi gurunya Haikal?” Tanyanya dengan bahasa yang sangat sopan dan santun. Tidak seperti dugaanku. Aku terperanjat.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah, iya benar pak. Bapak ayahnya Haikal ya?” Aku semakin kaget ketika tanpa basa-basi ia memelukku dan tak berapa lama dilepaskannya.
“Pak, maafkan adik saya. Demi Allah saya tidak tahu kalau bapak mendekam di sini karena tingkah adik saya.” Keherananku semakin bertambah.
“Maksudnya?” Tanyaku heran.
“Tom, sini kau! Sekarang minta maaf sama Pak Yadi. Cepat! atau mau kupukul lagi kau!” Ayah Haikal mengancam, dan sejurus kemudian Tomtom menjulurkan tangannya untuk bersalaman dan meminta maaf padaku. Aku pun membalasnya dengan wajah masih keheranan tingkat dewa. Lebay. Tingkat tinggi. Kemudian ia disuruh Ayah Haikal untuk menunggu di mobil.
“Begini pak, semua ini ulah adik saya. Dia itu memang sering buat kesal saya. Dia sering menggunakan nama saya untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas sekalipun” terangnya.
“Kenyataannya khan saya memang menjewer Haikal pak.”
“Alahh pak..pak… saya gak pernah mempermasalahkan jika ada guru yang mau menghukum Haikal jika dia memang salah. Itulah alasannya kenapa saya pindahkan Haikal dari sekolah yang lama. Semua guru takut menghukumnya karena tau dia anak saya. Bahkan Saya malah kagum sama orang yang memegang tinggi idealismenya tanpa rasa takut dengan bayang-bayang latar belakang apapun.”
“Jadi..?”
“Bapak malam ini juga bisa bebas, saya akan mengantarkan bapak pulang dan akan mengganti rugi berapapun yang bapak minta. Tapi mohon maafkan kami pak.” Aku tidak tahu mau berekspresi apa. Senang atau kesal.
“Saya bisa maafkan koq pak.” Aku mencoba tersenyum menatap wajah seorang Ayah yang terlihat begitu besar ketulusannya meminta maaf.
“Terima kasih pak, terima kasih!” Dia tiba-tiba meraih kedua tanganku dan menciumnya. Aku berusaha menarik dan menolaknya tapi tenagaku tak cukup.
“Pak tidak perlu begitu pak, saya jadi gak enak.”
“Saya memang dikenal sebagai seorang mafia, tapi saya sangat menghargai guru pak. Ayah Ibu saya dulu juga seorang guru, saya benar-benar merasakan bagaimana perjuangannya. Kerjanya keras, tak kenal waktu tapi gajinya sangat tak layak. Saya kagum masih ada manusia yang mampu bertahan menjadi guru dengan kondisi sesusah itu. Makanya saya ngerasa bersalah kali pak dengan tindakan adik saya.” Matanya berkaca-kaca dan aku hanya menghela nafas kembali mencoba tersenyum.
“Saya juga merasa berterima kasih pak. Karena dengan kejadian ini saya sadar harus berpikir masak-masak sebelum melampiaskan emosi yang asalnya dari syetan itu.” Kamipun beranjak meninggalkan kantor polisi itu. Mereka pun mengantarkanku sampai ke kos. Aku menolak semua tawaran yang diberikan. Bukan sok baik, guru adalah guru. Digugu dan ditiru. Kalau selama ini aku mengajarkan untuk menolong dan memaafkan tanpa pamrih, di sini aku juga harus bisa melakukannya walau syahwat keduniaanku benar-benar menolak. Aku bahkan bersyukur, memperoleh tarbiyah secara langsung dari Allah. Di perjalanan aku sempat bertanya perihal bagaimana ia bisa tahu bahwa aku dipenjara karena adiknya. Dia hanya mengatakan bahwa ba’da maghrib tadi ada seorang gadis yang datang ke rumahnya memohon untuk menarik tuntutannya. Namun, ia merahasiakan identitasnya sesuai permintaan gadis tersebut. Aku hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan…. Ah siapapun dia semoga Allah memurahkan rezekinya, memudahkan urusannya dan tercapai harapannya.
***
Ku hirup nafas panjang sembari mengerahkan seluruh potensi jasadku, dari yang kasat mata sampai yang tak kasat mata untuk mensyukuri nikmat illahi yang mengalir di tiap sendi-sendi kehidupanku. Aku sudah kembali lagi ke sekolah. Aku sudah sangat merindukan anak-anak. Dua hari kulalui di kurungan tapi seperti sudah dua tahun. Aku berniat untuk bicara secara pribadi dengan Haikal hari ini.
Ku sambut anak-anak yang datang, mereka tersenyum-tersenyum lugu melihatku. Ku balas juga dengan senyuman tulus penuh kasih pada mereka. Indahnya... senyum mereka memang pengobat luka yang ampuh bagiku. Apalagi senyumnya Xena, manis sekali. Dia anak ekspresif yang jika melakukan pola apapun pasti totalitas termasuk ketika senyum. Meskipun gigi serinya agak hitam.
Aku berjalan masuk menuju kelas, kupandangi setiap inci sudut ruangan dan agak kaget ketika melihat di atas meja ada sapu tangan yang hilang dua hari lalu. “Siapa ya yang menemukannya?” batinku bertanya. “Ah barangkali kemarin tidak kelihatan dan sekarang baru kelihatan” akupun menjawab sendiri.
Pelajaran ku mulai dengan cerita-cerita lucu dan mengikuti gerak-gerak cerita yang kukarang demi membuat senyum anak-anak mengembang. Semuanya riang dan senang. Namun tidak dengan Topo. Sedari tadi dia tidak meresponku. Biasanya dia selalu nyeletuk di sela-sela ceritaku, tapi kali ini beda. Nantilah di jam istirahat akan ku tanyai.
***
Jam istirahat pun tiba,
“Silakan semua anak-anak bapak berwudhu dan sholat dhuha ya!” Topo masih terduduk di kursinya, aku pun menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Pak?” sebelum ku mulai bertanya, dia sudah memulai terlebih dahulu.
“Saya, ada apa nak? Koq belum bergerak wudhu? Ada masalah ya?”
“Tadi mama ada nitip sesuatu, tapi males mau ngasih ke Bapak.”
“Emangnya apa yang dititip?” Aku benar-benar penasaran.
“Anu, pak…” Terpotong ucapannya.
“Anu apa?” Aku kembali menyerang.
“Undangan nikahnya Mama. Tapi udah saya buang.” Dhuarrr, seperti tersambar petir aku mendengarnya. Ternyata, dia bukan…..
“Mama mau nikah sabtu depan. Saya juga gak tau kalau mama dah mau nikah. Padahal saya cuma mau pak Yadi yang jadi Ayah Topo.” Dia menjelaskannya dengan nada yang lemas sekali. Tak kuasa aku melihatnya. Begitu juga dengan hatiku, kecewa. Tapi, buat apa juga aku kecewa. Aku saja yang selama ini kepedean. Hadeuh…
“Oh, kirain ada masalah apa. Nak, ada tiga hal dalam hidup ini yang hanya Allah yang tahu. Rezeki, Jodoh dan Maut. Jadi, sekuat apapun kita berusaha tapi jika ketentuan Allah beda ya kita harus bisa terima.” Aku mencoba menghiburnya, meskipun sebenarnya aku berusaha menghibur diriku sendiri. Emaakk…..
“Ya sudah, sekarang berwudhu sana! Sholat dhuha dan berdoa sama Allah semoga Ayah Topo nantinya mampu menjadi Ayah yang terbaik.” Aku mengelus-elus kepalanya dan ia pun bergegas ke tempat berwudhu. Aku mendadak tersenyum sendiri, teringat saat Topo menawarkanku jadi Ayah di rumahnya. Skenario Allah memang fantastis. Dahsyat….
“Haikal udah sholat?” pandanganku beralih ke Haikal yang sedang duduk di mejanya menyantap jajan bawaan dari rumah. Maklum, di sekolah ini dilarang membawa uang jajan kecuali uang ketring untuk makan siang. Ini dibiasakan agar anak-anak tidak mengkonsumsi makanan tidak sehat dan menghindari adanya kecemburuan sosial terhadap anak yang mampu dengan anak yang kurang mampu.
“Udah pak?” Jawabnya singkat dan aku menuju ke tempat duduknya.
“Maafin bapak ya nak yang kemarin itu! Bapak khilaf sampe harus menjewer Haikal.” Aku mengelus-elus kepalanya untuk menunjukkan bahwa aku menyayanginya. Membuktikan bahwa aku sangat menyesali perbuatan tersebut.
“Gak papa pak.” Jawabnya lagi singkat.
“Gak boleh ya nak manjat-manjat pohon itu! Berbahaya loh. Kalau nanti Haikal jatuh kan ada banyak orang yang menjadi cemas, termasuk bapak. Mainan khan banyak, gak harus manjat-manjat.”
“Anu pak, sebenarnya ada yang mau saya ambil.” Jelasnya tanpa melihat ke arahku. Dia tampak malu-malu.
“Hmm, ngambil apa? Mangga?”
“Bukan pak!” Tegasnya.
“Jadi?” serangku lagi.
“Sapu tangan bapak. Waktu itu terbang keluar kelas trus nyangkut di pohon itu.” Langsung aja jawaban Haikal meluluhkan hatiku. Air mataku keluar, aku menangis haru dan sesal. Aku tersadar, kenapa aku tidak bertanya padanya terlebih dahulu waktu itu. Aku benar-benar zhalim. Ku peluk haikal erat. Aku sesenggukan di depan anak-anak. Mereka heran denganku, semua mata tertuju padaku tapi aku tak peduli. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat.
“Maafkan bapak ya nak, bapak benar-benar jahat.” Masih ku peluk Haikal, dia tidak bisa berkutik. Diam saja. Namun, semuanya buyar ketika seorang anak nyeletuk.
“Eh liat, ingus Pak Yadi keluar!” Xena. Gubrak!!!
“Xeeeenaaaa!!!!”


Tamat.