Aku memang
melihat ada gelagat aneh adikku belakangan ini. Semangatnya luar biasa,
membuatku iri saja. Berangkat mengajar cepat kurang cepat, bahkan ketika pulang
pun lama kurang lama. Ingin rasanya Aku meminta kiat darinya agar Aku pun bisa
sesemangat dia. Membayangkan sekolah saja sudah membuatku penat dengan segala
macam jenis pekerjaan yang serasa terus semakin membebaniku. Apa lagi kalau
sudah bertemu dengan anak-anak, “haahhh” mau pecah rasanya isi kepala ini.
Ingin segera keluar dari sekolah ini, tapi bingung juga mau kerja apa. Jaman
sekarang bukannya mudah mendapat pekerjaan walaupun sudah sarjana. Seno, Waras,
dan Izul, mereka semua teman kuliahku dulu, sekarang hanya bekerja sebagai
tukang becak motor. Tiba-tiba
jadi teringat nasihat Pak Yadi guru baru di sekolah.
“Titel
Sarjana Pendidikan itu bagi saya adalah amanah pak Sholeh, jadi akan sangat
berdosa rasanya kalau saya enggan untuk mengajar. Sebab, mungkin dengan
lulusnya kita di jurusan pendidikan telah menyingkirkan orang lain yang
sebenarnya memiliki keinginan yang kokoh untuk jadi guru. Bisa jadi jika kita
tidak lulus dan tidak keterima di kampus, maka orang yang berkeinginan kuat
tersebutlah yang menggantikan posisi kita saat ini.”
Dia memang guru
spiritualku, tak segan-segan aku kadang mencurahkan isi hatiku padanya. Dari
pancaran ketawadhu’an wajahnya saja sudah meneduhkan kekeringan hatiku walau
hanya sebentar. Orangnya sholeh, jauh kalau dibandingkan denganku. Padahal
namaku Sholeh.
“Syifa?”
panggilku pelan di tengah kekhusyuannya memeriksa latihan murid-muridnya.
“Hmm?” sahutnya
walau tak mengalihkan pandangan pada lembar jawaban yang ia periksa.
“Boleh minta
saran?” Syifa pun menghentikan aktivitas centang-mencentangnya.
“Jangan
sekarang yang bang, Syifa lagi sibuk nih, ntar aja kalo dah siap ya? Oke?”
“Iya deh..”
Sahutku kesal sambil berlalu meninggalkannya, seraya itu pula moodku untuk
curhat pun sirna. Tidur aja deh, batinku. Mungkin memang harus kuhadapi sendiri
saja, lagian gengsi juga harus curhat dengan Syifa. Adik kecilku yang sudah
beranjak dewasa bahkan kalaupun menikah ini memang sudah saatnya. Eh, bicara
tentang menikah aku jadi minder sendiri. Usiaku sudah kepala tiga lebih, tapi
masih melajang saja. Bukannya tidak ada keinginan untuk menikah, hanya saja
belum rela melepaskan Syifa sendirian apalagi suasana berkabung masih kurasakan
ada pada dirinya. Aku dan Syifa selisih 3 tahun, baik umur maupun sekolah. Ayah
kami meninggal sejak aku SMA, hal ini menyebabkan Aku harus menunda kuliah
selama 3 tahun untuk membantu perekonomian keluarga dan biaya sekolah Syifa,
hingga akhirnya aku pun kuliah sambil bekerja. Barengan dengan Syifa menjadi
angkatan yang sama. Setelah kami semua selesai kuliah, kami pun memutuskan
untuk mengajar di tempat yang sama agar mudah saat berangkat ke sekolah. Saat
itulah Ibu kami mulai sakit-sakitan. Hingga akhirnya Ibu dipanggil Allah
tepatnya 2 tahun setelah kami memasuki dunia kerja, itu tiga bulan yang lalu.
Mungkin karena tugas Ibu memang sudah selesai membimbing dan membiayai kami
sampai kuliah, selanjutnya kamilah yang harus berusaha secara mandiri. Kalau
mengingat masa lalu, tidak bisa aku membendung air mataku.
Sejak
meninggalnya Ibulah, Syifa kelihatan kehilangan gairah dalam hidupnya. Namun,
Aku selalu memberinya semangat dan terus menghiburnya agar ia tetap bisa
tersenyum. Belakangan ini sepertinya Aku tidak perlu menghiburnya lagi. Ia
telah menemukan semangatnya kembali. Wajahnya pun selalu dihiasi dengan
senyuman. Benar-benar membuatku heran. Tapi bahagia juga kok kalo melihatnya
bisa bahagia begitu. Masalahnya sekarang ada di diriku sendiri, kenapa tidak
bisa sebahagia dan sesemangat Syifa. Entalah, malam pun sudah semakin larut, mataku
sudah mulai berat, langsung kubaringkan tubuhku dan tidur.
***
Mataku terbuka,
di tengah keheningan malam ku dengar suara tangisan seorang gadis yang sedang
memohon dan meminta penuh harap. Memelas sekali. Membuat bulu kudukku
merinding. Aku pun bangkit menuju sumber suara itu. Suara detakan jam dinding
pun semakin keras ku dengar menyebar ke penjuru ruangan. Ku perhatikan jam,
tepat pukul 02.00 dini hari. Suara tangis semakin dalam kurasakan. Dan tepat
tebakanku, suara itu ada di kamar Syifa. Dari pintu kamar yang memang sudah
terbuka itu kulihat seorang gadis mungil berbalut mukenah menengadahkan kedua
tangannya dengan wajah dibanjiri air mata. Luluh rasanya raga ini menyaksikan
pemandangan itu. Sekujur tubuhku melemas, tak kuasa rasanya aku untuk tidak
menghampirinya. Langsung saja ku peluk ia. Tidak pernah Aku melihatnya sesedih
ini. Air mataku pun berlinang, bagai di film-film kenangan masa lalu
kebersamaan kami bersama Ayah dan Ibu terus tergambar. Namun, aku sangat kaget
ketika tiba-tiba saja Syifa mengatakan sesuatu dari mulutnya.
“Bang, Syifa
jatuh cinta!.” Suaranya agak terbata karena tangisannya. Bagai tersambar petir,
tubuhku tiba-tiba jadi dingin dan menggigil seketika. Tidak pernah aku
mendengar kata-kata ini darinya. Aku hanya terpaku dan tidak tahu harus berbuat
apa. Namun, aku mencoba menenangkan dan mencairkan kebekuan pikiranku, karena
sebenarnya jatuh cinta itu sangatlah wajar apa lagi di usia Syifa yang harusnya
sudah sangat layak baginya memasuki dunia rumah tangga. 26 tahun lebih.
Kemudian ia pun melanjutkan perkataannya sambil melepaskan pelukanku dan
menatapku dalam-dalam.
“Bang, Syifa
sudah berusaha untuk menahan rasa ini. Sudah bertahun-tahun sejak kuliah. Dulu
pernah ada beberapa laki-laki yang sholeh mengajak Syifa untuk serius, tetapi
berulang kali Syifa tolak dan Syifa tahan perasaan ini sampai semua siap. Syifa
tahu bahwa Syifa belum siap. Syifa juga berhasil membuang jauh-jauh perasaan
Syifa laki-laki itu meskipun sebenarnya Syifa sukai. Namun, saat ini Syifa
sudah tidak sanggup menahannya lagi bang. Semakin Syifa tepis, perasaan ini
semakin menggebu datangnya. Jika Syifa ungkapkan dan sampaikan ke Abang, Syifa
juga takut jika nanti membuat Abang marah. Syifa harus bagaimana bang?” Air
matanya semakin meleleh deras dan tanpa sadar air mataku juga menetes. Aku
merasa bersalah, selama ini ia terdiam hanya karena takut dan segan padaku. Pasti
semua ini disebabkan sampai saat ini aku belum kepikiran untuk menikah sehingga
membuatnya merasa lancang jika harus melangkahiku. Kembali aku mencoba
menstabilkan hati dan pikiranku.
“Abang minta
maaf ya dik, semua ini memang kesalahan Abang. Syifa takut melangkahi Abang
khan?” Tanyaku sambil mencoba tersenyum di sela-sela tetesan air mata. Syifa
hanya menjawab dengan mengangguk.
“Apa Syifa
memang harus menunggu abang nikah duluan ya? Kalau memang begitu, gak apa-apa
kok Syifa mesti menunggu lagi.” Kembali kupandangi lekat wajahnya. Ketahuan
bahwa ia penuh harap.
“Bilang ke
Abang, siapa laki-laki yang mampu meluluhkan hati Adik kecil abang itu?” Sambil
kuangkat dagunya sambil ku beri isyarat senyum tanda setuju.
“Boleh bang?”
“Boleh, asal
membuat Syifa bahagia pasti Abang bolehkan.” Jawabku meyakinkan.
“Ada laki-laki
yang begitu sholeh. Tapi, Syifa juga gak tau dia suka apa gak sama Syifa.”
“Gak masalah
dik, ntar biar Abang tanyakan ke orangnya langsung. Kalau dia gak mau ntar
Abang pilihkan dengan yang lainnya, Abang sekarang wali Syifa.” Tiba-tiba
tergambar wajah Pak Aman Hariyadi sang guru spiritualku yang juga sama-sama
bekerja di sekolah tempatku mengajar. Pak Yadi adalah pilihan yang tepat,
pikirku. Mudah-mudahan beliau mau, itupun kalau beliau masih belum ada pilihan.
“Tapi Syifa
malu sebenarnya bang?” Syifa kembali tertunduk dan aku kembali tersenyum. Itu
ekspresi yang wajar bagi seorang wanita.
“Hehe, ini
Abang Syifa sendiri loh. Masa malu-malu? Ayo kasih tau Abang”
“Abang pasti
kenal orangnya, karena Syifa lihat Abang sering ngobrol dengannya.” Tiba-tiba
jantungku berdegup kencang.
“Apa maksud
Syifa, Pak Yadi?” Sergahku dan Syifa kembali hanya menganggukkan kepala
kemudian menundukkan kepalanya kembali. Tapat pilihanmu dik, pikirku.
“Abang setuju,
besok coba Abang tanyakan ke beliaunya. Semoga beliau mau. Syifa banyak-banyak
do’a aja ya, dan jangan lupa berdo’a untuk diberi kesabaran jika hasilnya tidak
sesuai dengan harapan.” Aku juga berharap semoga tidak bertepuk sebelah tangan.
Namun, tiba-tiba muncul kembali rasa minderku. “Aku kapan ya?” Ah sudahlah,
yang penting Syifa bisa bahagia dulu. Aku pasti bisa mencarinya nanti.
“Pasti bang,
Syifa tahu kok harus bagaimana.” Senyum manisnya kembali mengembang. Senyum
itulah yang selama ini membuatku tenang dan nyaman. Aku baru sadar, inilah yang
membuat Syifa sangat bersemangat berangkat kerja belakangan ini.
***
Udara pagi ini
sangat bersahabat, ku kendarai motorku menuju sekolah tercinta dengan semangat
menggelora. Entah mengapa hari ini aku kembali bersemangat. Mungkin karena ada
misi besar hari ini. Misi yang mempertaruhkan kebahagiaan Adikku tercinta. Aku
yakin Pak Yadi pasti mau menerima Syifa.
Aku juga tidak tahu memperoleh keyakinan ini dari mana. Hehe, aku hanya
bisa tersenyum sepanjang jalan. Sedangkan Syifa sudah berangkat 15 menit yang
lalu juga dengan semangatnya yang pasti lebih menggelora.
