Rabu, 21 Januari 2015

Sepenggal Suka Duka Seorang Guru (bagian akhir)

“Kurang ajar kau ya, binatang kau, …..!” Ada banyak makian yang tak layak disebutkan dari mulutnya. Sengaja aku menyensornya di sini. Aku hanya tak mengerti apa-apa. Rahangku, sakit sekali, serasa patah akibat pukulan pria kekar yang berpenampilan seperti preman itu.
Dengan cepat, polisi tadi memborgol dan membawaku secara paksa untuk masuk ke mobil yang mereka kendarai. Aku masih tak tahu dan bingung.
“Ada apa ini pak?” Aku mencoba bicara dengan paksa karena masih terasa sakit sekali rahangku. Tanpa sadar air mataku keluar. Aku linglung, seperti mendadak menjadi gila. Aku tak mengerti dengan semua ini dan sangat tidak menduga peristiwa seperti ini akan menimpaku. Mereka tidak menggubris pertanyaanku, sementara aku masih menduga-duga kesalahan apa yang telah kulakukan hingga berakibat seperti ini. Ya Allah kuatkan hamba-Mu.
***
Sesampainya di kantor polisi akupun diinterogasi oleh salah seorang petugas kepolisian berwajah ramah penuh senyum, tidak seperti polisi yang digambarkan dalam sinetron-sinetron yang selalu mengidentikkan petugas polisi dengan wajah sangar. Dari seragam yang dikenakannya aku bisa mengetahui namanya Edi Prabowo, tertulis jelas di atas saku kanannya. Orang Jawa. Proses interogasi pun dimulai dengan memastikan identitasku dan menyampaikan hal yang membuatku kaget setengah mati.
“Aman Hariyadi, Anda telah dituntut oleh keluarga Bapak Jalal Abdi karena telah melakukan tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap anaknya di sekolah. Anda dikenakan pasal berlapis tentang penganiayaan dan tindakan kekerasan KUHP pasal 335 dan 351. Anda terancam dipenjara paling lama lima tahun.” Aku seperti disambar petir. Aku harus mendekam di penjara selama lima tahun? Benarkah? Seketika itu pula aku mencoba mengingat-ingat kejadian pagi tadi di sekolah. Iya, aku menjewer kuping si Haikal. Masa sih aku masuk penjara hanya gara-gara menjewer kuping? Aku terus bertanya-tanya tapi tak bisa berkomentar apa-apa. Beberapa detik kemudian datanglah pria kekar yang tadi memukulku.
“Hey guru bejat, berani-beraninya kau cari masalah sama keluarga Bang Jalal ya? Kau tau gak siapa Bang Jalal itu? Jawab!” Dia membentak sambil mendorong kepalaku keras sampai membuatku hampir terjatuh dari kursi panas ini, tapi masih saja aku tak bisa berucap apa-apa.
“Udah Bang, tinggal aja! Biar ku selesaikan tugasku.” Cegah pak polisi yang tadi menginterogasiku dan preman itupun berlalu sambil menatapku sinis seperti hendak melumatku.
“Pak polisi?” Aku mencoba membuka mulut.
“Ada apa?”
“Siapa sebenarnya dia itu? Apa polisi juga?” Aku sungguh penasaran dan pak polisi pun menarik nafas panjang sebelum menjawabku.
“Bukan, dia adiknya Jalal mafia terkenal itu. Ayah dari anak yang anda pukul.” Jawabnya dengan penuh kesal, terlihat dari ekspresinya.
“Pak, saya tak pernah memukul murid-murid saya. Saya hanya menjewernya karena saat itu sedang lepas control. Tidak pernah sebelumnya saya main fisik begitu pak.” Kembali aku menjatuhkan air mataku. Tiba-tiba aku teringat mamak, bapak, dan adik-adikku di kampung. Pasti mereka akan sangat khawatir jika tau aku di sini. Aku rindu sekali dengan mereka. Aku ingin mengadu dan menangis di pangkuan mamak. Usahaku selama ini mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta, berkorban harta, waktu dan tenaga. Mati-matian dengan gaji kecil, harus berakhir di penjara.
“Berdasarkan aduan yang kami terima, anda telah menganiaya dan menyiksa korban hingga mengakibatkan anak tersebut luka di bagian telinga, wajah, punggung dan kaki.” Jelasnya
“Astaghfirullah, itu fitnah pak. Bagaimana mungkin jeweran saya berimbas ke bagian tubuh yang lain.” Penjelasanku nampak sia-sia, polisi tersebut tidak menunjukkan wajah belas kasihan sama sekali padaku. Aku hanya terdiam dan tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya memohon padanya agar tidak memberikan informasi ini kepada keluargaku di kampung. Awalnya ia menolak tetapi pada akhirnya dituruti juga. Aku hanya tidak sanggup bila kabar buruk ini membuat susah keluargaku yang memang sudah susah dengan permasalahan hutang-piutang. Bisa menjadi bencana besar pastinya.
Sampai tengah malam ini air mataku terus meleleh, di tengah jeruji besi aku meratapi nasib diri. Nasi bungkus yang disediakan oleh petugas sejak maghrib tadi masih teronggok di sudut bui. Nyaris hilang selera makanku, semakin gelap pandangan dan akal ini serasa berhenti pada satu titik gelap tak berarah. Seperti yang dikatakan pak Edi tadi, aku harus menjalani masa kurungan sembari menunggu jadwal sidang dari kejaksaan negeri.
Tiba-tiba keluar juga bibit-bibit pemberontakan di hatiku. Kemana semua teman-teman mengajarku, kepsekku? Apa mereka lepas tangan dengan masalah ini. Tidak mungkin kabar ini tidak sampai ke mereka. Aku adalah guru di sana. Guru sah di bawah yayasan yang sah dibuktikan dengan SK. Sekolah pasti terseret dengan masalah ini. Astaghfirullahal ‘adzhiim, aku telah berprasangka buruk dengan mereka. Aku harus menata hatiku, menjernihkan pikiranku. Mungkin mereka memang belum berkesempatan kemari atau ada hal lain yang diprioritaskan. Mereka adalah rekan-rekan terbaik, aku ingat betul kebaikan-kebaikan mereka selama ini. Kepala sekolah adalah sosok pimpinan yang mampu menjadi teladan. Ibadahnya, akhlaknya, kebijakannya dan kecerdasannya. Aku percaya beliau tidak akan tinggal diam. Hanya saja mungkin sedang menyiapkan langkah yang tepat.
“Heh Yadi!” Seorang petugas polisi menemuiku, kali ini beda dengan yang tadi menginterogasiku. Mengenakan kaos abu-abu dan celana lapangan. Aku tak menjawab, hanya mengarahkan pandanganku ke matanya.
“Kau mau bebas?” Aku masih tak menjawab, hanya menunduk.
“Kalau bisa kau siapkan 20 juta, aku bisa mengeluarkanmu dan menghapus segala bentuk tuntutan terhadapmu”. Aku hanya mengerutkan dahi sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Pastinya juga mempertimbangkan tawaran dari pria jangkung berkumis tipis itu.
“Anda bisa jamin bebas?” Aku mencoba mencari kepastian.
“Aku jamin, kalau malam ini ada pun bisa ku keluarkan kau.”
“Aku pasti bebas, aku tidak bersalah. Aku bisa memenangkan persidangan.” Aku meyakinkan.
“Heh, kau sadar gak bermasalah sama siapa? Kau itu bermasalah sama orang yang Aparat sendiri gak berani berkutik sama dia.” Aku terdiam dan langsung mengalihkan cara pandang. Dari mana aku bisa mendapat 20 juta itu. Tidak mungkin ada yang mau menghutangiku sampai sebanyak itu. Lalu, apa tidak berdosa aku menyuapnya. Polisi itu pergi, aku diberi waktu berpikir selama 24 jam. Setelah itu ia tidak bisa lagi menjamin bebas. Beginilah negeri ini, yang punya kelebihan harta bisa berbuat seenaknya memlintir-mlintir hukum.
***
Aku semakin sadar, emosi tidak boleh menguasai diri ini. Kecil yang dilahirkan emosi, tapi dahsyat dampaknya. Aku mulai berpikir jernih dan terus introspeksi. Orang tua Haikal tidak bersalah. Ini adalah respon yang wajar bagi seorang yang mencintai buah hatinya. Berlebihan bagi seorang pendidik sepertiku melampiaskan emosi pada anak-anak yang memiliki kecenderungan bermain-main sebagai kebutuhan mereka. Aku pun terus memperbanyak istighfar. Aku telah memutuskan tidak akan menyuap polisi itu. Aku rela jika harus dipenjara 5 sampai 7 tahun. Mungkin dengan inilah Allah akan mengampuni dosaku.
Seorang polisi mendekati sel tempatku dikurung sambil menyodorkan kunci sebuah lubang pintu penjara. Ia membukanya.
“Ada yang mau ketemu tuh!” Ketusnya. Akupun keluar menuju ruang lobi. Tepat seperti perkiraanku. Semua teman-teman mengajarku datang menjengukku. Aku terharu sekali. Mereka mencoba menguatkanku dan berusaha akan mengeluarkanku dari sel ini tapi aku menolak. Aku sudah memutuskan untuk menjalani semua prosesnya. Biar Allah yang memutuskan. Ingin sekali bisa lebih lama bersama mereka, tapi tidak mungkin. Mereka juga memiliki kesibukan lain hari ini. Akupun kembali ke sel. Tak berapa lama, polisi yang tadi menghampiriku lagi.
“Ada tamu lagi tu!” Sinisnya.
“Siapa pak?” tanyaku.
“Ah, mana lah aku tau.” Bentaknya
“Gitu aja pake bentak pak..pak…”
“Ya kau pikirlah, kenal aja pun enggak aku sama kau.” Aku hanya tersenyum. Tersenyum bukan karena jawabannya. Aku memikirkan hal lain, “Benar juga ya, kalau lah polisi itu kriterianya seperti mau menjadi pramugara pramugari pasti udah banyak yang datang kemari minta ditangkap. Hehehe. Tapi tunggu dulu, kira-kira siapa ya? Apa mungkin Mamakku. Tidak mungkin, aku sudah berpesan untuk tidak mengabarinya. Ah langsung sajalah.
“Yadi!” Polisi tadi memanggilku hingga membuat langkahku tertahan.
“Ya pak?” Sahutku.
“Cewek cantik tu yang datang,tapi dah ada anaknya.” Aku terperanjat, jangan-jangan… iya betul, Mama Topo. Aku masih mengintip dari balik pintu tak berdaun yang memisahkan bilik-bilik kurungan dengan ruang lobi tempat Mama Topo dan Topo berada. Duduk gelisah menunggu seseorang. Aku pun kepedean, hihihi. Ku tata hatiku, ku hilangkan gengsi dan kurapikan rambutku. Eakkkk…..
“Assalamu’alaikum?” Sapaku pada gadis berjilbab lebar berwarna pink yang kelihatan memancarkan aura kesholihannya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Jawabnya dan Topo langsung menyodorkan tangannya menyalamiku.
“Tadi siang saya mengantar makan siang Topo ke sekolah, saya lihat seperti ada kericuhan dan saya mencari tahu ternyata Pak Yadi di sini.” Terangnya dan aku pun menjelaskan semua kejadian yang ku alami. Hingga pada akhirnya Ia mengatakan sesuatu yang membuatku semakin takjub.
“Saya bisa bantu mengeluarkan Pak Yadi dari sini.”
“Aduh, gak usah buk. Saya mengakui kesalahan saya kok. Memang saya yang bersalah.” Saya mencoba menolak dengan merendahkan diri.
“Ingat, Pak Yadi punya keluarga dan Pak Yadi juga punya kewajiban mendidik Topo dan anak-anak lainnya. Itu juga harus jadi prioritas.” Ia terus memaksakanku agar menerima tawarannya. Mana mungkin aku menerimanya, aku sudah memutuskan akan menjalani semua prosesnya. Dan aku punya alasan besar mengapa harus menolaknya. GENGSI. Oleh karena aku terus menolak, akhirnya ia pun menyerah.
“Ya sudah kalau Bapak tidak mau menerima tawaran saya, saya juga tidak mungkin memaksa. Oh iya, ini pak kami membawa sedikit makanan untuk bapak.” Ia menyodorkan rantangan plastik tempat makanan. Aku tidak tahu isinya, hanya menebak-nebak sambil berbunga-bunga.
“Wah jadi merepotkan ini buk.” Aku berbasa-basi, padahal mau.
“Ah enggak koq, sekalian aja tadi.” Ia pun menjawab basa-basiku. aku terdiam di hadapan Mama Topo, tidak tau harus ngomong apa lagi, bingung. Untuk menghilangkan kekikukanku aku langsung beralih ke Topo untuk bertanya-tanya seputar sekolah hari ini dan lain-lain.
“Pak, kami pamit dulu ya. Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberi yang terbaik buat Pak Yadi. Assalamu’alaikum?” Pamitnya sambil berlalu pergi, aku masih memandanginya sampai di ujung pintu keluar. Darahku berdesir kencang, karena kejadian detik-detik beralalunya Mama Topo. Dia menoleh. Hadeuhhh….. Rontok jantungku rasanya. Astaghfirullahal’adzhiim, ini syetan. Makhluk la’natullah telah berhasil menghiasi wanita yang kulihat agar goyah imanku. Langsung aku mengucap ta’awudz tiga kali.
***
Aku kembali ke bui dan langsung membuka rantang yang diberi oleh Mama Topo, kulihat di dalamnya ternyata berisi nasi dan sop ayam lezat. Sedap sekali.
“Pak, dapat rezeki ini. Ayuk makan bareng!” Ajakku pada seorang petugas yang sejak pagi tadi menungguku di sini.
“Enak gak?”
“Wah, yo enak toh pak. Mriki lah!” Dia kemudian tak segan membuka sel untuk bergabung bersamaku makan sop lezat buatan Mama Topo. Dalam sekejap kami pun jadi akrab. Nama beliau Dedi Prabowo, adiknya Pak Edi Prabowo yang kemarin menginterogasiku. Aku tak tahu dan tak mau tahu kenapa mereka kakak beradik bisa di tempat kerja yang sama. Suasana kami semakin cair, dikarenakan sama orang jawa. Kami dengan aktif berkomunikasi dengan mengguanakan bahasa daerah yang menurutku bahasa daerah tersopan yang pernah ku ketahui. Ya setuju atau tidak, itu kan menurutku. Hehehe, bukan deskriminatif loh.
Pak Dedi bercerita bahwa ia dan kakaknya sudah tidak betah bekerja di kawasan yurisdiksi kota ini. Sangat kotor. Terlalu banyak permainan dan kolusi “merajalela”. Enak bener si Lela jadi raja. Eh, jadi ngawur. He, Pantas saja kemarin saya bisa lihat wajah ketidaksenangan Pak Edi saat adik si Jalal main hakim sendiri hendak memukulku. “Sabar-sabar lah Di, Aku sih sakjane lebih percoyo karo kuwe. Laporan wong iku pasti digawe-gawe sak pena’e udele dewe.” Pak Dedi menguatkanku untuk bersabar dan secara moril mendukungku. Aku jadi terhibur. Senengnya…
***
Pukul 21.18 wib di kantor polisi. Aku masih terduduk di atas tikar bersandarkan dinding semen yang warna catnya sudah pudar penuh coretan. Aku mencoba memuroja’ah (mengulang-ulang) hafalanku di juz 29. Mulai dari surah Al-Mulk, Al-Qolam, Al-Haqqoh sampai Al-Mursalat. Hening sekali, terasa benar nikmat Allah yang telah mengalir selama 26 tahun ini di tubuhku. Air mata pun tak terbendung lagi, terisak aku. Namun, aku tersentak tiba-tiba ketika seorang polisi –bukan Pak Dedi- memanggilku. Dia adalah polisi yang mendapat shift malam berjaga di polres kota ini. Polisi yang menawarkanku bebas jika mampu membayar 20 juta, tapi aku menolak.
“Hey Yadi, bangun! Ada yang mau ketemu itu.” Ia mengiraku tertidur, padahal memejamkan mata untuk memperoleh kekhusukanku membaca ayat-ayat cinta-Nya.
“Siapa pak?”
“Hati-hatilah kau, Bang Jalal sama Tomtom adeknya yang datang.” Jelas saja aku terkaget. Adiknya saja kemarin tidak segan-segan menghajarku, ini orangnya langsung. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Kencang sekali. Aku tak tahu harus apa dan bagaimana. Sesaat lagi akan berhadapan dengan kepala mafia. Kasian tubuh kerempengku. Ah sudahlah, pasrah saja, aku yakin Allah Maha Melihat dan menolong hamba-Nya yang teraniaya. Langsung ku langkahkan kakiku dengan mantab menuju lobi. Terlihat di sana dua tubuh kekar yang sepertinya telah bersiap memangsa tubuh kurusku. Benar saja, yang seorangnya adalah yang menghajarku kemarin tetapi nampak sedikit berbeda, di wajahnya seperti ada lebam bekas pukulan tepat seperti di wajahku, dan yang satu lagi pasti si Jalal itu. Sebentar kemudian, tepatlah aku berdiri di hadapan mereka. Deg….
“Assalamu’alaikum, Anda Pak Yadi gurunya Haikal?” Tanyanya dengan bahasa yang sangat sopan dan santun. Tidak seperti dugaanku. Aku terperanjat.
“Wa’alaikumussalam warohmatullah, iya benar pak. Bapak ayahnya Haikal ya?” Aku semakin kaget ketika tanpa basa-basi ia memelukku dan tak berapa lama dilepaskannya.
“Pak, maafkan adik saya. Demi Allah saya tidak tahu kalau bapak mendekam di sini karena tingkah adik saya.” Keherananku semakin bertambah.
“Maksudnya?” Tanyaku heran.
“Tom, sini kau! Sekarang minta maaf sama Pak Yadi. Cepat! atau mau kupukul lagi kau!” Ayah Haikal mengancam, dan sejurus kemudian Tomtom menjulurkan tangannya untuk bersalaman dan meminta maaf padaku. Aku pun membalasnya dengan wajah masih keheranan tingkat dewa. Lebay. Tingkat tinggi. Kemudian ia disuruh Ayah Haikal untuk menunggu di mobil.
“Begini pak, semua ini ulah adik saya. Dia itu memang sering buat kesal saya. Dia sering menggunakan nama saya untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas sekalipun” terangnya.
“Kenyataannya khan saya memang menjewer Haikal pak.”
“Alahh pak..pak… saya gak pernah mempermasalahkan jika ada guru yang mau menghukum Haikal jika dia memang salah. Itulah alasannya kenapa saya pindahkan Haikal dari sekolah yang lama. Semua guru takut menghukumnya karena tau dia anak saya. Bahkan Saya malah kagum sama orang yang memegang tinggi idealismenya tanpa rasa takut dengan bayang-bayang latar belakang apapun.”
“Jadi..?”
“Bapak malam ini juga bisa bebas, saya akan mengantarkan bapak pulang dan akan mengganti rugi berapapun yang bapak minta. Tapi mohon maafkan kami pak.” Aku tidak tahu mau berekspresi apa. Senang atau kesal.
“Saya bisa maafkan koq pak.” Aku mencoba tersenyum menatap wajah seorang Ayah yang terlihat begitu besar ketulusannya meminta maaf.
“Terima kasih pak, terima kasih!” Dia tiba-tiba meraih kedua tanganku dan menciumnya. Aku berusaha menarik dan menolaknya tapi tenagaku tak cukup.
“Pak tidak perlu begitu pak, saya jadi gak enak.”
“Saya memang dikenal sebagai seorang mafia, tapi saya sangat menghargai guru pak. Ayah Ibu saya dulu juga seorang guru, saya benar-benar merasakan bagaimana perjuangannya. Kerjanya keras, tak kenal waktu tapi gajinya sangat tak layak. Saya kagum masih ada manusia yang mampu bertahan menjadi guru dengan kondisi sesusah itu. Makanya saya ngerasa bersalah kali pak dengan tindakan adik saya.” Matanya berkaca-kaca dan aku hanya menghela nafas kembali mencoba tersenyum.
“Saya juga merasa berterima kasih pak. Karena dengan kejadian ini saya sadar harus berpikir masak-masak sebelum melampiaskan emosi yang asalnya dari syetan itu.” Kamipun beranjak meninggalkan kantor polisi itu. Mereka pun mengantarkanku sampai ke kos. Aku menolak semua tawaran yang diberikan. Bukan sok baik, guru adalah guru. Digugu dan ditiru. Kalau selama ini aku mengajarkan untuk menolong dan memaafkan tanpa pamrih, di sini aku juga harus bisa melakukannya walau syahwat keduniaanku benar-benar menolak. Aku bahkan bersyukur, memperoleh tarbiyah secara langsung dari Allah. Di perjalanan aku sempat bertanya perihal bagaimana ia bisa tahu bahwa aku dipenjara karena adiknya. Dia hanya mengatakan bahwa ba’da maghrib tadi ada seorang gadis yang datang ke rumahnya memohon untuk menarik tuntutannya. Namun, ia merahasiakan identitasnya sesuai permintaan gadis tersebut. Aku hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan…. Ah siapapun dia semoga Allah memurahkan rezekinya, memudahkan urusannya dan tercapai harapannya.
***
Ku hirup nafas panjang sembari mengerahkan seluruh potensi jasadku, dari yang kasat mata sampai yang tak kasat mata untuk mensyukuri nikmat illahi yang mengalir di tiap sendi-sendi kehidupanku. Aku sudah kembali lagi ke sekolah. Aku sudah sangat merindukan anak-anak. Dua hari kulalui di kurungan tapi seperti sudah dua tahun. Aku berniat untuk bicara secara pribadi dengan Haikal hari ini.
Ku sambut anak-anak yang datang, mereka tersenyum-tersenyum lugu melihatku. Ku balas juga dengan senyuman tulus penuh kasih pada mereka. Indahnya... senyum mereka memang pengobat luka yang ampuh bagiku. Apalagi senyumnya Xena, manis sekali. Dia anak ekspresif yang jika melakukan pola apapun pasti totalitas termasuk ketika senyum. Meskipun gigi serinya agak hitam.
Aku berjalan masuk menuju kelas, kupandangi setiap inci sudut ruangan dan agak kaget ketika melihat di atas meja ada sapu tangan yang hilang dua hari lalu. “Siapa ya yang menemukannya?” batinku bertanya. “Ah barangkali kemarin tidak kelihatan dan sekarang baru kelihatan” akupun menjawab sendiri.
Pelajaran ku mulai dengan cerita-cerita lucu dan mengikuti gerak-gerak cerita yang kukarang demi membuat senyum anak-anak mengembang. Semuanya riang dan senang. Namun tidak dengan Topo. Sedari tadi dia tidak meresponku. Biasanya dia selalu nyeletuk di sela-sela ceritaku, tapi kali ini beda. Nantilah di jam istirahat akan ku tanyai.
***
Jam istirahat pun tiba,
“Silakan semua anak-anak bapak berwudhu dan sholat dhuha ya!” Topo masih terduduk di kursinya, aku pun menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Pak?” sebelum ku mulai bertanya, dia sudah memulai terlebih dahulu.
“Saya, ada apa nak? Koq belum bergerak wudhu? Ada masalah ya?”
“Tadi mama ada nitip sesuatu, tapi males mau ngasih ke Bapak.”
“Emangnya apa yang dititip?” Aku benar-benar penasaran.
“Anu, pak…” Terpotong ucapannya.
“Anu apa?” Aku kembali menyerang.
“Undangan nikahnya Mama. Tapi udah saya buang.” Dhuarrr, seperti tersambar petir aku mendengarnya. Ternyata, dia bukan…..
“Mama mau nikah sabtu depan. Saya juga gak tau kalau mama dah mau nikah. Padahal saya cuma mau pak Yadi yang jadi Ayah Topo.” Dia menjelaskannya dengan nada yang lemas sekali. Tak kuasa aku melihatnya. Begitu juga dengan hatiku, kecewa. Tapi, buat apa juga aku kecewa. Aku saja yang selama ini kepedean. Hadeuh…
“Oh, kirain ada masalah apa. Nak, ada tiga hal dalam hidup ini yang hanya Allah yang tahu. Rezeki, Jodoh dan Maut. Jadi, sekuat apapun kita berusaha tapi jika ketentuan Allah beda ya kita harus bisa terima.” Aku mencoba menghiburnya, meskipun sebenarnya aku berusaha menghibur diriku sendiri. Emaakk…..
“Ya sudah, sekarang berwudhu sana! Sholat dhuha dan berdoa sama Allah semoga Ayah Topo nantinya mampu menjadi Ayah yang terbaik.” Aku mengelus-elus kepalanya dan ia pun bergegas ke tempat berwudhu. Aku mendadak tersenyum sendiri, teringat saat Topo menawarkanku jadi Ayah di rumahnya. Skenario Allah memang fantastis. Dahsyat….
“Haikal udah sholat?” pandanganku beralih ke Haikal yang sedang duduk di mejanya menyantap jajan bawaan dari rumah. Maklum, di sekolah ini dilarang membawa uang jajan kecuali uang ketring untuk makan siang. Ini dibiasakan agar anak-anak tidak mengkonsumsi makanan tidak sehat dan menghindari adanya kecemburuan sosial terhadap anak yang mampu dengan anak yang kurang mampu.
“Udah pak?” Jawabnya singkat dan aku menuju ke tempat duduknya.
“Maafin bapak ya nak yang kemarin itu! Bapak khilaf sampe harus menjewer Haikal.” Aku mengelus-elus kepalanya untuk menunjukkan bahwa aku menyayanginya. Membuktikan bahwa aku sangat menyesali perbuatan tersebut.
“Gak papa pak.” Jawabnya lagi singkat.
“Gak boleh ya nak manjat-manjat pohon itu! Berbahaya loh. Kalau nanti Haikal jatuh kan ada banyak orang yang menjadi cemas, termasuk bapak. Mainan khan banyak, gak harus manjat-manjat.”
“Anu pak, sebenarnya ada yang mau saya ambil.” Jelasnya tanpa melihat ke arahku. Dia tampak malu-malu.
“Hmm, ngambil apa? Mangga?”
“Bukan pak!” Tegasnya.
“Jadi?” serangku lagi.
“Sapu tangan bapak. Waktu itu terbang keluar kelas trus nyangkut di pohon itu.” Langsung aja jawaban Haikal meluluhkan hatiku. Air mataku keluar, aku menangis haru dan sesal. Aku tersadar, kenapa aku tidak bertanya padanya terlebih dahulu waktu itu. Aku benar-benar zhalim. Ku peluk haikal erat. Aku sesenggukan di depan anak-anak. Mereka heran denganku, semua mata tertuju padaku tapi aku tak peduli. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat.
“Maafkan bapak ya nak, bapak benar-benar jahat.” Masih ku peluk Haikal, dia tidak bisa berkutik. Diam saja. Namun, semuanya buyar ketika seorang anak nyeletuk.
“Eh liat, ingus Pak Yadi keluar!” Xena. Gubrak!!!
“Xeeeenaaaa!!!!”


Tamat.

Minggu, 18 Januari 2015

Sepenggal Suka Duka Seorang Guru (bagian 1)

Hari ini, kemarahannya menyulut kemarahanku. Anak yg memang kukenal sebagai sosok tempramen itu berhasil membuatku memukul meja berkali-kali. Tapi anehnya tak memberi ketakutan berarti baginya. Padahal jarang sekali aku bisa marah. Tapi ya sudahlah,barangkali Sang Penyayang menunjukkan ayat-ayat cintaNya melalui peristiwa ini.
Kemudian suasanapun drastis berubah ketika muncul satu sosok bocah dengan senyum innocent nan lugu menyeletuk, "Pak, lagi ngerjain apa kita?". Pertanyaan itu langsung disahut sinis oleh teman-temannya dan ada juga yang tertawa tidak terbahak.
Suasana ini benar-benar memecah kebekuan amarah yang menyelimutiku. Namun, terlalu gengsi untuk tertawa. Jangankan tertawa, untuk sekadar mengikuti arus kelucuan saja aku tak sudi. "Kekonyolan yang luar biasa", Pikirku mengingat pelajaran sudah berlangsung dua jam pelajaran lebih tetapi masih tidak tau ia apa yg ku perintahkan untuk dikerjakan tadi.
Batu,
Ia keras,
Sukar pecah, maupun diluluhkan
Tidak bisa merasa,
Tidak mau bergerak,
Itulah batu. "Aku"
Terlalu beda memang dua muridku ini. Kukatakanlah padanya –si sosok bocah lugu nan ekspresif pemilik nama Xena Juwita- “ Nak, yang sedang kita kerjakan hari ini adalah sebuah proyek besar untuk kepentingan futuristik tanpa meninggalkan aspek kekinian dan masa lampau. Masa lampau kita jadikan “the best experience” dan hari ini kita jadikan sebagai titik tolak dalam melangkah demi kehidupan yang lebih baik menyongsong peradaban berkerakter di tengah arus modernisasi”.
Semua siswa seketika terdiam melongo menunjukkan ekspresi ketidaktahuan mendalam, terkecuali bocah ekspresif yang ada di hadapanku ini yang mengerutkan dahinya mencoba memahami kalimatku. Hembusan angin masuk ke ruangan melalui pintu kelas yang terbuka menerpa jilbab putih yang membaluti kepala mungilnya, kemudian ia manggut-manggut. Aku takjub. Ternyata ia mampu memahami omonganku yang sebenarnya terkesan ngawur dan sengaja agar membuatnya bingung. Seranganku meleset.
“Pahamkah engkau?” Tanyaku tegas, dan ia dengan tenangnya kembali ke tempat duduknya tidak mempedulikan pertanyaanku. Setelah duduk ia pun mencoba membuka mulutnya, “Entah ngomong apa bapak ini…” Gubrakkkkk!!!!
Pecahlah sudah batu itu. Tak mampu lagi aku menahan tawa. Terbahak aku di depan anak-anak. “Dimana, dimana gengsiku tadi?” aku sudah tidak tahu.
Batu,
Ia keras,
Sukar pecah maupun diluluhkan,
Namun, sukar tidak berarti tak bisa,
Tetesan air yang lembut saja mampu melubanginya,
Kini, batu memalu. “Aku”
Tertawaku ternyata bertepuk sebelah tangan. Murid-muridku tidak paham. Sebagai anak kelas tiga SD ilmu mereka mungkin belum sampai jika dihadapkan dengan fenomena hari ini, eh kata fenomena aku ralat deh. Kejadian aja. Terlalu mendramatisir jika kata fenomena digunakan untuk mengilustrasikan peristiwa ini.
Marahku di awal yang kulampiaskan di atas meja si Topo tadi, kini telah reda oleh tingkah si Xena. Begitulah di kelas ini, ada penyakit tetapi obat juga ada. Eitt, tunggu dulu. Sebelumnya, aku ingin bercerita tentang satu hal. Sosok tempramen yang tidak suka diganggu tetapi suka mengganggu ini namanya Topo Lukito. Tubuh kurus berkulit gelap ini memiliki rambut lurus. Lurusnya ke atas. Bahkan teman-temannya sering berkata padaku, kalau ada balon kena rambutnya pasti meledak. Perkataan yang tidak baik batinku, apa lagi bagi seorang guru sepertiku.
Dengan mendengar namanya, orang manapun bisa menebak kalau Topo adalah orang Jawa. Begitu juga bagiku saat pertama mengenalnya. Tetapi, itu salah. Ternyata Topo Lukito adalah orang Melayu. Tak habis pikir aku dibuatnya. Namun, ada penjelasan yang logis kok kenapa bocah berkulit gelap ini bukan orang Jawa, bahkan ia sangat marah jika disamakan dengan orang Jawa. Kata Topo, orang Jawa itu pemalas. Iya, pemalas. Sempat tersinggung juga aku mendengar ungkapan dari mulutnya, pasalnya aku orang Jawa. Nanti aku jelaskan kenapa ia tidak suka disamakan dengan orang Jawa.
Beberapa bulan yang lalu ia pernah menyampaikan sesuatu yang amat rahasia padaku. Waktu itu, pagi hari senin pukul 06.40 wib. Jam sepagi itu tak biasanya ia datang cepat, tapi sudah biasa bagiku. ia menemuiku dengan melihat ke kanan dan ke kiri seolah ketakutan jika langkahnya mendekatiku diketahui orang lain.
“Po, kenapa kamu?” Tanyaku.
“Anu pak, ada yang kirim salam sama bapak.” Jawabnya sambil senyum malu-malu. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku.
“Siapa?” Tanyaku penuh tanda Tanya.
            “Anu pak, tapi jangan bilang siapa-siapa ya pak?”
“Iya, siapa?” aku menjadi tambah penasaran.
“Mama, pak” ia langsung berhambur lari menjauhiku menuju ke kelasnya. Aku terdiam membisu dan terpojok seolah semua memandangiku ingin memangsa. Termasuklah laptop di hadapanku, detakan jam dinding di sebelah pintu, dan meja kursi yang tersusun sedemikian rupa di dalam kantor yang masih sepi ini. “Apa gak salah?” batinku. Ah mungkin perasaan hatiku yang sedang dilanda kegeeran saja. Kalau itu benar, bisa digampar bapaknya aku. “Hihihi”, tawaku kecil.
***
“Anak-anak semua yang bapak sayangi, orang yang paling utama untuk kita hormati di rumah adalah kedua orang tua kita. Terus, di antara Ayah dan Ibu siapakah yang lebih utama untuk dihormati, Xena?” pertanyaan appersepsi ku tujukan kepada Xena yang sedari awal aku masuk dan memulai pelajaran PKn ini ia hanya asyik bercerita dengan teman satu mejanya Vivi. Sontak saja membuat Xena gelagapan dan terdiam malu dan langsung menghentikan perbincangannya.
“Ayo jawab Xen! Atau Vivi juga boleh dech!” tepat seperti perkiraanku mereka tidak bisa menjawabnya. Namun, Topo langsung menyahut dari jarak jauh, “Ibuuu….” Teman-teman lain terdiam dan pandangan beralih ke Topo seakan melupakan kejadian Xena dan Vivi.
“Ohhh Topo udah berubah namanya ya?” Sindirku.
“Makanya, kalau bapak sedang menjelaskan, kalian jangan ikut menjelaskan. Ganti-gantian kita ngomongnya ya Xen! Atau Xena aja yang jelaskan di depan biar bapak yang mendengarkan” Tambahku. Mereka hanya terdiam kecuali si Topo yang seperti tak peduli dengan apapun yang terjadi. Begitulah Topo, kelihatannya aku harus mengunjungi rumahnya untuk berkomunikasi dengan orang tuanya membicarakan perilakunya selama ini yang kerap membuatku kesulitan mengelola kelas ini. Ada banyak catatan kurang baik di buku jurnal perkembangan sikap siswa mengenai dirinya. Itu nantilah, biar ku selesaikan dulu pelajaran ini.
“Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membahas, bahwa orang yang paling utama untuk dihormati adalah…..”
“Ibu….” Jawab anak-anak kompak.
“Terus siapa lagi?”
“Ibu…” Jawab mereka lagi
“Kemudian…”
“Ibu…”
“Dan yang ke empat….” Tanyaku mengakhiri.
“Ayah…”
“Jadi…” penjelasanku terhenti saat kulihat Xena mengangkat tangannya seperti ingin member pertanyaan.
“Iya Xena, ada apa?”
“Pak, berarti Ibu kita harus tiga ya Pak?” Tanya Xena penuh dengan keluguan yang menafsirkan pembahasan ini terlalu dalam bahkan melebihi teman-temannya. Siswa yang lain hanya tertawa dan beberapa protes.
“Ehhh bukan, yang benar empat.” Jawabku iseng sambil tertawa. Siswa-siswa hanya mampu menunjukkan ekspresi kebingungan yang amat mendalam sedalam cara berpikir si Xena tadi. Dan akupun langsung meluruskan, takut anak-anak terjebak dalam penafsiran yang salah.
Ketika jam pulang pun tiba, selesai anak-anak membaca do’a pulang aku langsung memanggil Topo untuk menjelaskan bahwa aku akan berkunjung ke rumahnya menemui orang tuanya.
“Baik anak-anak silakan pulang kecuali Topo, sebentar ada yang bapak sampaikan.” Anak-anak pun berhambur pulang berebut menyalami tanganku hingga membuatku terdesak. “Pelan-pelan nak!” Dan dalam hitungan detik kelas menjelma menjadi sepi tinggal berdua Aku dan Topo.
“Topo, hari ini pulang bapak antar ya! Bapak mau bertemu dengan orang tua kamu tadi udah Bapak telepon kok mama kamu.” Mendengar kata-kataku mendadak ekspresi wajah Topo berubah berseri sumringah padahal dari tadi merengut saja. Aku hanya heran tak mengerti dengan arti semua ini, padahal Aku datang ke rumahnya karena membicarakan tingkahnya yang mulai membuatku kerepotan. “Ah biarlah!” pikirku sambil merapikan barang-barang yang hendak ku tinggalkan dan sebagian ku bawa pulang. Semuanya berserakan di atas meja bak ada karang yang baru saja ditabrak bahtera.
“Pak?” Tiba-tiba Topo menghentikan aktivitasku sejenak.
“Ya?” Jawabku singkat dan ku lanjutkan lagi merapikan barang-barang tadi.
“Anu, Bapak mau jadi ayah Topo?” Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah Topo untuk melampiaskan ketersentakanku mendengar ucapannya. Tapi langsung ku positifkan cara berpikirku. Mungkin ayah dalam artian menyayangi.
“Ya kalian kan semua memang anak bapak. Bapak menyayangi kalian walau terkadang buat bapak jengkel dan emosi.” Jelasku sambil melanjutkan merapikan barang yang tinggal sedikit lagi.
“Bukan gitu loh pak. Jadi Ayah Topo di rumah, maksudnya.” Tersentak lagi Aku dibuatnya. Untung proses merapikan sudah rampung, jadi tidak perlu lagi jeda karena melampiaskan ketersentakan seperti tadi.
“Hahahah, bisa digamparlah bapak sama Ayah Topo.” Aku hanya tergelak menganggap Topo hanya bercanda.
“Ih Bapak ini!” Dia mulai kembali merengut.
“Udah, ayok berangkat!” Ajakku.
Rumah Topo cukup jauh dari sekolahnya bagi seukuran anak SD, kurang lebih 8 Km dari Sekolahnya. Biasanya ia diantar jemput oleh Mamanya dengan sepeda motor matic. Aku memang tidak pernah melihat sosok Ayahnya. Maklumlah, Aku guru yang baru mengajar 3 bulan yang lalu di sekolah ini. Terlambat memang baru hari itu Aku mulai mengenali latar belakang keluarga siswa-siswaku. Padahal Ron Clark seorang tokoh guru yang pernah ku tonton dalam filmnya “Ron Clark Story”, sebelum mengajar di sebuah sekolah yang terkenal dengan banyak kasus kejahatan anak-anaknya ia mengunjungi semua orang tua siswa untuk mengajak bekerja sama dalam proses pendidikan anak-anaknya. Biarlah terlambat, bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Beberapa menit kemudian tibalah Aku di sebuah rumah 2 lantai dengan pagar besi yang cukup tinggi. Tidak begitu besar, minimalis dengan banyak susunan bunga di dalam pot rapi. Indah sekali. Topo langsung lari menuju pintu dan berteriak tanpa salam seperti kegirangan.
“Mamaaa….. Pak Yadi datang!” Teriak Topo dengan gembiranya sambil menggerakkan gagang pintu tetapi tidak terbuka. Mungkin dikunci. Dia tidak sadar bahwa aku datang ke rumahnya sebenarnya karena kelakuan buruknya. Aneh.
“Po, pake salam donk!” Tegurku. Ia hanya tersipu malu.
“Assalamu’alaikum, Mama?” Terdengar suara menjawab salam dari dalam rumah dan dengan sekejap terbukalah pintu. Pintu yang membatasi kami dengan penghuni yang ada di dalam. Muncullah sosok wanita dengan hijab rapi nan indah mempresentasikan kesholihan dan keanggunan pemakainya. Wanita berkulit putih dengan mata sipit, sangat jauh dari kata mirip dengan anaknya Topo Lukito. Masih kelihatan sangat muda dan….CANTIK. Membuat tubuhku merinding dan salah tingkah.
“Silakan masuk pak!” Ramah tamahnya memecah kekikukanku (apa ada kata itu?). Astaghfirullah, aku tersadar dan sisi baik hatiku berkata, “Yadi, ingat dia udah punya anak! Jangan sampai kau beneran digampar suaminya. Ingat dosa juga Yadi!”
“Iya buk terima kasih!” Jawabku sambil menunduk mengurangi grogi dan masuk.
“Pak, pake salam donk!” Topo menegurku, rasanya Gubrak gimana gitu. Aku malu. Mungkin kalau kulitku putih langsung kelihatan mulai memerah. Untungnya Aku berkulit gelap.
“Oh iya Po, Assalamu’alaikum!” Sedetik itu pula Topo menghilang dari pandanganku menuju ke belakang bagian rumahnya.
Langsung aku disuruh duduk di sova coklat yang tersusun rapi di ruang tamu. Di atas mejanya sudah ada segelas teh dan beberapa camilan.
“Begini buk, sebelumnya mohon maaf karena mengganggu waktu ibuk. Maksud kedatangan saya kemari untuk bersilaturahim selaku saya sebagai gurunya Topo dengan Ibu maupun Bapak selaku orang tuanya. Dan maksud yang berikutnya, saya cuma ingin tahu bagaimana aktivitas Topo kesehariannya agar saya dan Ibu maupun Bapak bisa mencari solusi menangani perilaku ananda yang kurang baik di sekolah.” Aku mencoba menjelaskan maksud kedatanganku dengan kata-kata yang tidak kurancang sebelumnya. Kacau memang.
“Iya pak, sebenarnya semenjak saya menerima telepon dari bapak tadi saya sudah bisa menebak pasti anak saya melakukan sesuatu yang tidak baik. Saya mengakui koq pak, di rumah saja pun dia begitu. Agak susah belajar, maunya main game, kalau jumpa temannya pasti berkelahi. Terkadang saya juga hampir menyerah pak.” Sejenak kami terdiam, Aku masih tertunduk dan mencoba sedikit demi sedikit mengangkat wajah untuk melihat Mamanya Topo. Aku kaget, matanya berkaca-kaca dan tak menunggu lama air matanya pun jatuh.
“Maaf ya pak, saya gak bisa menahan ini.” Sambil mengusap air matanya sementara aku masih terdiam bunging tak tahu harus apa. Kemudian ia melanjutkan penjelasannya.
“Sebenarnya saya kasihan dengan Topo Pak. Perlu bapak ketahui, saya ini bukan Mama kandungnya.” Aku langsung tersentak.
“Jadi?”
“Topo itu anak Kakak saya. Kakak saya itulah Bunda si Topo. Namun, sejak Topo berumur tiga tahun Saya dan Ibu saya yang mengasuhnya.” Aku langsung teringat tawaran Topo untuk menjadi Ayahnya. Mungkin Mamanya ini –yang berada di hadapanku- yang ia maksudkan. Hihihi, aku geli. Tapi ku tahan, karena wanita anggun ini sedang menangis. Walaupun Aku tak mengerti maksud tangisannya, setidaknya aku menghormatinya. Karena di saat orang lain bersedih dan kita tertawa, itu bisa diartikan mengejek.
“Maaf buk kalau boleh tahu, Ayah dan Bunda Topo sekarang di mana ya?” Ia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku.
“Saya akan ceritakan semua kronologisnya pak, cukup panjang kisahnya. Oh iya, diminum pak tehnya!” Aku tersenyum dan langsung menyeruput teh buatan Mamanya Topo. Mama angkat. Kemudian meletakkan kembali ke meja. Sudah tak sabar aku ingin mendengar kisahnya. Saat itu langit mulai mendung seperti sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan perintah malaikat Mikail untuk menurunkan hujan.
“Ayah Topo adalah seorang kontraktor yang berasal dari Solo. Saat itu kebetulan sekali dia mendapat tugas di sini dan saat itu pulalah mereka bertemu. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa bertemu, yang pasti setelah pacaran 5 bulan mereka memutuskan untuk menikah. Setelah menikah lahirlah dua orang anaknya, yang pertama Topo dan yang kedua Aini. Aini sekarang dibawa kakak saya ke Malaysia. Ia bekerja di sana sebagai TKW. Semenjak setelah menikah, Ayahnya sering keluar kota. Keadaan ini memicu ketidakharmonisan hubungan mereka. Hingga tiba akhirnya ketika Topo berusia 6 tahun, Ayah Topo di-PHK oleh perusahaannya. Sejak saat itulah hubungan mereka semakin parah. Ayahnya mulai malas-malasan, untuk mencari kerja sajapun tidak mau. Kalaupun ada, kerjanya milih-milih. Maunya enaknya saja. Ia benar-benar menjadi pemalas.”
“Oh pantas saja Topo pernah bilang kalau orang Jawa pemalas ya buk?” Aku menyela.
“Iya pak, bahkan dia tidak mau disebut sebagai orang Jawa. Padahal ayahnya Jawa asli. Sampai-sampai Topo mendeklarasikan diri tidak mau disebut sebagai orang Jawa. Dia maunya disebut sebagai orang Melayu seperti Bundanya.”
“Hebat juga Topo ya buk, usia 6 tahun saja sudah paham dan bisa mengambil kesimpulan hanya dengan mengamati perilaku Ayahnya?”
“Sebenarnya tidak sesederhana itu, yang membuat ia membenci Ayahnya adalah Bundanya juga. Setiap Bundanya pulang, ia selalu dihasut Bundanya agar membenci ayahnya karena pemalas itu dan kalau ditanya kenapa pemalas ia akan menjawab karena orang Jawa.” Imbuh Mama Topo. Tetapi masih ada satu hal yang aneh. Kalau Topo tidak menyukai orang Jawa, kenapa dia menawarkanku menjadi ayahnya? Apa harus ku tanyakan ya? Ah tidak mungkin ku tanyakan hal itu. Hihihi, aku tertawa kembali di dalam hati karena membayangkan lucunya tawaran itu bagiku meskipun kalau boleh jujur hmmm… aku, ah entahlah. (tafsirkan sendiri, :-D)
“Jadi sekarang Ayahnya di mana ya buk?” sergahku.
“Iya pak, klimaksnya ketika Topo masuk di bangku SD. Kondisi keharmonisan mereka semakin kacau dan menjadi-jadi hingga terucaplah kata cerai dari mulut ayahnya. Sedangkan bundanya pun sepakat. Ayahnya pulang ke kampung halamannya di Solo dan tak pernah kembali lagi sampai sekarang. Hal ini ditambah parah dengan kondisi ekonomi yang juga semakin memburuk. Ternyata kepergian ayah Topo meninggalkan utang cukup banyak.” Aku berpikir sejenak, rumah 2 lantai minimalis mewah seperti ini menunjukkan pemiliknya adalah orang yang berada. Apa iya ibunya tidak mau membantu? Kemudian pertanyaan hatiku langsung terjawab ketika gadis putih bermata sipit ini menambahkan penjelasannya.
“Mungkin bapak berpikir kenapa kami tidak membantunya kan?” Aku tak menunjukkan ekspresi apa-apa tetapi sebenarnya juga sangat ingin tahu.
“Kakak saya itu pak, anaknya sangat mandiri sejak kecil dan tidak mau menceritakan masalahnya apa lagi meminta bantuan kepada orang lain. Padahal banyak orang yang sudah mendatanginya untuk menagih utang mantan suaminya dulu meskipun kakak saya tidak tahu apa-apa mengenai itu. Namun akhirnya kakak saya tidak mampu menahan masalahnya sendiri. Hal ini disebabkan ada beberapa orang yang datang dengan didampingi polisi dan pengacara ke rumahnya. Mereka membawa surat sita rumah kakak saya. Rumahnya disita dan sekarang jadi milik salah satu bank.” Suasana hening sejenak, hingga suara gemuruh angin dengan hiasan kilatan petir terdengar jelas dari dalam rumah yang sedang kami jadikan tempat pertemuan. Sebatas guru dan klien. Langit semakin mendung, semendung hati mamanya Topo. Pas seperti film India, jika sedang sedih-sedih pasti langit berubah jadi mendung ditambah suara kilatan petir dan kemudian turun hujan. Hanya saja saat itu tak turun hujan.
 “Mama Topo kemudian datang kemari dengan sambil menggendong dua tas besar dengan ekspresi wajah memaksakan diri untuk tersenyum. Karena ia malu harus mengakui masalahnya. Ketika di dalam kamar kami berdua, saat itulah ia menceritakan masalahnya kepada saya Pak. Intinya, Topo menjadi anak yang sedikit kasar itu karena latar belakang keluarganya juga. Anak sekecil ia belum pantas menerima beban sepahit ini. Saya sangat iba pak.” Tangis Mama Topo meledak tak terbendung. Aku hanya serba salah tak tahu harus apa.” Itulah kejadian beberapa bulan yang lalu saat aku mengunjungi rumah Topo.
Aku pun mulai mencoba memahami karakter dia untuk segera kutangani kenakalannya hanya saja terkadang aku juga tidak bisa menahan amarahku. Hari ini ia mengejek si Haikal teman sebangkunya dengan kata “Gendut”, padahal anaknya memang gendut. Tetapi tidak terima dengan ejekan itu kemudian langsung mendaratkan tinjunya di wajah Topo. Hingga terjadilah perkelahian sengit. Aku geram saja, kenakalan anak yang paling tidak kusukai ya perkelahian. Najis aku kalau sudah berhadapan masalah yang satu ini. Memang agak lain tingkah anak-anakku belakangan. Mereka jadi sering bermain-main silat-silatan. Aku yakin ini pasti disebabkan acara televisi yang belakangan sering menayangkan sinetron beradegan perkelahian dengan mengenakan baju sekolah. Fiuhhhh…. Pening kepala Spongebob.
Haikal adalah anak salah satu konglomerat di kota ini. Ayahnya seorang kepala mafia yang cukup terkenal. Secara ilegal mengimpor barang-barang dari Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Berbagai jenis barang diimpornya, sebut saja Gadget, peralatan elektronik rumah tangga bahkan barang gelap juga ada. Ayah Haikal bukan orang sembarangan, ia dilindungi oleh oknum tertentu untuk memuluskan usahanya. Itulah yang aku dengar dari teman-teman mengajarku. Guru-guru banyak yang tidak berkutik berhadapan dengan Haikal jika sewaktu-waktu ia melakukan suatu kesalahan. Apalagi Haikal ini anak semata wayang. Namun, untungnya Haikal bukanlah tipe anak yang nakal. Anaknya pendiam, nurut, hanya saja sedikit tempramen. Aku memang belum sempat datang silaturahim ke rumahnya sampai saat ini.
Pelajaran yang unik yang dapat aku ambil. Sekelas mafia seperti ayah Haikal saja tidak suka jika keturunan tunggalnya mengikuti jejak buruknya. Buktinya, Haikal malah disekolahkan di sini SD islam terpadu yang memiliki program andalan Tahfidz dan Qiro’ah. Menekankan perbaikan karakter yang baik, yang selalu mengawasi dengan ketat kewajiban lima waktu anak-anaknya dan menekankan kedisiplinan ekstra keras dengan jurus Ka-eS alias kasih sayang. Jika seperti inilah mindset seluruh orang tua di negeri ini, aku yakin akan muncul generasi sholih-sholihah yang mampu menciptakan kampung-kampung tarbiyah seperti lagunya UCIHA Nasheed yang diciptakan oleh Rian itu. Nasyid favoritku. Heheh….
***
Langit berubah menjadi gelap, angin cukup kencang bertiup, aku masih keasyikan menikmati alur waktu yang terus berlalu sambil menunggu anak-anak menyelesaikan tugas yang ku berikan sekaligus bel istirahat yang tak kunjung berbunyi. Hari ini aku sangat kelelahan. Malam tadi aku begadang menyiapkan pembelajaran hari ini. Wajar saja, kurikulum 2013 ini membutuhkan persiapan matang dan mantab baik materi maupun fisik pengajarnya.
Sesekali aku berkeliling memeriksa pekerjaan anak-anak sambil menyindir beberapa siswa yang melirik pekerjaan temannya.
“Hayo Vivi, kok melirik jawaban Xena?” Tegurku tiba-tiba hingga membuat Vivi gelagapan.
“Mencontek dia tu pak!” Sela Topo.
“Yee, gak ya!” Vivi membela diri
“Jadi kenapa kamu melirik-lirik Xena?” Aku bertanya, sebenarnya hanya pertanyaan retorik yang tak harus dijawab. Namun, aku tercengang saat secara tiba-tiba Xena menyahut.
“Vivi gak mencontek pak, dia Cuma memastikan jawabannya sama apa gak sama jawaban Xena.” Sahutan lugu Xena kembali membuatku tertawa. Hahahah, lucu banget batinku. Xena memang cerdas dibanding teman yang lain. Dia mampu masuk dan memahami hal-hal detail yang aku ucapkan. Hanya saja ia memiliki kebiasaan buruk. Suka bercerita saat guru menjelaskan. Tak patoooot! (kata Mail dalam serial kartun Upin Ipin)
Kembali aku terduduk di bangku guru, masih menunggu, sambil meresapi nikmat ilahi. Sembari kulakukan hal kecil yang menurutku sangat berarti untuk mengiringi akalku yang sedang terbang entah kemana menghayalkan semua kejadian yang pernah kulalui. Menghayalkan amanah sebagai seorang aktivis, menghayalkan tunggakan kos dan hutang, menghayalkan kampung halaman, dan menghayalkan masa depan. Tiba-tiba sekelebat tergambar wajah mama Topo dipikiranku. Eh, koq jadi mama Topo. Hihihi, aku jadi malu dengan pikiranku. Hanya bisa berucap istighfar untuk menutupinya. Gimana ya kabarnya sekarang? Ehh……keceplosan.
“Eh liat, Pak Yadi ngupil!” Gubrak!!!! Tegur Xena yang secara tidak sengaja mempermalukanku di depan teman-temannya yang lain. Aku hanya bisa meringis malu karena disambut tawa terbahak oleh anak-anak. Langsung ku tata diri hendak menyahut, tetapi kembali Topo berujar membela,
“Itu tandanya Pak Yadi pembersih woy!” Senengnya dibela.
“Betul tu Po, coba aja kalian bayangin kalo seandainya hidung kalian dipenuhi dengan…., hiii jijik khan?” Aku mencoba membela diri dan dalam hati mengejek Xena “wekkk gak kena!”
Bel kemudian berbunyi menandakan jam istirahat tiba. Anak-anak berhambur menyerahkan jawaban mereka dan secara mandiri langsung menuju ke tempat berwudhu untuk melaksanakan Sholat Sunnah Dhuha. Inilah istimewanya SDIT, anak-anak sudah terbiasa akan hal itu. Tanpa perlu harus membentak-bentak menyuruh mereka karena sudah dibiasakan sejak kelas 1.
Aku merapikan jawaban anak-anak untuk kuperiksa nanti di kantor. Karena pasti terganggu jika di kelas ini ku periksa. Harus fokus. Saat merapikan dan hendak berjalan keluar aku baru sadar bahwa sapu tanganku hilang, padahal sedari tadi ada di meja. “Kemana ya?”. Langsung ku tanyakan ke anak-anak.
“Anak-anak, ada yang liat sapu tangan bapak?” Mereka melihat kanan dan kiri mencoba membantuku mencarinya, tapi tak kunjung jumpa. Ah, ya sudahlah, cuma sapu tangan. Nanti bisa ku bawa yang lainnya. Masih ada 2 sapu tangan lagi di rumah. Aku langsung bergegas turun menuju kantor. Kelas 3 memang terletak di lantai 3, jadi harus kuat-kuat lah apalagi sambil membawa buku anak-anak ini. Memang sih, aku masih muda jika harus mengeluh karena tangga ini. Jadi malu.
Sampai di kantor, ku sempatkan sholat dhuha 2 rekaat dan langsung memeriksa jawaban anak-anak. Tidak ada waktu ngerumpi dengan guru-guru, karena jika ini ditunda nanti jadi tambah merepotkan disebabkan kerjaan yang lain juga sudah menunggu. Beberapa menit mengerjakan aku heran dan kaget ternyata jawaban anak-anak sangat mengecewakan. Aduh, serasa persiapan mengajarku tadi malam sia-sia. Mau pecah rasanya kepala ini. Kok bisa sih? Benar-benar mengecewakan.
“Pak Yadi, Pak Yadi! Haikal manjat pohon pak!” Rezi si ketua kelas datang menemuiku terburu untuk memberi tahu suatu kejadian penting. Langsung aja emosiku kembali meledak. Aku lelah, kecewa dengan jawaban anak-anak ditambah lagi tingkah Haikal. Aaaaahhhh….. langsung aku berlari menuju lokasi.
“Haikaaal… turun!!” Haikal kaget dan memaksakan mulutnya tersenyum kaku sambil bergegas turun. Begitu sampai di bawah, ibu jari dan telunjuk tanganku secara refleks mendarat di telinganya. Menjewer. Tapi tak lama, aku langsung sadar dan melepaskan tanganku.
“Kok manjat-manjat sih nak! Kalau jantuh nanti gimana? Bisa patah tangan dan kaki kamu!” Aku marah-marah tak tahu arah. Seperti kesetanan saja. Namun begitu sadar aku langsung istighfar sebanyak mungkin.
“Sekarang Haikal istighfar 30 kali ya, dan berjanji dalam hati tidak mengulanginya!” Haikal hanya terdiam tanpa ekspresi. Aku mendadak takut. Takut kemarahanku mematikan mentalnya. Aku langsung mengelus kepalanya menunjukkan kasih sayangku. Karena aku pernah membaca sebuah artikel, memarahi anak dengan emosi yang tinggi mampu membuat mereka ketakutan sehingga merusak mental. Kerusakan mental inilah yang pada jangka panjang juga merusak karakternya. Kembali kuperhatikan dia baik-baik. Ia masih komat-kamit, membaca istighfar sampai 30 kali seperti yang ku perintahkan tadi.
“Itu berbahaya nak, kamu bisa jatuh. Jangan ulangi ya!” ku turunkan nada bicaraku.
“Iya pak!” Haikal menyahut pelan.
***
Sampailah aku di kamar kos kecil tempat di mana aku sejenak melempangkan badan untuk kemudian kembali beradu dengan nasib membuktikan bahwa aku adalah manusia yang mampu survive menatap masa depan. Langsung saja ku banting tasku di sebelah kasur dan ku rebahkan badanku hingga terlelap.
Belum lama aku terlelap terdengar suara ketukan keras di pintu. Keras sekali seperti memaksa aku segara membukanya.
“Iya sabar!” Langsung kurapikan diri sekenanya dan kemudian membuka pintu. Begitu ku buka, aku sangat kaget karena yang datang dua orang berseragam dengan susunan simbol-simbol yang tak kumengerti menempel di bajunya. Mereka polisi. Kemudian muncul juga seorang pria berbadan cukup kekar dari belakang kedua polisi tersebut mendaratkan pukulannya tepat di wajahku. Cukup keras, karena aku sempat limbung dan terjatuh di lantai kamar. Ketika sudah jatuh pun ia berusaha menginjakku, untung saja kedua polisi tersebut menahannya.