“Kurang
ajar kau ya, binatang kau, …..!” Ada banyak makian yang tak layak disebutkan
dari mulutnya. Sengaja aku menyensornya di sini. Aku hanya tak mengerti
apa-apa. Rahangku, sakit sekali, serasa patah akibat pukulan pria kekar yang
berpenampilan seperti preman itu.
Dengan
cepat, polisi tadi memborgol dan membawaku secara paksa untuk masuk ke mobil
yang mereka kendarai. Aku masih tak tahu dan bingung.
“Ada
apa ini pak?” Aku mencoba bicara dengan paksa karena masih terasa sakit sekali
rahangku. Tanpa sadar air mataku keluar. Aku linglung, seperti mendadak menjadi
gila. Aku tak mengerti dengan semua ini dan sangat tidak menduga peristiwa
seperti ini akan menimpaku. Mereka tidak menggubris pertanyaanku, sementara aku
masih menduga-duga kesalahan apa yang telah kulakukan hingga berakibat seperti
ini. Ya Allah kuatkan hamba-Mu.
***
Sesampainya
di kantor polisi akupun diinterogasi oleh salah seorang petugas kepolisian
berwajah ramah penuh senyum, tidak seperti polisi yang digambarkan dalam
sinetron-sinetron yang selalu mengidentikkan petugas polisi dengan wajah
sangar. Dari seragam yang dikenakannya aku bisa mengetahui namanya Edi Prabowo,
tertulis jelas di atas saku kanannya. Orang Jawa. Proses interogasi pun dimulai
dengan memastikan identitasku dan menyampaikan hal yang membuatku kaget
setengah mati.
“Aman
Hariyadi, Anda telah dituntut oleh keluarga Bapak Jalal Abdi karena telah
melakukan tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap anaknya di sekolah. Anda
dikenakan pasal berlapis tentang penganiayaan dan tindakan kekerasan KUHP pasal
335 dan 351. Anda terancam dipenjara paling lama lima tahun.” Aku seperti
disambar petir. Aku harus mendekam di penjara selama lima tahun? Benarkah?
Seketika itu pula aku mencoba mengingat-ingat kejadian pagi tadi di sekolah.
Iya, aku menjewer kuping si Haikal. Masa sih aku masuk penjara hanya gara-gara
menjewer kuping? Aku terus bertanya-tanya tapi tak bisa berkomentar apa-apa.
Beberapa detik kemudian datanglah pria kekar yang tadi memukulku.
“Hey
guru bejat, berani-beraninya kau cari masalah sama keluarga Bang Jalal ya? Kau
tau gak siapa Bang Jalal itu? Jawab!” Dia membentak sambil mendorong kepalaku
keras sampai membuatku hampir terjatuh dari kursi panas ini, tapi masih saja
aku tak bisa berucap apa-apa.
“Udah
Bang, tinggal aja! Biar ku selesaikan tugasku.” Cegah pak polisi yang tadi
menginterogasiku dan preman itupun berlalu sambil menatapku sinis seperti
hendak melumatku.
“Pak
polisi?” Aku mencoba membuka mulut.
“Ada
apa?”
“Siapa
sebenarnya dia itu? Apa polisi juga?” Aku sungguh penasaran dan pak polisi pun
menarik nafas panjang sebelum menjawabku.
“Bukan,
dia adiknya Jalal mafia terkenal itu. Ayah dari anak yang anda pukul.” Jawabnya
dengan penuh kesal, terlihat dari ekspresinya.
“Pak,
saya tak pernah memukul murid-murid saya. Saya hanya menjewernya karena saat
itu sedang lepas control. Tidak pernah sebelumnya saya main fisik begitu pak.”
Kembali aku menjatuhkan air mataku. Tiba-tiba aku teringat mamak, bapak, dan
adik-adikku di kampung. Pasti mereka akan sangat khawatir jika tau aku di sini.
Aku rindu sekali dengan mereka. Aku ingin mengadu dan menangis di pangkuan mamak.
Usahaku selama ini mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta, berkorban
harta, waktu dan tenaga. Mati-matian dengan gaji kecil, harus berakhir di
penjara.
“Berdasarkan
aduan yang kami terima, anda telah menganiaya dan menyiksa korban hingga
mengakibatkan anak tersebut luka di bagian telinga, wajah, punggung dan kaki.”
Jelasnya
“Astaghfirullah,
itu fitnah pak. Bagaimana mungkin jeweran saya berimbas ke bagian tubuh yang
lain.” Penjelasanku nampak sia-sia, polisi tersebut tidak menunjukkan wajah
belas kasihan sama sekali padaku. Aku hanya terdiam dan tak bisa berbuat
apa-apa, aku hanya memohon padanya agar tidak memberikan informasi ini kepada
keluargaku di kampung. Awalnya ia menolak tetapi pada akhirnya dituruti juga.
Aku hanya tidak sanggup bila kabar buruk ini membuat susah keluargaku yang
memang sudah susah dengan permasalahan hutang-piutang. Bisa menjadi bencana
besar pastinya.
Sampai
tengah malam ini air mataku terus meleleh, di tengah jeruji besi aku meratapi
nasib diri. Nasi bungkus yang disediakan oleh petugas sejak maghrib tadi masih
teronggok di sudut bui. Nyaris hilang selera makanku, semakin gelap pandangan
dan akal ini serasa berhenti pada satu titik gelap tak berarah. Seperti yang
dikatakan pak Edi tadi, aku harus menjalani masa kurungan sembari menunggu
jadwal sidang dari kejaksaan negeri.
Tiba-tiba
keluar juga bibit-bibit pemberontakan di hatiku. Kemana semua teman-teman
mengajarku, kepsekku? Apa mereka lepas tangan dengan masalah ini. Tidak mungkin
kabar ini tidak sampai ke mereka. Aku adalah guru di sana. Guru sah di bawah
yayasan yang sah dibuktikan dengan SK. Sekolah pasti terseret dengan masalah
ini. Astaghfirullahal ‘adzhiim, aku telah berprasangka buruk dengan mereka. Aku
harus menata hatiku, menjernihkan pikiranku. Mungkin mereka memang belum
berkesempatan kemari atau ada hal lain yang diprioritaskan. Mereka adalah
rekan-rekan terbaik, aku ingat betul kebaikan-kebaikan mereka selama ini.
Kepala sekolah adalah sosok pimpinan yang mampu menjadi teladan. Ibadahnya,
akhlaknya, kebijakannya dan kecerdasannya. Aku percaya beliau tidak akan
tinggal diam. Hanya saja mungkin sedang menyiapkan langkah yang tepat.
“Heh
Yadi!” Seorang petugas polisi menemuiku, kali ini beda dengan yang tadi
menginterogasiku. Mengenakan kaos abu-abu dan celana lapangan. Aku tak
menjawab, hanya mengarahkan pandanganku ke matanya.
“Kau
mau bebas?” Aku masih tak menjawab, hanya menunduk.
“Kalau
bisa kau siapkan 20 juta, aku bisa mengeluarkanmu dan menghapus segala bentuk
tuntutan terhadapmu”. Aku hanya mengerutkan dahi sambil memikirkan
kemungkinan-kemungkinan lain. Pastinya juga mempertimbangkan tawaran dari pria
jangkung berkumis tipis itu.
“Anda
bisa jamin bebas?” Aku mencoba mencari kepastian.
“Aku
jamin, kalau malam ini ada pun bisa ku keluarkan kau.”
“Aku
pasti bebas, aku tidak bersalah. Aku bisa memenangkan persidangan.” Aku
meyakinkan.
“Heh,
kau sadar gak bermasalah sama siapa? Kau itu bermasalah sama orang yang Aparat
sendiri gak berani berkutik sama dia.” Aku terdiam dan langsung mengalihkan
cara pandang. Dari mana aku bisa mendapat 20 juta itu. Tidak mungkin ada yang
mau menghutangiku sampai sebanyak itu. Lalu, apa tidak berdosa aku menyuapnya.
Polisi itu pergi, aku diberi waktu berpikir selama 24 jam. Setelah itu ia tidak
bisa lagi menjamin bebas. Beginilah negeri ini, yang punya kelebihan harta bisa
berbuat seenaknya memlintir-mlintir hukum.
***
Aku
semakin sadar, emosi tidak boleh menguasai diri ini. Kecil yang dilahirkan
emosi, tapi dahsyat dampaknya. Aku mulai berpikir jernih dan terus introspeksi.
Orang tua Haikal tidak bersalah. Ini adalah respon yang wajar bagi seorang yang
mencintai buah hatinya. Berlebihan bagi seorang pendidik sepertiku melampiaskan
emosi pada anak-anak yang memiliki kecenderungan bermain-main sebagai kebutuhan
mereka. Aku pun terus memperbanyak istighfar. Aku telah memutuskan tidak akan
menyuap polisi itu. Aku rela jika harus dipenjara 5 sampai 7 tahun. Mungkin
dengan inilah Allah akan mengampuni dosaku.
Seorang
polisi mendekati sel tempatku dikurung sambil menyodorkan kunci sebuah lubang pintu
penjara. Ia membukanya.
“Ada
yang mau ketemu tuh!” Ketusnya. Akupun keluar menuju ruang lobi. Tepat seperti
perkiraanku. Semua teman-teman mengajarku datang menjengukku. Aku terharu
sekali. Mereka mencoba menguatkanku dan berusaha akan mengeluarkanku dari sel
ini tapi aku menolak. Aku sudah memutuskan untuk menjalani semua prosesnya.
Biar Allah yang memutuskan. Ingin sekali bisa lebih lama bersama mereka, tapi
tidak mungkin. Mereka juga memiliki kesibukan lain hari ini. Akupun kembali ke
sel. Tak berapa lama, polisi yang tadi menghampiriku lagi.
“Ada
tamu lagi tu!” Sinisnya.
“Siapa
pak?” tanyaku.
“Ah,
mana lah aku tau.” Bentaknya
“Gitu
aja pake bentak pak..pak…”
“Ya
kau pikirlah, kenal aja pun enggak aku sama kau.” Aku hanya tersenyum.
Tersenyum bukan karena jawabannya. Aku memikirkan hal lain, “Benar juga ya,
kalau lah polisi itu kriterianya seperti mau menjadi pramugara pramugari pasti
udah banyak yang datang kemari minta ditangkap. Hehehe. Tapi tunggu dulu,
kira-kira siapa ya? Apa mungkin Mamakku. Tidak mungkin, aku sudah berpesan
untuk tidak mengabarinya. Ah langsung sajalah.
“Yadi!”
Polisi tadi memanggilku hingga membuat langkahku tertahan.
“Ya
pak?” Sahutku.
“Cewek
cantik tu yang datang,tapi dah ada anaknya.” Aku terperanjat, jangan-jangan…
iya betul, Mama Topo. Aku masih mengintip dari balik pintu tak berdaun yang
memisahkan bilik-bilik kurungan dengan ruang lobi tempat Mama Topo dan Topo
berada. Duduk gelisah menunggu seseorang. Aku pun kepedean, hihihi. Ku tata
hatiku, ku hilangkan gengsi dan kurapikan rambutku. Eakkkk…..
“Assalamu’alaikum?”
Sapaku pada gadis berjilbab lebar berwarna pink yang kelihatan memancarkan aura
kesholihannya.
“Wa’alaikumussalam
warahmatullah.” Jawabnya dan Topo langsung menyodorkan tangannya menyalamiku.
“Tadi
siang saya mengantar makan siang Topo ke sekolah, saya lihat seperti ada
kericuhan dan saya mencari tahu ternyata Pak Yadi di sini.” Terangnya dan aku
pun menjelaskan semua kejadian yang ku alami. Hingga pada akhirnya Ia
mengatakan sesuatu yang membuatku semakin takjub.
“Saya
bisa bantu mengeluarkan Pak Yadi dari sini.”
“Aduh,
gak usah buk. Saya mengakui kesalahan saya kok. Memang saya yang bersalah.”
Saya mencoba menolak dengan merendahkan diri.
“Ingat,
Pak Yadi punya keluarga dan Pak Yadi juga punya kewajiban mendidik Topo dan
anak-anak lainnya. Itu juga harus jadi prioritas.” Ia terus memaksakanku agar
menerima tawarannya. Mana mungkin aku menerimanya, aku sudah memutuskan akan
menjalani semua prosesnya. Dan aku punya alasan besar mengapa harus menolaknya.
GENGSI. Oleh karena aku terus menolak, akhirnya ia pun menyerah.
“Ya
sudah kalau Bapak tidak mau menerima tawaran saya, saya juga tidak mungkin
memaksa. Oh iya, ini pak kami membawa sedikit makanan untuk bapak.” Ia
menyodorkan rantangan plastik tempat makanan. Aku tidak tahu isinya, hanya
menebak-nebak sambil berbunga-bunga.
“Wah
jadi merepotkan ini buk.” Aku berbasa-basi, padahal mau.
“Ah
enggak koq, sekalian aja tadi.” Ia pun menjawab basa-basiku. aku terdiam di
hadapan Mama Topo, tidak tau harus ngomong apa lagi, bingung. Untuk menghilangkan
kekikukanku aku langsung beralih ke Topo untuk bertanya-tanya seputar sekolah
hari ini dan lain-lain.
“Pak,
kami pamit dulu ya. Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberi yang terbaik
buat Pak Yadi. Assalamu’alaikum?” Pamitnya sambil berlalu pergi, aku masih
memandanginya sampai di ujung pintu keluar. Darahku berdesir kencang, karena
kejadian detik-detik beralalunya Mama Topo. Dia menoleh. Hadeuhhh….. Rontok
jantungku rasanya. Astaghfirullahal’adzhiim, ini syetan. Makhluk la’natullah
telah berhasil menghiasi wanita yang kulihat agar goyah imanku. Langsung aku
mengucap ta’awudz tiga kali.
***
Aku
kembali ke bui dan langsung membuka rantang yang diberi oleh Mama Topo, kulihat
di dalamnya ternyata berisi nasi dan sop ayam lezat. Sedap sekali.
“Pak,
dapat rezeki ini. Ayuk makan bareng!” Ajakku pada seorang petugas yang sejak
pagi tadi menungguku di sini.
“Enak
gak?”
“Wah,
yo enak toh pak. Mriki lah!” Dia kemudian tak segan membuka sel untuk bergabung
bersamaku makan sop lezat buatan Mama Topo. Dalam sekejap kami pun jadi akrab.
Nama beliau Dedi Prabowo, adiknya Pak Edi Prabowo yang kemarin
menginterogasiku. Aku tak tahu dan tak mau tahu kenapa mereka kakak beradik
bisa di tempat kerja yang sama. Suasana kami semakin cair, dikarenakan sama
orang jawa. Kami dengan aktif berkomunikasi dengan mengguanakan bahasa daerah
yang menurutku bahasa daerah tersopan yang pernah ku ketahui. Ya setuju atau
tidak, itu kan menurutku. Hehehe, bukan deskriminatif loh.
Pak
Dedi bercerita bahwa ia dan kakaknya sudah tidak betah bekerja di kawasan
yurisdiksi kota ini. Sangat kotor. Terlalu banyak permainan dan kolusi
“merajalela”. Enak bener si Lela jadi raja. Eh, jadi ngawur. He, Pantas saja
kemarin saya bisa lihat wajah ketidaksenangan Pak Edi saat adik si Jalal main
hakim sendiri hendak memukulku. “Sabar-sabar lah Di, Aku sih sakjane lebih
percoyo karo kuwe. Laporan wong iku pasti digawe-gawe sak pena’e udele dewe.” Pak
Dedi menguatkanku untuk bersabar dan secara moril mendukungku. Aku jadi terhibur.
Senengnya…
***
Pukul
21.18 wib di kantor polisi. Aku masih terduduk di atas tikar bersandarkan
dinding semen yang warna catnya sudah pudar penuh coretan. Aku mencoba
memuroja’ah (mengulang-ulang) hafalanku di juz 29. Mulai dari surah Al-Mulk,
Al-Qolam, Al-Haqqoh sampai Al-Mursalat. Hening sekali, terasa benar nikmat
Allah yang telah mengalir selama 26 tahun ini di tubuhku. Air mata pun tak
terbendung lagi, terisak aku. Namun, aku tersentak tiba-tiba ketika seorang
polisi –bukan Pak Dedi- memanggilku. Dia adalah polisi yang mendapat shift
malam berjaga di polres kota ini. Polisi yang menawarkanku bebas jika mampu
membayar 20 juta, tapi aku menolak.
“Hey
Yadi, bangun! Ada yang mau ketemu itu.” Ia mengiraku tertidur, padahal
memejamkan mata untuk memperoleh kekhusukanku membaca ayat-ayat cinta-Nya.
“Siapa
pak?”
“Hati-hatilah
kau, Bang Jalal sama Tomtom adeknya yang datang.” Jelas saja aku terkaget.
Adiknya saja kemarin tidak segan-segan menghajarku, ini orangnya langsung.
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Kencang sekali. Aku tak tahu harus apa
dan bagaimana. Sesaat lagi akan berhadapan dengan kepala mafia. Kasian tubuh
kerempengku. Ah sudahlah, pasrah saja, aku yakin Allah Maha Melihat dan
menolong hamba-Nya yang teraniaya. Langsung ku langkahkan kakiku dengan mantab
menuju lobi. Terlihat di sana dua tubuh kekar yang sepertinya telah bersiap
memangsa tubuh kurusku. Benar saja, yang seorangnya adalah yang menghajarku
kemarin tetapi nampak sedikit berbeda, di wajahnya seperti ada lebam bekas
pukulan tepat seperti di wajahku, dan yang satu lagi pasti si Jalal itu.
Sebentar kemudian, tepatlah aku berdiri di hadapan mereka. Deg….
“Assalamu’alaikum,
Anda Pak Yadi gurunya Haikal?” Tanyanya dengan bahasa yang sangat sopan dan
santun. Tidak seperti dugaanku. Aku terperanjat.
“Wa’alaikumussalam
warohmatullah, iya benar pak. Bapak ayahnya Haikal ya?” Aku semakin kaget
ketika tanpa basa-basi ia memelukku dan tak berapa lama dilepaskannya.
“Pak,
maafkan adik saya. Demi Allah saya tidak tahu kalau bapak mendekam di sini
karena tingkah adik saya.” Keherananku semakin bertambah.
“Maksudnya?”
Tanyaku heran.
“Tom,
sini kau! Sekarang minta maaf sama Pak Yadi. Cepat! atau mau kupukul lagi kau!”
Ayah Haikal mengancam, dan sejurus kemudian Tomtom menjulurkan tangannya untuk bersalaman
dan meminta maaf padaku. Aku pun membalasnya dengan wajah masih keheranan
tingkat dewa. Lebay. Tingkat tinggi. Kemudian ia disuruh Ayah Haikal untuk
menunggu di mobil.
“Begini
pak, semua ini ulah adik saya. Dia itu memang sering buat kesal saya. Dia
sering menggunakan nama saya untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas
sekalipun” terangnya.
“Kenyataannya
khan saya memang menjewer Haikal pak.”
“Alahh
pak..pak… saya gak pernah mempermasalahkan jika ada guru yang mau menghukum
Haikal jika dia memang salah. Itulah alasannya kenapa saya pindahkan Haikal
dari sekolah yang lama. Semua guru takut menghukumnya karena tau dia anak saya.
Bahkan Saya malah kagum sama orang yang memegang tinggi idealismenya tanpa rasa
takut dengan bayang-bayang latar belakang apapun.”
“Jadi..?”
“Bapak
malam ini juga bisa bebas, saya akan mengantarkan bapak pulang dan akan
mengganti rugi berapapun yang bapak minta. Tapi mohon maafkan kami pak.” Aku
tidak tahu mau berekspresi apa. Senang atau kesal.
“Saya
bisa maafkan koq pak.” Aku mencoba tersenyum menatap wajah seorang Ayah yang
terlihat begitu besar ketulusannya meminta maaf.
“Terima
kasih pak, terima kasih!” Dia tiba-tiba meraih kedua tanganku dan menciumnya.
Aku berusaha menarik dan menolaknya tapi tenagaku tak cukup.
“Pak
tidak perlu begitu pak, saya jadi gak enak.”
“Saya
memang dikenal sebagai seorang mafia, tapi saya sangat menghargai guru pak.
Ayah Ibu saya dulu juga seorang guru, saya benar-benar merasakan bagaimana
perjuangannya. Kerjanya keras, tak kenal waktu tapi gajinya sangat tak layak.
Saya kagum masih ada manusia yang mampu bertahan menjadi guru dengan kondisi
sesusah itu. Makanya saya ngerasa bersalah kali pak dengan tindakan adik saya.”
Matanya berkaca-kaca dan aku hanya menghela nafas kembali mencoba tersenyum.
“Saya
juga merasa berterima kasih pak. Karena dengan kejadian ini saya sadar harus
berpikir masak-masak sebelum melampiaskan emosi yang asalnya dari syetan itu.”
Kamipun beranjak meninggalkan kantor polisi itu. Mereka pun mengantarkanku
sampai ke kos. Aku menolak semua tawaran yang diberikan. Bukan sok baik, guru
adalah guru. Digugu dan ditiru. Kalau selama ini aku mengajarkan untuk
menolong dan memaafkan tanpa pamrih, di sini aku juga harus bisa melakukannya
walau syahwat keduniaanku benar-benar menolak. Aku bahkan bersyukur, memperoleh
tarbiyah secara langsung dari Allah. Di perjalanan aku sempat bertanya perihal
bagaimana ia bisa tahu bahwa aku dipenjara karena adiknya. Dia hanya mengatakan
bahwa ba’da maghrib tadi ada seorang gadis yang datang ke rumahnya memohon
untuk menarik tuntutannya. Namun, ia merahasiakan identitasnya sesuai
permintaan gadis tersebut. Aku hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan…. Ah
siapapun dia semoga Allah memurahkan rezekinya, memudahkan urusannya dan
tercapai harapannya.
***
Ku
hirup nafas panjang sembari mengerahkan seluruh potensi jasadku, dari yang
kasat mata sampai yang tak kasat mata untuk mensyukuri nikmat illahi yang
mengalir di tiap sendi-sendi kehidupanku. Aku sudah kembali lagi ke sekolah.
Aku sudah sangat merindukan anak-anak. Dua hari kulalui di kurungan tapi
seperti sudah dua tahun. Aku berniat untuk bicara secara pribadi dengan Haikal
hari ini.
Ku
sambut anak-anak yang datang, mereka tersenyum-tersenyum lugu melihatku. Ku
balas juga dengan senyuman tulus penuh kasih pada mereka. Indahnya... senyum
mereka memang pengobat luka yang ampuh bagiku. Apalagi senyumnya Xena, manis
sekali. Dia anak ekspresif yang jika melakukan pola apapun pasti totalitas
termasuk ketika senyum. Meskipun gigi serinya agak hitam.
Aku
berjalan masuk menuju kelas, kupandangi setiap inci sudut ruangan dan agak
kaget ketika melihat di atas meja ada sapu tangan yang hilang dua hari lalu.
“Siapa ya yang menemukannya?” batinku bertanya. “Ah barangkali kemarin tidak
kelihatan dan sekarang baru kelihatan” akupun menjawab sendiri.
Pelajaran
ku mulai dengan cerita-cerita lucu dan mengikuti gerak-gerak cerita yang
kukarang demi membuat senyum anak-anak mengembang. Semuanya riang dan senang.
Namun tidak dengan Topo. Sedari tadi dia tidak meresponku. Biasanya dia selalu
nyeletuk di sela-sela ceritaku, tapi kali ini beda. Nantilah di jam istirahat
akan ku tanyai.
***
Jam
istirahat pun tiba,
“Silakan
semua anak-anak bapak berwudhu dan sholat dhuha ya!” Topo masih terduduk di
kursinya, aku pun menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Pak?”
sebelum ku mulai bertanya, dia sudah memulai terlebih dahulu.
“Saya,
ada apa nak? Koq belum bergerak wudhu? Ada masalah ya?”
“Tadi
mama ada nitip sesuatu, tapi males mau ngasih ke Bapak.”
“Emangnya
apa yang dititip?” Aku benar-benar penasaran.
“Anu,
pak…” Terpotong ucapannya.
“Anu
apa?” Aku kembali menyerang.
“Undangan
nikahnya Mama. Tapi udah saya buang.” Dhuarrr, seperti tersambar petir aku
mendengarnya. Ternyata, dia bukan…..
“Mama
mau nikah sabtu depan. Saya juga gak tau kalau mama dah mau nikah. Padahal saya
cuma mau pak Yadi yang jadi Ayah Topo.” Dia menjelaskannya dengan nada yang
lemas sekali. Tak kuasa aku melihatnya. Begitu juga dengan hatiku, kecewa.
Tapi, buat apa juga aku kecewa. Aku saja yang selama ini kepedean. Hadeuh…
“Oh,
kirain ada masalah apa. Nak, ada tiga hal dalam hidup ini yang hanya Allah yang
tahu. Rezeki, Jodoh dan Maut. Jadi, sekuat apapun kita berusaha tapi jika
ketentuan Allah beda ya kita harus bisa terima.” Aku mencoba menghiburnya,
meskipun sebenarnya aku berusaha menghibur diriku sendiri. Emaakk…..
“Ya
sudah, sekarang berwudhu sana! Sholat dhuha dan berdoa sama Allah semoga Ayah
Topo nantinya mampu menjadi Ayah yang terbaik.” Aku mengelus-elus kepalanya dan
ia pun bergegas ke tempat berwudhu. Aku mendadak tersenyum sendiri, teringat
saat Topo menawarkanku jadi Ayah di rumahnya. Skenario Allah memang fantastis.
Dahsyat….
“Haikal
udah sholat?” pandanganku beralih ke Haikal yang sedang duduk di mejanya
menyantap jajan bawaan dari rumah. Maklum, di sekolah ini dilarang membawa uang
jajan kecuali uang ketring untuk makan siang. Ini dibiasakan agar anak-anak
tidak mengkonsumsi makanan tidak sehat dan menghindari adanya kecemburuan sosial
terhadap anak yang mampu dengan anak yang kurang mampu.
“Udah
pak?” Jawabnya singkat dan aku menuju ke tempat duduknya.
“Maafin
bapak ya nak yang kemarin itu! Bapak khilaf sampe harus menjewer Haikal.” Aku
mengelus-elus kepalanya untuk menunjukkan bahwa aku menyayanginya. Membuktikan
bahwa aku sangat menyesali perbuatan tersebut.
“Gak
papa pak.” Jawabnya lagi singkat.
“Gak
boleh ya nak manjat-manjat pohon itu! Berbahaya loh. Kalau nanti Haikal jatuh
kan ada banyak orang yang menjadi cemas, termasuk bapak. Mainan khan banyak,
gak harus manjat-manjat.”
“Anu
pak, sebenarnya ada yang mau saya ambil.” Jelasnya tanpa melihat ke arahku. Dia
tampak malu-malu.
“Hmm,
ngambil apa? Mangga?”
“Bukan
pak!” Tegasnya.
“Jadi?”
serangku lagi.
“Sapu
tangan bapak. Waktu itu terbang keluar kelas trus nyangkut di pohon itu.”
Langsung aja jawaban Haikal meluluhkan hatiku. Air mataku keluar, aku menangis
haru dan sesal. Aku tersadar, kenapa aku tidak bertanya padanya terlebih dahulu
waktu itu. Aku benar-benar zhalim. Ku peluk haikal erat. Aku sesenggukan di
depan anak-anak. Mereka heran denganku, semua mata tertuju padaku tapi aku tak
peduli. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat.
“Maafkan
bapak ya nak, bapak benar-benar jahat.” Masih ku peluk Haikal, dia tidak bisa
berkutik. Diam saja. Namun, semuanya buyar ketika seorang anak nyeletuk.
“Eh
liat, ingus Pak Yadi keluar!” Xena. Gubrak!!!
“Xeeeenaaaa!!!!”
Tamat.