Gerbang sekolah
sudah kelihatan beberapa meter di depan dan langsung ku belokkan memasuki
kawasan sekolah. Tepat di depan kantor banyak guru berkumpul dengan wajah
panik. Langsung ku parkirkan motorku dan berhambur menuju keramaian tersebut. Kulihat
di sana Syifa yang sudah tiba dari tadi terpojok terdiam lesu dan semakin
membuatku bingung.
“Ada apa pak?”
Tanyaku pada Pak Rizal salah satu staff Tata Usaha sekolah.
“Pak Yadi di
penjara.” Jawabnya singkat.
“Loh kenapa?”
“Masih belum
jelas, katanya gara-gara melakukan tindakan kekerasan” Tukasnya.
“Kok bisa?”
“Inilah pak
masih belum jelas. Nanti pulang sekolah sama-sama kita jenguk.” Jantungnya
berdegup kencang serasa memungkiri kejadian pagi ini. Namun, pancaran kesedihan
lebih terlihat di wajah Syifa. Ia serasa kehilangan harapan, duduk termenung
dengan mata berkaca-kaca. Harusnya aku mampu memberinya kabar gembira tapi
kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Kasihan adikku. Ingin aku rasanya
menguatkan hatinya, tetapi tidak mungkin aku lakukan saat sekarang ini. Pasti
semua akan bertanya-tanya mengapa kami yang sangat merasa terpukul dan bisa
memunculkan spekulasi negatif.
Hatiku
benar-benar diliputi kegalauan hari ini. Aku kehilangan konsentrasi selama
mengajar. Aku sadar sebenarnya tidak boleh menunjukkan wajah murung di depan
anak-anak, tapi apalah daya Aku sangat tidak bisa membohongi mereka. Guratan
kebimbangan dan duka terlukis jelas di raut wajah setengah tua ini.
Mudah-mudahan nanti semua terjelaskan dan tercerahkan setelah bertemu dengan
Pak Yadi di kantor polisi. Yang pasti, kami semua guru-guru di sekolah tahu
bahwa Pak Yadi bukanlah tipe guru “killer”, orangnya sangat sabar dan
penyayang. Ini pasti hanya kesalahpahaman.
***
“Tadi tepatnya
jam istirahat pertama, Haikal mencoba memanjat pohon mangga di depan kelas II
c. Saat sebelum itu terjadi memang saya sedang diliputi amarah Pak, jadi reflek
aja Saya menjewer si Haikal. Mungkin terlalu kuat ya, hingga akhirnya dia ngadu
ke Orang tuanya. Karena tidak terima langsung aja saya di gelandang kemari.”
Penjelasan Pak Yadi di tengah-tengah kerumunan kehadiran kami sebagai
teman-teman seprofesinya di tempat mengajar. Kembali Aku melihat Syifa masih tersudut
menunduk seperti seorang tersalah atas peristiwa ini.
Terus terang
saja, Aku merasa sangat konyol dengan aduan yang dipertuntutkan orang tua
Haikal. Hanya gara-gara menjewer imbasnya ke penjara. Jika ku ingat-ingat, aku
juga termasuk guru yang tidak jarang melakukan hal yang sama. Tidak hanya
menjewer, terkadang menarik jambang atau mencubit anak-anak juga sering. Namun
aku tersadar, bahwa Haikal adalah anak dari konglomerat sekaligus mafia
ditakuti di kota ini. Kalau hanya mengutak-atik hukum di kota yang kecil ini
tentu sangat tidak sulit baginya. Benar-benar aneh. Jadi teringat, dulu aku
saat SD pernah lupa mengerjakan PR. Langsung saja guru marah-marah sambil
memukulku dengan dua batang rotan seukuran telunjuk yang disatukan sampai
membuat betisku merah dan tidak hilang memarnya selama 1 bulan, tapi tidak
pernah aku laporkan ke orang tua. Sebab jika ku laporkan akan bertambah fatal,
bisa jadi akan ditambahi dengan hukuman lain di rumah. Begitulah pendidikan di
jaman ini, anak-anak sulit diajari mandiri.
Satu hal yang
aku pahami, ternyata tepat tebakanku bahwa Pak Yadi bukanlah melakukan
kejahatan besar. Ini hanya na’asnya beliau saja.
“Kami sudah
berkomunikasi dengan pihak polisi.” Tukas pak Syakir kepala sekolah dengan nada
agak berbisik kepada Pak Yadi. “Katanya Pak Yadi bisa bebas jika bisa membayar dua
puluh juta. Jika Pak Yadi berkenan, kami sudah sepakat dan rela jika harus
mengusahakan uang tersebut entah bagaimana caranya untuk membebaskan Pak Yadi
dari sini.” Pak Syakir menawarkan bantuan kepada Pak Yadi dengan harapan ia mau
menerimanya, tetapi alangkah sangat terkejutnya kami dengan jawaban Pak Yadi
atas tawaran tersebut.
“Sebelumnya
saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman atas kehadirannya,
tetapi untuk tawaran Pak Syakir tadi saya tidak bisa menerimanya Pak maaf. Saya
menyadari bahwa memang sebenarnya sayalah yang bersalah atas kasus ini. Jadi,
biarkan saja saya menjalani prosesnya. Saya sudah pasrah, jika memang harus
dipenjara ya mungkin inilah teguran dari Allah agar saya lebih berhati-hati
terhadap emosi saya.” Sontak jawaban Pak Yadi membuat kami terdiam dan malu.
Ketakjubanku atas pribadi Pak Yadi semakin bertambah. Tidak salah jika Syifa
benar-benar mendambakan sosok beliau dan Aku pun semakin yakin untuk meneruskan
hajatku memintanya untuk menjadi imam bagi Syifa adikku. Aku juga teringat
perkataan Pak Yadi yang mengutip dari sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah
dan Turmudzi “Sebaik-baik anak Adam bukanlah yang tidak pernah melakukan dosa,
tetapi ia yang selalu bertaubat ketika melakukan dosa”.
Setelah panjang
bercerita, kami pun berpamitan pulang untuk kembali ke rumah masing-masing. Aku
berencana untuk menemuinya lagi dan membicarakan niat yang tertunda sejak tadi
pagi. Setelah aku yakin semua keluar, beberapa menit kemudian aku pun kembali
menuji ruang lobi untuk menemuinya. Namun ternyata, kulihat dari luar ia juga
kedatangan tamu. Seorang wanita dengan anak seumuran kelas 3 SD. Mereka
bercerita sepertinya menyenangkan hingga membuat wajah Pak Yadi berseri sekali.
“Jangan-jangan mereka adalah istri dan anak Pak Yadi”, batinku.
Ku urungkan
niatku, lagipula ini masa-masa yang tidak tepat untuk menanyakan hal semacam
ini. Nanti sajalah ketika beliau sudah keluar dari buih. Aku sangat yakin Pak
Yadi akan segera bebas. Hmm kasihan dia, begitu juga dengan Syifa. Sejak
mengetahui kabar ditangkapnya Pak Yadi ia hanya bisa merenung dan meneteskan
air mata.
Setibanya di
rumah Aku langsung menemui Adikku. Ia sedang mengurung diri di kamar. Ingin ku
ketuk pintunya, tapi ku tahan. Sudahlah, mungkin ia butuh waktu untuk
menenangkan dirinya. Namun tiba-tiba suara deritan pintu terdengar, Syifa
keluar.
“Bang, Syifa
lah yang menyebabkan Pak Yadi ditangkap. Syifa bersalah bang.” Ia menangis
menunduk menggeletar, tentu membuatku terkaget tidak faham.
“Maksud kamu
apa Syifa? Sini duduk, tenangkan hatimu lalu bicaralah!” Syifa memaksakan
dirinya untuk berhenti menangis dan menahan guncangan hebat dari hatinya.
“Tadi pagi di
jam istirahat pertama pas Syifa kembali ke kelas dari kamar mandi, Syifa liat
sapu tangan Pak Yadi melayang dari lantai dua dari kelas III dan tersangkut di
pohon mangga di depan kelas II c. Jadi, karena di situ ada Haikal, Syifa suruh
Haikal memanjat untuk mengambilkan sapu tangan Pak Yadi yang tersangkut itu. Tapi
tiba-tiba Pak Yadi datang dan marah-marah trus langsung jewer kuping Haikal.
Syifa gak pernah liat Pak Yadi semarah itu bang. Syifa menyesal…” Syifa kembali
menangis, kali ini semakin kencang. Badannya terguncang hebat karena isakannya,
matanya pun semakin membengkak.
“Sudahlah
Syifa, semua sudah terjadi.” Aku mencoba menenangkan.
“Jadi Syifa
mesti gimana bang?”
“Ayo kita ke
rumah Pak Jalal orang tua Haikal. Kita jelaskan kondisinya. Kita mohon agar
beliau bersedia mencabut tuntutannya.”
“Kalo begitu
ayo kita berangkat bang, sekarang! Syifa gak mau dihantui rasa bersalah terus.”
Desak Syifa padaku agar Aku mengikuti ajakannya.
Kami pun
berangkat menjelang maghrib itu pula. Ada perasaan takut yang menghampiriku,
wajar saja. Jalal Abdi adalah mafia yang sangat terkenal. Semua orang segan
padanya. Walau aku belum pernah bertemu dengannya, Aku bisa menebak pasti
orangnya sangar. Ah biarlah, Aku siap menanggung apapun resikonya. Bismillah..
Tepat maghrib
kami tiba di sebuah komplek perumahan yang dihuni oleh orang-orang kelas atas.
Dan kabarnya di sinilah Jalal Abdi tinggal. Aku tidak tahu tepatnya yang mana,
tapi Aku berencana akan bertanya pada warga setempat. Karena sudah maghrib,
kami pun sholat di mushola di komplek perumahan megah tersebut. Kontras memang.
Komplek yang dihuni puluhan orang kaya tetapi tempat ibadahnya hanya mushola
yang bisa dikatakan tidak cukup besar. Kurang lebih hanya berkapasitas 50
jamaah. Mungkin disesuaikan dengan jumlah penduduk di komplek itu, terbukti
jamaah sholat maghribnya pun tidak begitu ramai, hanya 2 shaff tidak penuh.
Dengan berusaha
khusyu’, sholat maghrib pun dilaksanakan. Memang cukup sulit bagiku untuk
mengkhusyu’kan sholat apalagi saat ada tekanan seperti ini. Ah itu tidak
penting, sekelas Ali bin Abi Thalib saja pun ketika dites kekhusyu’annya oleh
Rasul beliau gagal. Lagipula khusyu’ tidak menjadi bagian dari rukun sholat.
Sebagai manusia kita hanya berusaha, ikhtiar untuk beribadah sebaik-baiknya.
Urusan diterima atau tidak, itu hak prerogatifnya Allah. Saat sholat selesai,
Aku menegur sang imam sholat tadi. Wajahnya sangat tawadhu’, badannya kurus. Ia
sedang berbincang dengan seorang salah satu makmumnya tadi. Ia juga kelihatan
ramah sekali karena sangat mudah tersenyum. Temannya berbadan gemuk tinggi.
Kulitnya gelap.
“Maaf pak,
numpang Tanya!” Aku sambil menyodorkan tangan mengajak bersalaman. Bergantian,
setelah sang imam juga ku salami teman bicaranya tadi.
“Oh iya, ada
apa pak?”
“Hmm gini,
rumah Pak Jalal yang mana ya?” Tanyaku sambil menunduk sebagai rasa sopan
santunku. Namun mereka tertawa.
“Beliau inilah
pak Jalal Abdi.” Sang imam menunjuk pria berbadan gemuk, tinggi dan berkulit
gelap tadi. Tentu saja aku kaget. Badanku serasa menggigil seketika. Tapi pria
tersebut masih saja dengan ramahnya melemparkan senyuman padaku.
“Maaf pak!” Aku
mencoba memaksa diri untuk senyum. Tanpa basa-basi aku langsung memanggil Syifa
dan memberitahukan bahwa beliaulah Jalal Abdi. Ternyata tidak seperti
tebakanku, Jalal Abdi ini orangnya sangat welcome. Kami pun bercerita panjang
lebar terkait peristiwa yang terjadi tadi pagi sampai ke perkara Pak Yadi di
penjara. Namun, yang membuat kami semakin kaget ternyata Pak Jalal tidak
mengetahui masalah ini.
“Ini pasti
kerjaan si Tomtom. Maaf ya bapak dan ibuk. Walaupun anak saya dijewer, kalau
dia salah saya gak akan pernah sampai marah-marah gak jelas. Aduh, bangsat ni
Tomtom! Ya sudah nanti saya urus pak. Bapak dan Ibuk tenang aja. insyaAllah
malam ini juga Pak Yadi sudah bebas.” Pak Jalal meyakinkan kami. Tentu saja kami
sangat senang. Aku pun mengajak Syifa untuk pulang, tapi ia menolak dan belum
puas sebelum melihat Pak Yadi benar-benar keluar. Maka kami pun memutuskan
untuk membuntuti Pak Jalal, dan benar. Pak Jalal sangat serius dengan ucapannya
tadi. Hingga kamipun mengikutinya sampai ke kantor polisi dan melihat Pak Jalal
membebaskan Pak Yadi. Kami pun pulang dengan wajah sumringah. Tapi Aku baru
tersadar dengan kejadian sore tadi. Siapa sebenarnya orang yang menjenguk Pak
Yadi. Ah, besok aku akan tanyakan di sekolah. Karena misiku masih belum
selesai.
***
“Apa Pak Yadi
udah nikah?” Tanyaku pada seseorang yang kukagumi sosok kepribadiannya. Aku
mendambakan memiliki adik ipar sesholeh pria tersebut.
“Eh belum
pak..” jawabnya cepat melegakan pikiranku. Alhamdulillah.
“Trus, udah
siap nikah gak?”
“Wah itu lah
pak..” Malu-malu.
“Saya serius
loh pak.” Aku meyakinkannya.
“Gini pak
Sholeh, InsyaAllah saya udah siap. Tapi saya ragu.” Pak Yadi mencoba merapikan
duduknya dan mencoba serius. Memang ini yang Aku harapkan. Kemudian ia
melanjutkan.
“Ada wanita
yang saya kagumi, cuma saya masih bingung bagaimana cara memulai untuk
mengutarakan keseriusan saya menyuntingnya”. Degg, harapanku pupus.
“Siapa
memangnya pak?” sahutku.
“Saya gak tau
namanya, tapi saya yakin orangnya sholehah. Mama angkat si Topo Lukito siswa
kelas tiga, pak.” Benar-benar hancur harapanku. Fokusku hilang dan sudah tidak
bisa ku cerna lagi apa yang diucapkan Pak Yadi berikutnya. Akhirnya akupun
undur diri dengan pura-pura ada keperluan. Berarti ia bukan jodoh Adikku.
Kasihan Syifa. Ya Allah kuatkanlah Adikku menerima semua kenyataan ini. Aku
tidak mau membuat Syifa berharap terlalu lama. Langsung ku SMS ia.
“Syifa,
Pak Yadi sudah berniat mempersunting wanita idamannya. Sudahlah, nanti Abang
carikan yang lain. Mudah-mudahan orangnya lebih baik.”
Sengaja Aku SMS
dia karena jika ku katakana langsung di depannya Aku tidak sanggup harus
melihat wajahnya diliputi kekecewaan. Sudah teramat banyak penderitaan yang
dialaminya. Akupun berencana mengelak untuk bertemu dengannya dengan bersengaja
pulang larut malam. Harapannya saat Aku pulang dan ia sudah tertidur. Tapi
tidak sesuai harapan, ternyata ia telah menungguku sedari tadi.
“Abang gak
perlu mengelak dari Syifa.” Syifa nyeletuk dengan senyum kecil di wajahnya.
Tapi aku tahu, itu hanyalah tipuan. Senyum ikhlasnya tidak begitu. Aku hanya
terdiam seribu bahasa.
“Syifa udah
siap kok apapun jawabannya. Syifa udah pasang mental sehebat baja. Jadi Abang
gak perlu ngerasa gak enak gitu. Syifa juga yakin, harapan manusia tidak
selamanya paling baik. Jadi, tidak harus seindah asa. Meskipun resikonya agak
menyakitkan.”
“Alhamdulillah,
berarti adik kecil abang udah semakin tegar sekarang. Abang janji, akan carikan
yang labih manteb.” Hiburku sambil mencubit pipi kanannya.
“Manteb?”
Dahinya mengerut.
“Manteb
sholehnya, manteb gantengnya, manteb semuanya deh. insyaAllah….heheh” Aku pun
mencoba menghiburnya agar tidak terlalu galau.
***
1 minggu kemudian.
Entah ada angin
apa, Pak Syakir meneleponku dan menyuruhku ke rumahnya malam-malam begini. Pas
ditanya beliau malah berkata, “Datang aja, ada keperluan yang gak seru banget
kalau dibicarakan melalui telepon!” Ya sudahlah, nurut saja. Siapa tahu ada
rezeky nomplok pikirku.
“Gini pak sholeh,
langsung aja ya tanpa basa-basi. Kebanyakan basa-basi malah asem nanti.” Canda
beliau yang ku sahuti dengan senyuman. Kemudia beliau melanjutkan.
“Biasa tiap
malam selasa, saya kan ngisi pengajian. Jadi, malam selasa lalu salah satu
murid pengajian saya ada yang ngebet nikah. Dia tsiqoh sama pilihan saya siapa
aja. Nah, kebetulan Pak Sholeh ini kan walinya Ibuk Syifa Shalihah. Saya pikir
ini akan menjadi pilihan tepat nantinya. Jadi kira-kira gimana kalau kita
proseskan saja mereka.” Aku tercengang, tidak mampu menerjemahkan perasaanku
sendiri. Harus bagaimanakah Aku baiknya. Aku sama sekali tidak meragukan pria
yang dipilihkan Pak Syakir itu. Pak Syakir adalah sosok yang sangat disegani,
banyak ilmunya. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya dengan baik sampai S2
di Al-Azhar Kairo. Kesholehannya pun tidak diragukan. Aku hanya bingung dan
bimbang, apakah Syifa bisa cocok dengan pilihanku ini jika ku iyakan. Walau
sebenarnya Syifa sudah mempercayakan sepenuhnya ke Aku. Dia yakin dengan
pilihanku.
“Sebenarnya
pak, Syifa memang sudah siap secara lahir dan bathin jika harus menikah. Dan ia
sudah mempercayakan semuanya pada saya untuk mencarikan pendamping hidupnya.
Tapi saya masih punya ketakutan pak.”
“Ya kan bapak
gak mesti menjawab sekarang. Dikonsultasikan baik-baik ke buk Syifanya.
Pernikahan itu gak bisa langsung bilang iya dan menerima begitu saja. Harus
menjalani prosesnya secara syar’i dan sehat.” Jelas Pak Syakir.
“Betul itu pak,
ngomong-ngomong siapa laki-laki itu? Apa saya kenal pak?” Aku mulai penasaran.
“Pak Sholeh
pasti kenal, namanya Aman Hariyadi salah satu guru kita juga.”
“Kalau begitu
saya SETUJU.” Pak Syakir bengong.
The End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar