Rabu, 21 Januari 2015

Sepenggal Suka Duka Seorang Guru (bagian akhir)

“Kurang ajar kau ya, binatang kau, …..!” Ada banyak makian yang tak layak disebutkan dari mulutnya. Sengaja aku menyensornya di sini. Aku hanya tak mengerti apa-apa. Rahangku, sakit sekali, serasa patah akibat pukulan pria kekar yang berpenampilan seperti preman itu.
Dengan cepat, polisi tadi memborgol dan membawaku secara paksa untuk masuk ke mobil yang mereka kendarai. Aku masih tak tahu dan bingung.
“Ada apa ini pak?” Aku mencoba bicara dengan paksa karena masih terasa sakit sekali rahangku. Tanpa sadar air mataku keluar. Aku linglung, seperti mendadak menjadi gila. Aku tak mengerti dengan semua ini dan sangat tidak menduga peristiwa seperti ini akan menimpaku. Mereka tidak menggubris pertanyaanku, sementara aku masih menduga-duga kesalahan apa yang telah kulakukan hingga berakibat seperti ini. Ya Allah kuatkan hamba-Mu.
***
Sesampainya di kantor polisi akupun diinterogasi oleh salah seorang petugas kepolisian berwajah ramah penuh senyum, tidak seperti polisi yang digambarkan dalam sinetron-sinetron yang selalu mengidentikkan petugas polisi dengan wajah sangar. Dari seragam yang dikenakannya aku bisa mengetahui namanya Edi Prabowo, tertulis jelas di atas saku kanannya. Orang Jawa. Proses interogasi pun dimulai dengan memastikan identitasku dan menyampaikan hal yang membuatku kaget setengah mati.
“Aman Hariyadi, Anda telah dituntut oleh keluarga Bapak Jalal Abdi karena telah melakukan tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap anaknya di sekolah. Anda dikenakan pasal berlapis tentang penganiayaan dan tindakan kekerasan KUHP pasal 335 dan 351. Anda terancam dipenjara paling lama lima tahun.” Aku seperti disambar petir. Aku harus mendekam di penjara selama lima tahun? Benarkah? Seketika itu pula aku mencoba mengingat-ingat kejadian pagi tadi di sekolah. Iya, aku menjewer kuping si Haikal. Masa sih aku masuk penjara hanya gara-gara menjewer kuping? Aku terus bertanya-tanya tapi tak bisa berkomentar apa-apa. Beberapa detik kemudian datanglah pria kekar yang tadi memukulku.
“Hey guru bejat, berani-beraninya kau cari masalah sama keluarga Bang Jalal ya? Kau tau gak siapa Bang Jalal itu? Jawab!” Dia membentak sambil mendorong kepalaku keras sampai membuatku hampir terjatuh dari kursi panas ini, tapi masih saja aku tak bisa berucap apa-apa.
“Udah Bang, tinggal aja! Biar ku selesaikan tugasku.” Cegah pak polisi yang tadi menginterogasiku dan preman itupun berlalu sambil menatapku sinis seperti hendak melumatku.
“Pak polisi?” Aku mencoba membuka mulut.
“Ada apa?”
“Siapa sebenarnya dia itu? Apa polisi juga?” Aku sungguh penasaran dan pak polisi pun menarik nafas panjang sebelum menjawabku.
“Bukan, dia adiknya Jalal mafia terkenal itu. Ayah dari anak yang anda pukul.” Jawabnya dengan penuh kesal, terlihat dari ekspresinya.
“Pak, saya tak pernah memukul murid-murid saya. Saya hanya menjewernya karena saat itu sedang lepas control. Tidak pernah sebelumnya saya main fisik begitu pak.” Kembali aku menjatuhkan air mataku. Tiba-tiba aku teringat mamak, bapak, dan adik-adikku di kampung. Pasti mereka akan sangat khawatir jika tau aku di sini. Aku rindu sekali dengan mereka. Aku ingin mengadu dan menangis di pangkuan mamak. Usahaku selama ini mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta, berkorban harta, waktu dan tenaga. Mati-matian dengan gaji kecil, harus berakhir di penjara.
“Berdasarkan aduan yang kami terima, anda telah menganiaya dan menyiksa korban hingga mengakibatkan anak tersebut luka di bagian telinga, wajah, punggung dan kaki.” Jelasnya
“Astaghfirullah, itu fitnah pak. Bagaimana mungkin jeweran saya berimbas ke bagian tubuh yang lain.” Penjelasanku nampak sia-sia, polisi tersebut tidak menunjukkan wajah belas kasihan sama sekali padaku. Aku hanya terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya memohon padanya agar tidak memberikan informasi ini kepada keluargaku di kampung. Awalnya ia menolak tetapi pada akhirnya dituruti juga. Aku hanya tidak sanggup bila kabar buruk ini membuat susah keluargaku yang memang sudah susah dengan permasalahan hutang-piutang. Bisa menjadi bencana besar pastinya.
Sampai tengah malam ini air mataku terus meleleh, di tengah jeruji besi aku meratapi nasib diri. Nasi bungkus yang disediakan oleh petugas sejak maghrib tadi masih teronggok di sudut bui. Nyaris hilang selera makanku, semakin gelap pandangan dan akal ini serasa berhenti pada satu titik gelap tak berarah. Seperti yang dikatakan pak Edi tadi, aku harus menjalani masa kurungan sembari menunggu jadwal sidang dari kejaksaan negeri.
Tiba-tiba keluar juga bibit-bibit pemberontakan di hatiku. Kemana semua teman-teman mengajarku, kepsekku? Apa mereka lepas tangan dengan masalah ini. Tidak mungkin kabar ini tidak sampai ke mereka. Aku adalah guru di sana. Guru sah di bawah yayasan yang sah dibuktikan dengan SK. Sekolah pasti terseret dengan masalah ini. Astaghfirullahal ‘adzhiim, aku telah berprasangka buruk dengan mereka. Aku harus menata hatiku, menjernihkan pikiranku. Mungkin mereka memang belum berkesempatan kemari atau ada hal lain yang diprioritaskan. Mereka adalah rekan-rekan terbaik, aku ingat betul kebaikan-kebaikan mereka selama ini. Kepala sekolah adalah sosok pimpinan yang mampu menjadi teladan. Ibadahnya, akhlaknya, kebijakannya dan kecerdasannya. Aku percaya beliau tidak akan tinggal diam. Hanya saja mungkin sedang menyiapkan langkah yang tepat.
“Heh Yadi!” Seorang petugas polisi menemuiku, kali ini beda dengan yang tadi menginterogasiku. Mengenakan kaos abu-abu dan celana lapangan. Aku tak menjawab, hanya mengarahkan pandanganku ke matanya.
“Kau mau bebas?” Aku masih tak menjawab, hanya menunduk.
“Kalau bisa kau siapkan 20 juta, aku bisa mengeluarkanmu dan menghapus segala bentuk tuntutan terhadapmu”. Aku hanya mengerutkan dahi sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Pastinya juga mempertimbangkan tawaran dari pria jangkung berkumis tipis itu.
“Anda bisa jamin bebas?” Aku mencoba mencari kepastian.
“Aku jamin, kalau malam ini ada pun bisa ku keluarkan kau.”
“Aku pasti bebas, aku tidak bersalah. Aku bisa memenangkan persidangan.” Aku meyakinkan.
“Heh, kau sadar gak bermasalah sama siapa? Kau itu bermasalah sama orang yang Aparat sendiri gak berani berkutik sama dia.” Aku terdiam dan langsung mengalihkan cara pandang. Dari mana aku bisa mendapat 20 juta itu. Tidak mungkin ada yang mau menghutangiku sampai sebanyak itu. Lalu, apa tidak berdosa aku menyuapnya. Polisi itu pergi, aku diberi waktu berpikir selama 24 jam. Setelah itu ia tidak bisa lagi menjamin bebas. Beginilah negeri ini, yang punya kelebihan harta bisa berbuat seenaknya memlintir-mlintir hukum.
***
Aku semakin sadar, emosi tidak boleh menguasai diri ini. Kecil yang dilahirkan emosi, tapi dahsyat dampaknya. Aku mulai berpikir jernih dan terus introspeksi. Orang tua Haikal tidak bersalah. Ini adalah respon yang wajar bagi seorang yang mencintai buah hatinya. Berlebihan bagi seorang pendidik sepertiku melampiaskan emosi pada anak-anak yang memiliki kecenderungan bermain-main sebagai kebutuhan mereka. Aku pun terus memperbanyak istighfar. Aku telah memutuskan tidak akan menyuap polisi itu. Aku rela jika harus dipenjara 5 sampai 7 tahun. Mungkin dengan inilah Allah akan mengampuni dosaku.
Seorang polisi mendekati sel tempatku dikurung sambil menyodorkan kunci sebuah lubang pintu penjara. Ia membukanya.
“Ada yang mau ketemu tuh!” Ketusnya. Akupun keluar menuju ruang lobi. Tepat seperti perkiraanku. Semua teman-teman mengajarku datang menjengukku. Aku terharu sekali. Mereka mencoba menguatkanku dan berusaha akan mengeluarkanku dari sel ini tapi aku menolak. Aku sudah memutuskan untuk menjalani semua prosesnya. Biar Allah yang memutuskan. Ingin sekali bisa lebih lama bersama mereka, tapi tidak mungkin. Mereka juga memiliki kesibukan lain hari ini. Akupun kembali ke sel. Tak berapa lama, polisi yang tadi menghampiriku lagi.
“Ada tamu lagi tu!” Sinisnya.
“Siapa pak?” tanyaku.
“Ah, mana lah aku tau.” Bentaknya
“Gitu aja pake bentak pak..pak…”
“Ya kau pikirlah, kenal aja pun enggak aku sama kau.” Aku hanya tersenyum. Tersenyum bukan karena jawabannya. Aku memikirkan hal lain, “Benar juga ya, kalau lah polisi itu kriterianya seperti mau menjadi pramugara pramugari pasti udah banyak yang datang kemari minta ditangkap. Hehehe. Tapi tunggu dulu, kira-kira siapa ya? Apa mungkin Mamakku. Tidak mungkin, aku sudah berpesan untuk tidak mengabarinya. Ah langsung sajalah.
“Yadi!” Polisi tadi memanggilku hingga membuat langkahku tertahan.
“Ya pak?” Sahutku.
“Cewek cantik tu yang datang,tapi dah ada anaknya.” Aku terperanjat, jangan-jangan… iya betul, Mama Topo. Aku masih mengintip dari balik pintu tak berdaun yang memisahkan bilik-bilik kurungan dengan ruang lobi tempat Mama Topo dan Topo berada. Duduk gelisah menunggu seseorang. Aku pun kepedean, hihihi. Ku tata hatiku, ku hilangkan gengsi dan kurapikan rambutku. Eakkkk…..
“Assalamu’alaikum?” Sapaku pada gadis berjilbab lebar berwarna pink yang kelihatan memancarkan aura kesholihannya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Jawabnya dan Topo langsung menyodorkan tangannya menyalamiku.
“Tadi siang saya mengantar makan siang Topo ke sekolah, saya lihat seperti ada kericuhan dan saya mencari tahu ternyata Pak Yadi di sini.” Terangnya dan aku pun menjelaskan semua kejadian yang ku alami. Hingga pada akhirnya Ia mengatakan sesuatu yang membuatku semakin takjub.
“Saya bisa bantu mengeluarkan Pak Yadi dari sini.”
“Aduh, gak usah buk. Saya mengakui kesalahan saya kok. Memang saya yang bersalah.” Saya mencoba menolak dengan merendahkan diri.
“Ingat, Pak Yadi punya keluarga dan Pak Yadi juga punya kewajiban mendidik Topo dan anak-anak lainnya. Itu juga harus jadi prioritas.” Ia terus memaksakanku agar menerima tawarannya. Mana mungkin aku menerimanya, aku sudah memutuskan akan menjalani semua prosesnya. Dan aku punya alasan besar mengapa harus menolaknya. GENGSI. Oleh karena aku terus menolak, akhirnya ia pun menyerah.
“Ya sudah kalau Bapak tidak mau menerima tawaran saya, saya juga tidak mungkin memaksa. Oh iya, ini pak kami membawa sedikit makanan untuk bapak.” Ia menyodorkan rantangan plastik tempat makanan. Aku tidak tahu isinya, hanya menebak-nebak sambil berbunga-bunga.
“Wah jadi merepotkan ini buk.” Aku berbasa-basi, padahal mau.
“Ah enggak koq, sekalian aja tadi.” Ia pun menjawab basa-basiku. aku terdiam di hadapan Mama Topo, tidak tau harus ngomong apa lagi, bingung. Untuk menghilangkan kekikukanku aku langsung beralih ke Topo untuk bertanya-tanya seputar sekolah hari ini dan lain-lain.
“Pak, kami pamit dulu ya. Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberi yang terbaik buat Pak Yadi. Assalamu’alaikum?” Pamitnya sambil berlalu pergi, aku masih memandanginya sampai di ujung pintu keluar. Darahku berdesir kencang, karena kejadian detik-detik beralalunya Mama Topo. Dia menoleh. Hadeuhhh….. Rontok jantungku rasanya. Astaghfirullahal’adzhiim, ini syetan. Makhluk la’natullah telah berhasil menghiasi wanita yang kulihat agar goyah imanku. Langsung aku mengucap ta’awudz tiga kali.
***
Aku kembali ke bui dan langsung membuka rantang yang diberi oleh Mama Topo, kulihat di dalamnya ternyata berisi nasi dan sop ayam lezat. Sedap sekali.
“Pak, dapat rezeki ini. Ayuk makan bareng!” Ajakku pada seorang petugas yang sejak pagi tadi menungguku di sini.
“Enak gak?”
“Wah, yo enak toh pak. Mriki lah!” Dia kemudian tak segan membuka sel untuk bergabung bersamaku makan sop lezat buatan Mama Topo. Dalam sekejap kami pun jadi akrab. Nama beliau Dedi Prabowo, adiknya Pak Edi Prabowo yang kemarin menginterogasiku. Aku tak tahu dan tak mau tahu kenapa mereka kakak beradik bisa di tempat kerja yang sama. Suasana kami semakin cair, dikarenakan sama orang jawa. Kami dengan aktif berkomunikasi dengan mengguanakan bahasa daerah yang menurutku bahasa daerah tersopan yang pernah ku ketahui. Ya setuju atau tidak, itu kan menurutku. Hehehe, bukan deskriminatif loh.
Pak Dedi bercerita bahwa ia dan kakaknya sudah tidak betah bekerja di kawasan yurisdiksi kota ini. Sangat kotor. Terlalu banyak permainan dan kolusi “merajalela”. Enak bener si Lela jadi raja. Eh, jadi ngawur. He, Pantas saja kemarin saya bisa lihat wajah ketidaksenangan Pak Edi saat adik si Jalal main hakim sendiri hendak memukulku. “Sabar-sabar lah Di, Aku sih sakjane lebih percoyo karo kuwe. Laporan wong iku pasti digawe-gawe sak pena’e udele dewe.” Pak Dedi menguatkanku untuk bersabar dan secara moril mendukungku. Aku jadi terhibur. Senengnya…
***
Pukul 21.18 wib di kantor polisi. Aku masih terduduk di atas tikar bersandarkan dinding semen yang warna catnya sudah pudar penuh coretan. Aku mencoba memuroja’ah (mengulang-ulang) hafalanku di juz 29. Mulai dari surah Al-Mulk, Al-Qolam, Al-Haqqoh sampai Al-Mursalat. Hening sekali, terasa benar nikmat Allah yang telah mengalir selama 26 tahun ini di tubuhku. Air mata pun tak terbendung lagi, terisak aku. Namun, aku tersentak tiba-tiba ketika seorang polisi –bukan Pak Dedi- memanggilku. Dia adalah polisi yang mendapat shift malam berjaga di polres kota ini. Polisi yang menawarkanku bebas jika mampu membayar 20 juta, tapi aku menolak.
“Hey Yadi, bangun! Ada yang mau ketemu itu.” Ia mengiraku tertidur, padahal memejamkan mata untuk memperoleh kekhusukanku membaca ayat-ayat cinta-Nya.
“Siapa pak?”
“Hati-hatilah kau, Bang Jalal sama Tomtom adeknya yang datang.” Jelas saja aku terkaget. Adiknya saja kemarin tidak segan-segan menghajarku, ini orangnya langsung. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Kencang sekali. Aku tak tahu harus apa dan bagaimana. Sesaat lagi akan berhadapan dengan kepala mafia. Kasian tubuh kerempengku. Ah sudahlah, pasrah saja, aku yakin Allah Maha Melihat dan menolong hamba-Nya yang teraniaya. Langsung ku langkahkan kakiku dengan mantab menuju lobi. Terlihat di sana dua tubuh kekar yang sepertinya telah bersiap memangsa tubuh kurusku. Benar saja, yang seorangnya adalah yang menghajarku kemarin tetapi nampak sedikit berbeda, di wajahnya seperti ada lebam bekas pukulan tepat seperti di wajahku, dan yang satu lagi pasti si Jalal itu. Sebentar kemudian, tepatlah aku berdiri di hadapan mereka. Deg….
“Assalamu’alaikum, Anda Pak Yadi gurunya Haikal?” Tanyanya dengan bahasa yang sangat sopan dan santun. Tidak seperti dugaanku. Aku terperanjat.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah, iya benar pak. Bapak ayahnya Haikal ya?” Aku semakin kaget ketika tanpa basa-basi ia memelukku dan tak berapa lama dilepaskannya.
“Pak, maafkan adik saya. Demi Allah saya tidak tahu kalau bapak mendekam di sini karena tingkah adik saya.” Keherananku semakin bertambah.
“Maksudnya?” Tanyaku heran.
“Tom, sini kau! Sekarang minta maaf sama Pak Yadi. Cepat! atau mau kupukul lagi kau!” Ayah Haikal mengancam, dan sejurus kemudian Tomtom menjulurkan tangannya untuk bersalaman dan meminta maaf padaku. Aku pun membalasnya dengan wajah masih keheranan tingkat dewa. Lebay. Tingkat tinggi. Kemudian ia disuruh Ayah Haikal untuk menunggu di mobil.
“Begini pak, semua ini ulah adik saya. Dia itu memang sering buat kesal saya. Dia sering menggunakan nama saya untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas sekalipun” terangnya.
“Kenyataannya khan saya memang menjewer Haikal pak.”
“Alahh pak..pak… saya gak pernah mempermasalahkan jika ada guru yang mau menghukum Haikal jika dia memang salah. Itulah alasannya kenapa saya pindahkan Haikal dari sekolah yang lama. Semua guru takut menghukumnya karena tau dia anak saya. Bahkan Saya malah kagum sama orang yang memegang tinggi idealismenya tanpa rasa takut dengan bayang-bayang latar belakang apapun.”
“Jadi..?”
“Bapak malam ini juga bisa bebas, saya akan mengantarkan bapak pulang dan akan mengganti rugi berapapun yang bapak minta. Tapi mohon maafkan kami pak.” Aku tidak tahu mau berekspresi apa. Senang atau kesal.
“Saya bisa maafkan koq pak.” Aku mencoba tersenyum menatap wajah seorang Ayah yang terlihat begitu besar ketulusannya meminta maaf.
“Terima kasih pak, terima kasih!” Dia tiba-tiba meraih kedua tanganku dan menciumnya. Aku berusaha menarik dan menolaknya tapi tenagaku tak cukup.
“Pak tidak perlu begitu pak, saya jadi gak enak.”
“Saya memang dikenal sebagai seorang mafia, tapi saya sangat menghargai guru pak. Ayah Ibu saya dulu juga seorang guru, saya benar-benar merasakan bagaimana perjuangannya. Kerjanya keras, tak kenal waktu tapi gajinya sangat tak layak. Saya kagum masih ada manusia yang mampu bertahan menjadi guru dengan kondisi sesusah itu. Makanya saya ngerasa bersalah kali pak dengan tindakan adik saya.” Matanya berkaca-kaca dan aku hanya menghela nafas kembali mencoba tersenyum.
“Saya juga merasa berterima kasih pak. Karena dengan kejadian ini saya sadar harus berpikir masak-masak sebelum melampiaskan emosi yang asalnya dari syetan itu.” Kamipun beranjak meninggalkan kantor polisi itu. Mereka pun mengantarkanku sampai ke kos. Aku menolak semua tawaran yang diberikan. Bukan sok baik, guru adalah guru. Digugu dan ditiru. Kalau selama ini aku mengajarkan untuk menolong dan memaafkan tanpa pamrih, di sini aku juga harus bisa melakukannya walau syahwat keduniaanku benar-benar menolak. Aku bahkan bersyukur, memperoleh tarbiyah secara langsung dari Allah. Di perjalanan aku sempat bertanya perihal bagaimana ia bisa tahu bahwa aku dipenjara karena adiknya. Dia hanya mengatakan bahwa ba’da maghrib tadi ada seorang gadis yang datang ke rumahnya memohon untuk menarik tuntutannya. Namun, ia merahasiakan identitasnya sesuai permintaan gadis tersebut. Aku hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan…. Ah siapapun dia semoga Allah memurahkan rezekinya, memudahkan urusannya dan tercapai harapannya.
***
Ku hirup nafas panjang sembari mengerahkan seluruh potensi jasadku, dari yang kasat mata sampai yang tak kasat mata untuk mensyukuri nikmat illahi yang mengalir di tiap sendi-sendi kehidupanku. Aku sudah kembali lagi ke sekolah. Aku sudah sangat merindukan anak-anak. Dua hari kulalui di kurungan tapi seperti sudah dua tahun. Aku berniat untuk bicara secara pribadi dengan Haikal hari ini.
Ku sambut anak-anak yang datang, mereka tersenyum-tersenyum lugu melihatku. Ku balas juga dengan senyuman tulus penuh kasih pada mereka. Indahnya... senyum mereka memang pengobat luka yang ampuh bagiku. Apalagi senyumnya Xena, manis sekali. Dia anak ekspresif yang jika melakukan pola apapun pasti totalitas termasuk ketika senyum. Meskipun gigi serinya agak hitam.
Aku berjalan masuk menuju kelas, kupandangi setiap inci sudut ruangan dan agak kaget ketika melihat di atas meja ada sapu tangan yang hilang dua hari lalu. “Siapa ya yang menemukannya?” batinku bertanya. “Ah barangkali kemarin tidak kelihatan dan sekarang baru kelihatan” akupun menjawab sendiri.
Pelajaran ku mulai dengan cerita-cerita lucu dan mengikuti gerak-gerak cerita yang kukarang demi membuat senyum anak-anak mengembang. Semuanya riang dan senang. Namun tidak dengan Topo. Sedari tadi dia tidak meresponku. Biasanya dia selalu nyeletuk di sela-sela ceritaku, tapi kali ini beda. Nantilah di jam istirahat akan ku tanyai.
***
Jam istirahat pun tiba,
“Silakan semua anak-anak bapak berwudhu dan sholat dhuha ya!” Topo masih terduduk di kursinya, aku pun menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Pak?” sebelum ku mulai bertanya, dia sudah memulai terlebih dahulu.
“Saya, ada apa nak? Koq belum bergerak wudhu? Ada masalah ya?”
“Tadi mama ada nitip sesuatu, tapi males mau ngasih ke Bapak.”
“Emangnya apa yang dititip?” Aku benar-benar penasaran.
“Anu, pak…” Terpotong ucapannya.
“Anu apa?” Aku kembali menyerang.
“Undangan nikahnya Mama. Tapi udah saya buang.” Dhuarrr, seperti tersambar petir aku mendengarnya. Ternyata, dia bukan…..
“Mama mau nikah sabtu depan. Saya juga gak tau kalau mama dah mau nikah. Padahal saya cuma mau pak Yadi yang jadi Ayah Topo.” Dia menjelaskannya dengan nada yang lemas sekali. Tak kuasa aku melihatnya. Begitu juga dengan hatiku, kecewa. Tapi, buat apa juga aku kecewa. Aku saja yang selama ini kepedean. Hadeuh…
“Oh, kirain ada masalah apa. Nak, ada tiga hal dalam hidup ini yang hanya Allah yang tahu. Rezeki, Jodoh dan Maut. Jadi, sekuat apapun kita berusaha tapi jika ketentuan Allah beda ya kita harus bisa terima.” Aku mencoba menghiburnya, meskipun sebenarnya aku berusaha menghibur diriku sendiri. Emaakk…..
“Ya sudah, sekarang berwudhu sana! Sholat dhuha dan berdoa sama Allah semoga Ayah Topo nantinya mampu menjadi Ayah yang terbaik.” Aku mengelus-elus kepalanya dan ia pun bergegas ke tempat berwudhu. Aku mendadak tersenyum sendiri, teringat saat Topo menawarkanku jadi Ayah di rumahnya. Skenario Allah memang fantastis. Dahsyat….
“Haikal udah sholat?” pandanganku beralih ke Haikal yang sedang duduk di mejanya menyantap jajan bawaan dari rumah. Maklum, di sekolah ini dilarang membawa uang jajan kecuali uang ketring untuk makan siang. Ini dibiasakan agar anak-anak tidak mengkonsumsi makanan tidak sehat dan menghindari adanya kecemburuan sosial terhadap anak yang mampu dengan anak yang kurang mampu.
“Udah pak?” Jawabnya singkat dan aku menuju ke tempat duduknya.
“Maafin bapak ya nak yang kemarin itu! Bapak khilaf sampe harus menjewer Haikal.” Aku mengelus-elus kepalanya untuk menunjukkan bahwa aku menyayanginya. Membuktikan bahwa aku sangat menyesali perbuatan tersebut.
“Gak papa pak.” Jawabnya lagi singkat.
“Gak boleh ya nak manjat-manjat pohon itu! Berbahaya loh. Kalau nanti Haikal jatuh kan ada banyak orang yang menjadi cemas, termasuk bapak. Mainan khan banyak, gak harus manjat-manjat.”
“Anu pak, sebenarnya ada yang mau saya ambil.” Jelasnya tanpa melihat ke arahku. Dia tampak malu-malu.
“Hmm, ngambil apa? Mangga?”
“Bukan pak!” Tegasnya.
“Jadi?” serangku lagi.
“Sapu tangan bapak. Waktu itu terbang keluar kelas trus nyangkut di pohon itu.” Langsung aja jawaban Haikal meluluhkan hatiku. Air mataku keluar, aku menangis haru dan sesal. Aku tersadar, kenapa aku tidak bertanya padanya terlebih dahulu waktu itu. Aku benar-benar zhalim. Ku peluk haikal erat. Aku sesenggukan di depan anak-anak. Mereka heran denganku, semua mata tertuju padaku tapi aku tak peduli. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat.
“Maafkan bapak ya nak, bapak benar-benar jahat.” Masih ku peluk Haikal, dia tidak bisa berkutik. Diam saja. Namun, semuanya buyar ketika seorang anak nyeletuk.
“Eh liat, ingus Pak Yadi keluar!” Xena. Gubrak!!!
“Xeeeenaaaa!!!!”


Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar