Minggu, 18 Januari 2015

Sepenggal Suka Duka Seorang Guru (bagian 1)

Hari ini, kemarahannya menyulut kemarahanku. Anak yg memang kukenal sebagai sosok tempramen itu berhasil membuatku memukul meja berkali-kali. Tapi anehnya tak memberi ketakutan berarti baginya. Padahal jarang sekali aku bisa marah. Tapi ya sudahlah,barangkali Sang Penyayang menunjukkan ayat-ayat cintaNya melalui peristiwa ini.
Kemudian suasanapun drastis berubah ketika muncul satu sosok bocah dengan senyum innocent nan lugu menyeletuk, "Pak, lagi ngerjain apa kita?". Pertanyaan itu langsung disahut sinis oleh teman-temannya dan ada juga yang tertawa tidak terbahak.
Suasana ini benar-benar memecah kebekuan amarah yang menyelimutiku. Namun, terlalu gengsi untuk tertawa. Jangankan tertawa, untuk sekadar mengikuti arus kelucuan saja aku tak sudi. "Kekonyolan yang luar biasa", Pikirku mengingat pelajaran sudah berlangsung dua jam pelajaran lebih tetapi masih tidak tau ia apa yg ku perintahkan untuk dikerjakan tadi.
Batu,
Ia keras,
Sukar pecah, maupun diluluhkan
Tidak bisa merasa,
Tidak mau bergerak,
Itulah batu. "Aku"
Terlalu beda memang dua muridku ini. Kukatakanlah padanya –si sosok bocah lugu nan ekspresif pemilik nama Xena Juwita- “ Nak, yang sedang kita kerjakan hari ini adalah sebuah proyek besar untuk kepentingan futuristik tanpa meninggalkan aspek kekinian dan masa lampau. Masa lampau kita jadikan “the best experience” dan hari ini kita jadikan sebagai titik tolak dalam melangkah demi kehidupan yang lebih baik menyongsong peradaban berkerakter di tengah arus modernisasi”.
Semua siswa seketika terdiam melongo menunjukkan ekspresi ketidaktahuan mendalam, terkecuali bocah ekspresif yang ada di hadapanku ini yang mengerutkan dahinya mencoba memahami kalimatku. Hembusan angin masuk ke ruangan melalui pintu kelas yang terbuka menerpa jilbab putih yang membaluti kepala mungilnya, kemudian ia manggut-manggut. Aku takjub. Ternyata ia mampu memahami omonganku yang sebenarnya terkesan ngawur dan sengaja agar membuatnya bingung. Seranganku meleset.
“Pahamkah engkau?” Tanyaku tegas, dan ia dengan tenangnya kembali ke tempat duduknya tidak mempedulikan pertanyaanku. Setelah duduk ia pun mencoba membuka mulutnya, “Entah ngomong apa bapak ini…” Gubrakkkkk!!!!
Pecahlah sudah batu itu. Tak mampu lagi aku menahan tawa. Terbahak aku di depan anak-anak. “Dimana, dimana gengsiku tadi?” aku sudah tidak tahu.
Batu,
Ia keras,
Sukar pecah maupun diluluhkan,
Namun, sukar tidak berarti tak bisa,
Tetesan air yang lembut saja mampu melubanginya,
Kini, batu memalu. “Aku”
Tertawaku ternyata bertepuk sebelah tangan. Murid-muridku tidak paham. Sebagai anak kelas tiga SD ilmu mereka mungkin belum sampai jika dihadapkan dengan fenomena hari ini, eh kata fenomena aku ralat deh. Kejadian aja. Terlalu mendramatisir jika kata fenomena digunakan untuk mengilustrasikan peristiwa ini.
Marahku di awal yang kulampiaskan di atas meja si Topo tadi, kini telah reda oleh tingkah si Xena. Begitulah di kelas ini, ada penyakit tetapi obat juga ada. Eitt, tunggu dulu. Sebelumnya, aku ingin bercerita tentang satu hal. Sosok tempramen yang tidak suka diganggu tetapi suka mengganggu ini namanya Topo Lukito. Tubuh kurus berkulit gelap ini memiliki rambut lurus. Lurusnya ke atas. Bahkan teman-temannya sering berkata padaku, kalau ada balon kena rambutnya pasti meledak. Perkataan yang tidak baik batinku, apa lagi bagi seorang guru sepertiku.
Dengan mendengar namanya, orang manapun bisa menebak kalau Topo adalah orang Jawa. Begitu juga bagiku saat pertama mengenalnya. Tetapi, itu salah. Ternyata Topo Lukito adalah orang Melayu. Tak habis pikir aku dibuatnya. Namun, ada penjelasan yang logis kok kenapa bocah berkulit gelap ini bukan orang Jawa, bahkan ia sangat marah jika disamakan dengan orang Jawa. Kata Topo, orang Jawa itu pemalas. Iya, pemalas. Sempat tersinggung juga aku mendengar ungkapan dari mulutnya, pasalnya aku orang Jawa. Nanti aku jelaskan kenapa ia tidak suka disamakan dengan orang Jawa.
Beberapa bulan yang lalu ia pernah menyampaikan sesuatu yang amat rahasia padaku. Waktu itu, pagi hari senin pukul 06.40 wib. Jam sepagi itu tak biasanya ia datang cepat, tapi sudah biasa bagiku. ia menemuiku dengan melihat ke kanan dan ke kiri seolah ketakutan jika langkahnya mendekatiku diketahui orang lain.
“Po, kenapa kamu?” Tanyaku.
“Anu pak, ada yang kirim salam sama bapak.” Jawabnya sambil senyum malu-malu. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku.
“Siapa?” Tanyaku penuh tanda Tanya.
            “Anu pak, tapi jangan bilang siapa-siapa ya pak?”
“Iya, siapa?” aku menjadi tambah penasaran.
“Mama, pak” ia langsung berhambur lari menjauhiku menuju ke kelasnya. Aku terdiam membisu dan terpojok seolah semua memandangiku ingin memangsa. Termasuklah laptop di hadapanku, detakan jam dinding di sebelah pintu, dan meja kursi yang tersusun sedemikian rupa di dalam kantor yang masih sepi ini. “Apa gak salah?” batinku. Ah mungkin perasaan hatiku yang sedang dilanda kegeeran saja. Kalau itu benar, bisa digampar bapaknya aku. “Hihihi”, tawaku kecil.
***
“Anak-anak semua yang bapak sayangi, orang yang paling utama untuk kita hormati di rumah adalah kedua orang tua kita. Terus, di antara Ayah dan Ibu siapakah yang lebih utama untuk dihormati, Xena?” pertanyaan appersepsi ku tujukan kepada Xena yang sedari awal aku masuk dan memulai pelajaran PKn ini ia hanya asyik bercerita dengan teman satu mejanya Vivi. Sontak saja membuat Xena gelagapan dan terdiam malu dan langsung menghentikan perbincangannya.
“Ayo jawab Xen! Atau Vivi juga boleh dech!” tepat seperti perkiraanku mereka tidak bisa menjawabnya. Namun, Topo langsung menyahut dari jarak jauh, “Ibuuu….” Teman-teman lain terdiam dan pandangan beralih ke Topo seakan melupakan kejadian Xena dan Vivi.
“Ohhh Topo udah berubah namanya ya?” Sindirku.
“Makanya, kalau bapak sedang menjelaskan, kalian jangan ikut menjelaskan. Ganti-gantian kita ngomongnya ya Xen! Atau Xena aja yang jelaskan di depan biar bapak yang mendengarkan” Tambahku. Mereka hanya terdiam kecuali si Topo yang seperti tak peduli dengan apapun yang terjadi. Begitulah Topo, kelihatannya aku harus mengunjungi rumahnya untuk berkomunikasi dengan orang tuanya membicarakan perilakunya selama ini yang kerap membuatku kesulitan mengelola kelas ini. Ada banyak catatan kurang baik di buku jurnal perkembangan sikap siswa mengenai dirinya. Itu nantilah, biar ku selesaikan dulu pelajaran ini.
“Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membahas, bahwa orang yang paling utama untuk dihormati adalah…..”
“Ibu….” Jawab anak-anak kompak.
“Terus siapa lagi?”
“Ibu…” Jawab mereka lagi
“Kemudian…”
“Ibu…”
“Dan yang ke empat….” Tanyaku mengakhiri.
“Ayah…”
“Jadi…” penjelasanku terhenti saat kulihat Xena mengangkat tangannya seperti ingin member pertanyaan.
“Iya Xena, ada apa?”
“Pak, berarti Ibu kita harus tiga ya Pak?” Tanya Xena penuh dengan keluguan yang menafsirkan pembahasan ini terlalu dalam bahkan melebihi teman-temannya. Siswa yang lain hanya tertawa dan beberapa protes.
“Ehhh bukan, yang benar empat.” Jawabku iseng sambil tertawa. Siswa-siswa hanya mampu menunjukkan ekspresi kebingungan yang amat mendalam sedalam cara berpikir si Xena tadi. Dan akupun langsung meluruskan, takut anak-anak terjebak dalam penafsiran yang salah.
Ketika jam pulang pun tiba, selesai anak-anak membaca do’a pulang aku langsung memanggil Topo untuk menjelaskan bahwa aku akan berkunjung ke rumahnya menemui orang tuanya.
“Baik anak-anak silakan pulang kecuali Topo, sebentar ada yang bapak sampaikan.” Anak-anak pun berhambur pulang berebut menyalami tanganku hingga membuatku terdesak. “Pelan-pelan nak!” Dan dalam hitungan detik kelas menjelma menjadi sepi tinggal berdua Aku dan Topo.
“Topo, hari ini pulang bapak antar ya! Bapak mau bertemu dengan orang tua kamu tadi udah Bapak telepon kok mama kamu.” Mendengar kata-kataku mendadak ekspresi wajah Topo berubah berseri sumringah padahal dari tadi merengut saja. Aku hanya heran tak mengerti dengan arti semua ini, padahal Aku datang ke rumahnya karena membicarakan tingkahnya yang mulai membuatku kerepotan. “Ah biarlah!” pikirku sambil merapikan barang-barang yang hendak ku tinggalkan dan sebagian ku bawa pulang. Semuanya berserakan di atas meja bak ada karang yang baru saja ditabrak bahtera.
“Pak?” Tiba-tiba Topo menghentikan aktivitasku sejenak.
“Ya?” Jawabku singkat dan ku lanjutkan lagi merapikan barang-barang tadi.
“Anu, Bapak mau jadi ayah Topo?” Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah Topo untuk melampiaskan ketersentakanku mendengar ucapannya. Tapi langsung ku positifkan cara berpikirku. Mungkin ayah dalam artian menyayangi.
“Ya kalian kan semua memang anak bapak. Bapak menyayangi kalian walau terkadang buat bapak jengkel dan emosi.” Jelasku sambil melanjutkan merapikan barang yang tinggal sedikit lagi.
“Bukan gitu loh pak. Jadi Ayah Topo di rumah, maksudnya.” Tersentak lagi Aku dibuatnya. Untung proses merapikan sudah rampung, jadi tidak perlu lagi jeda karena melampiaskan ketersentakan seperti tadi.
“Hahahah, bisa digamparlah bapak sama Ayah Topo.” Aku hanya tergelak menganggap Topo hanya bercanda.
“Ih Bapak ini!” Dia mulai kembali merengut.
“Udah, ayok berangkat!” Ajakku.
Rumah Topo cukup jauh dari sekolahnya bagi seukuran anak SD, kurang lebih 8 Km dari Sekolahnya. Biasanya ia diantar jemput oleh Mamanya dengan sepeda motor matic. Aku memang tidak pernah melihat sosok Ayahnya. Maklumlah, Aku guru yang baru mengajar 3 bulan yang lalu di sekolah ini. Terlambat memang baru hari itu Aku mulai mengenali latar belakang keluarga siswa-siswaku. Padahal Ron Clark seorang tokoh guru yang pernah ku tonton dalam filmnya “Ron Clark Story”, sebelum mengajar di sebuah sekolah yang terkenal dengan banyak kasus kejahatan anak-anaknya ia mengunjungi semua orang tua siswa untuk mengajak bekerja sama dalam proses pendidikan anak-anaknya. Biarlah terlambat, bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Beberapa menit kemudian tibalah Aku di sebuah rumah 2 lantai dengan pagar besi yang cukup tinggi. Tidak begitu besar, minimalis dengan banyak susunan bunga di dalam pot rapi. Indah sekali. Topo langsung lari menuju pintu dan berteriak tanpa salam seperti kegirangan.
“Mamaaa….. Pak Yadi datang!” Teriak Topo dengan gembiranya sambil menggerakkan gagang pintu tetapi tidak terbuka. Mungkin dikunci. Dia tidak sadar bahwa aku datang ke rumahnya sebenarnya karena kelakuan buruknya. Aneh.
“Po, pake salam donk!” Tegurku. Ia hanya tersipu malu.
“Assalamu’alaikum, Mama?” Terdengar suara menjawab salam dari dalam rumah dan dengan sekejap terbukalah pintu. Pintu yang membatasi kami dengan penghuni yang ada di dalam. Muncullah sosok wanita dengan hijab rapi nan indah mempresentasikan kesholihan dan keanggunan pemakainya. Wanita berkulit putih dengan mata sipit, sangat jauh dari kata mirip dengan anaknya Topo Lukito. Masih kelihatan sangat muda dan….CANTIK. Membuat tubuhku merinding dan salah tingkah.
“Silakan masuk pak!” Ramah tamahnya memecah kekikukanku (apa ada kata itu?). Astaghfirullah, aku tersadar dan sisi baik hatiku berkata, “Yadi, ingat dia udah punya anak! Jangan sampai kau beneran digampar suaminya. Ingat dosa juga Yadi!”
“Iya buk terima kasih!” Jawabku sambil menunduk mengurangi grogi dan masuk.
“Pak, pake salam donk!” Topo menegurku, rasanya Gubrak gimana gitu. Aku malu. Mungkin kalau kulitku putih langsung kelihatan mulai memerah. Untungnya Aku berkulit gelap.
“Oh iya Po, Assalamu’alaikum!” Sedetik itu pula Topo menghilang dari pandanganku menuju ke belakang bagian rumahnya.
Langsung aku disuruh duduk di sova coklat yang tersusun rapi di ruang tamu. Di atas mejanya sudah ada segelas teh dan beberapa camilan.
“Begini buk, sebelumnya mohon maaf karena mengganggu waktu ibuk. Maksud kedatangan saya kemari untuk bersilaturahim selaku saya sebagai gurunya Topo dengan Ibu maupun Bapak selaku orang tuanya. Dan maksud yang berikutnya, saya cuma ingin tahu bagaimana aktivitas Topo kesehariannya agar saya dan Ibu maupun Bapak bisa mencari solusi menangani perilaku ananda yang kurang baik di sekolah.” Aku mencoba menjelaskan maksud kedatanganku dengan kata-kata yang tidak kurancang sebelumnya. Kacau memang.
“Iya pak, sebenarnya semenjak saya menerima telepon dari bapak tadi saya sudah bisa menebak pasti anak saya melakukan sesuatu yang tidak baik. Saya mengakui koq pak, di rumah saja pun dia begitu. Agak susah belajar, maunya main game, kalau jumpa temannya pasti berkelahi. Terkadang saya juga hampir menyerah pak.” Sejenak kami terdiam, Aku masih tertunduk dan mencoba sedikit demi sedikit mengangkat wajah untuk melihat Mamanya Topo. Aku kaget, matanya berkaca-kaca dan tak menunggu lama air matanya pun jatuh.
“Maaf ya pak, saya gak bisa menahan ini.” Sambil mengusap air matanya sementara aku masih terdiam bunging tak tahu harus apa. Kemudian ia melanjutkan penjelasannya.
“Sebenarnya saya kasihan dengan Topo Pak. Perlu bapak ketahui, saya ini bukan Mama kandungnya.” Aku langsung tersentak.
“Jadi?”
“Topo itu anak Kakak saya. Kakak saya itulah Bunda si Topo. Namun, sejak Topo berumur tiga tahun Saya dan Ibu saya yang mengasuhnya.” Aku langsung teringat tawaran Topo untuk menjadi Ayahnya. Mungkin Mamanya ini –yang berada di hadapanku- yang ia maksudkan. Hihihi, aku geli. Tapi ku tahan, karena wanita anggun ini sedang menangis. Walaupun Aku tak mengerti maksud tangisannya, setidaknya aku menghormatinya. Karena di saat orang lain bersedih dan kita tertawa, itu bisa diartikan mengejek.
“Maaf buk kalau boleh tahu, Ayah dan Bunda Topo sekarang di mana ya?” Ia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku.
“Saya akan ceritakan semua kronologisnya pak, cukup panjang kisahnya. Oh iya, diminum pak tehnya!” Aku tersenyum dan langsung menyeruput teh buatan Mamanya Topo. Mama angkat. Kemudian meletakkan kembali ke meja. Sudah tak sabar aku ingin mendengar kisahnya. Saat itu langit mulai mendung seperti sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan perintah malaikat Mikail untuk menurunkan hujan.
“Ayah Topo adalah seorang kontraktor yang berasal dari Solo. Saat itu kebetulan sekali dia mendapat tugas di sini dan saat itu pulalah mereka bertemu. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa bertemu, yang pasti setelah pacaran 5 bulan mereka memutuskan untuk menikah. Setelah menikah lahirlah dua orang anaknya, yang pertama Topo dan yang kedua Aini. Aini sekarang dibawa kakak saya ke Malaysia. Ia bekerja di sana sebagai TKW. Semenjak setelah menikah, Ayahnya sering keluar kota. Keadaan ini memicu ketidakharmonisan hubungan mereka. Hingga tiba akhirnya ketika Topo berusia 6 tahun, Ayah Topo di-PHK oleh perusahaannya. Sejak saat itulah hubungan mereka semakin parah. Ayahnya mulai malas-malasan, untuk mencari kerja sajapun tidak mau. Kalaupun ada, kerjanya milih-milih. Maunya enaknya saja. Ia benar-benar menjadi pemalas.”
“Oh pantas saja Topo pernah bilang kalau orang Jawa pemalas ya buk?” Aku menyela.
“Iya pak, bahkan dia tidak mau disebut sebagai orang Jawa. Padahal ayahnya Jawa asli. Sampai-sampai Topo mendeklarasikan diri tidak mau disebut sebagai orang Jawa. Dia maunya disebut sebagai orang Melayu seperti Bundanya.”
“Hebat juga Topo ya buk, usia 6 tahun saja sudah paham dan bisa mengambil kesimpulan hanya dengan mengamati perilaku Ayahnya?”
“Sebenarnya tidak sesederhana itu, yang membuat ia membenci Ayahnya adalah Bundanya juga. Setiap Bundanya pulang, ia selalu dihasut Bundanya agar membenci ayahnya karena pemalas itu dan kalau ditanya kenapa pemalas ia akan menjawab karena orang Jawa.” Imbuh Mama Topo. Tetapi masih ada satu hal yang aneh. Kalau Topo tidak menyukai orang Jawa, kenapa dia menawarkanku menjadi ayahnya? Apa harus ku tanyakan ya? Ah tidak mungkin ku tanyakan hal itu. Hihihi, aku tertawa kembali di dalam hati karena membayangkan lucunya tawaran itu bagiku meskipun kalau boleh jujur hmmm… aku, ah entahlah. (tafsirkan sendiri, :-D)
“Jadi sekarang Ayahnya di mana ya buk?” sergahku.
“Iya pak, klimaksnya ketika Topo masuk di bangku SD. Kondisi keharmonisan mereka semakin kacau dan menjadi-jadi hingga terucaplah kata cerai dari mulut ayahnya. Sedangkan bundanya pun sepakat. Ayahnya pulang ke kampung halamannya di Solo dan tak pernah kembali lagi sampai sekarang. Hal ini ditambah parah dengan kondisi ekonomi yang juga semakin memburuk. Ternyata kepergian ayah Topo meninggalkan utang cukup banyak.” Aku berpikir sejenak, rumah 2 lantai minimalis mewah seperti ini menunjukkan pemiliknya adalah orang yang berada. Apa iya ibunya tidak mau membantu? Kemudian pertanyaan hatiku langsung terjawab ketika gadis putih bermata sipit ini menambahkan penjelasannya.
“Mungkin bapak berpikir kenapa kami tidak membantunya kan?” Aku tak menunjukkan ekspresi apa-apa tetapi sebenarnya juga sangat ingin tahu.
“Kakak saya itu pak, anaknya sangat mandiri sejak kecil dan tidak mau menceritakan masalahnya apa lagi meminta bantuan kepada orang lain. Padahal banyak orang yang sudah mendatanginya untuk menagih utang mantan suaminya dulu meskipun kakak saya tidak tahu apa-apa mengenai itu. Namun akhirnya kakak saya tidak mampu menahan masalahnya sendiri. Hal ini disebabkan ada beberapa orang yang datang dengan didampingi polisi dan pengacara ke rumahnya. Mereka membawa surat sita rumah kakak saya. Rumahnya disita dan sekarang jadi milik salah satu bank.” Suasana hening sejenak, hingga suara gemuruh angin dengan hiasan kilatan petir terdengar jelas dari dalam rumah yang sedang kami jadikan tempat pertemuan. Sebatas guru dan klien. Langit semakin mendung, semendung hati mamanya Topo. Pas seperti film India, jika sedang sedih-sedih pasti langit berubah jadi mendung ditambah suara kilatan petir dan kemudian turun hujan. Hanya saja saat itu tak turun hujan.
 “Mama Topo kemudian datang kemari dengan sambil menggendong dua tas besar dengan ekspresi wajah memaksakan diri untuk tersenyum. Karena ia malu harus mengakui masalahnya. Ketika di dalam kamar kami berdua, saat itulah ia menceritakan masalahnya kepada saya Pak. Intinya, Topo menjadi anak yang sedikit kasar itu karena latar belakang keluarganya juga. Anak sekecil ia belum pantas menerima beban sepahit ini. Saya sangat iba pak.” Tangis Mama Topo meledak tak terbendung. Aku hanya serba salah tak tahu harus apa.” Itulah kejadian beberapa bulan yang lalu saat aku mengunjungi rumah Topo.
Aku pun mulai mencoba memahami karakter dia untuk segera kutangani kenakalannya hanya saja terkadang aku juga tidak bisa menahan amarahku. Hari ini ia mengejek si Haikal teman sebangkunya dengan kata “Gendut”, padahal anaknya memang gendut. Tetapi tidak terima dengan ejekan itu kemudian langsung mendaratkan tinjunya di wajah Topo. Hingga terjadilah perkelahian sengit. Aku geram saja, kenakalan anak yang paling tidak kusukai ya perkelahian. Najis aku kalau sudah berhadapan masalah yang satu ini. Memang agak lain tingkah anak-anakku belakangan. Mereka jadi sering bermain-main silat-silatan. Aku yakin ini pasti disebabkan acara televisi yang belakangan sering menayangkan sinetron beradegan perkelahian dengan mengenakan baju sekolah. Fiuhhhh…. Pening kepala Spongebob.
Haikal adalah anak salah satu konglomerat di kota ini. Ayahnya seorang kepala mafia yang cukup terkenal. Secara ilegal mengimpor barang-barang dari Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Berbagai jenis barang diimpornya, sebut saja Gadget, peralatan elektronik rumah tangga bahkan barang gelap juga ada. Ayah Haikal bukan orang sembarangan, ia dilindungi oleh oknum tertentu untuk memuluskan usahanya. Itulah yang aku dengar dari teman-teman mengajarku. Guru-guru banyak yang tidak berkutik berhadapan dengan Haikal jika sewaktu-waktu ia melakukan suatu kesalahan. Apalagi Haikal ini anak semata wayang. Namun, untungnya Haikal bukanlah tipe anak yang nakal. Anaknya pendiam, nurut, hanya saja sedikit tempramen. Aku memang belum sempat datang silaturahim ke rumahnya sampai saat ini.
Pelajaran yang unik yang dapat aku ambil. Sekelas mafia seperti ayah Haikal saja tidak suka jika keturunan tunggalnya mengikuti jejak buruknya. Buktinya, Haikal malah disekolahkan di sini SD islam terpadu yang memiliki program andalan Tahfidz dan Qiro’ah. Menekankan perbaikan karakter yang baik, yang selalu mengawasi dengan ketat kewajiban lima waktu anak-anaknya dan menekankan kedisiplinan ekstra keras dengan jurus Ka-eS alias kasih sayang. Jika seperti inilah mindset seluruh orang tua di negeri ini, aku yakin akan muncul generasi sholih-sholihah yang mampu menciptakan kampung-kampung tarbiyah seperti lagunya UCIHA Nasheed yang diciptakan oleh Rian itu. Nasyid favoritku. Heheh….
***
Langit berubah menjadi gelap, angin cukup kencang bertiup, aku masih keasyikan menikmati alur waktu yang terus berlalu sambil menunggu anak-anak menyelesaikan tugas yang ku berikan sekaligus bel istirahat yang tak kunjung berbunyi. Hari ini aku sangat kelelahan. Malam tadi aku begadang menyiapkan pembelajaran hari ini. Wajar saja, kurikulum 2013 ini membutuhkan persiapan matang dan mantab baik materi maupun fisik pengajarnya.
Sesekali aku berkeliling memeriksa pekerjaan anak-anak sambil menyindir beberapa siswa yang melirik pekerjaan temannya.
“Hayo Vivi, kok melirik jawaban Xena?” Tegurku tiba-tiba hingga membuat Vivi gelagapan.
“Mencontek dia tu pak!” Sela Topo.
“Yee, gak ya!” Vivi membela diri
“Jadi kenapa kamu melirik-lirik Xena?” Aku bertanya, sebenarnya hanya pertanyaan retorik yang tak harus dijawab. Namun, aku tercengang saat secara tiba-tiba Xena menyahut.
“Vivi gak mencontek pak, dia Cuma memastikan jawabannya sama apa gak sama jawaban Xena.” Sahutan lugu Xena kembali membuatku tertawa. Hahahah, lucu banget batinku. Xena memang cerdas dibanding teman yang lain. Dia mampu masuk dan memahami hal-hal detail yang aku ucapkan. Hanya saja ia memiliki kebiasaan buruk. Suka bercerita saat guru menjelaskan. Tak patoooot! (kata Mail dalam serial kartun Upin Ipin)
Kembali aku terduduk di bangku guru, masih menunggu, sambil meresapi nikmat ilahi. Sembari kulakukan hal kecil yang menurutku sangat berarti untuk mengiringi akalku yang sedang terbang entah kemana menghayalkan semua kejadian yang pernah kulalui. Menghayalkan amanah sebagai seorang aktivis, menghayalkan tunggakan kos dan hutang, menghayalkan kampung halaman, dan menghayalkan masa depan. Tiba-tiba sekelebat tergambar wajah mama Topo dipikiranku. Eh, koq jadi mama Topo. Hihihi, aku jadi malu dengan pikiranku. Hanya bisa berucap istighfar untuk menutupinya. Gimana ya kabarnya sekarang? Ehh……keceplosan.
“Eh liat, Pak Yadi ngupil!” Gubrak!!!! Tegur Xena yang secara tidak sengaja mempermalukanku di depan teman-temannya yang lain. Aku hanya bisa meringis malu karena disambut tawa terbahak oleh anak-anak. Langsung ku tata diri hendak menyahut, tetapi kembali Topo berujar membela,
“Itu tandanya Pak Yadi pembersih woy!” Senengnya dibela.
“Betul tu Po, coba aja kalian bayangin kalo seandainya hidung kalian dipenuhi dengan…., hiii jijik khan?” Aku mencoba membela diri dan dalam hati mengejek Xena “wekkk gak kena!”
Bel kemudian berbunyi menandakan jam istirahat tiba. Anak-anak berhambur menyerahkan jawaban mereka dan secara mandiri langsung menuju ke tempat berwudhu untuk melaksanakan Sholat Sunnah Dhuha. Inilah istimewanya SDIT, anak-anak sudah terbiasa akan hal itu. Tanpa perlu harus membentak-bentak menyuruh mereka karena sudah dibiasakan sejak kelas 1.
Aku merapikan jawaban anak-anak untuk kuperiksa nanti di kantor. Karena pasti terganggu jika di kelas ini ku periksa. Harus fokus. Saat merapikan dan hendak berjalan keluar aku baru sadar bahwa sapu tanganku hilang, padahal sedari tadi ada di meja. “Kemana ya?”. Langsung ku tanyakan ke anak-anak.
“Anak-anak, ada yang liat sapu tangan bapak?” Mereka melihat kanan dan kiri mencoba membantuku mencarinya, tapi tak kunjung jumpa. Ah, ya sudahlah, cuma sapu tangan. Nanti bisa ku bawa yang lainnya. Masih ada 2 sapu tangan lagi di rumah. Aku langsung bergegas turun menuju kantor. Kelas 3 memang terletak di lantai 3, jadi harus kuat-kuat lah apalagi sambil membawa buku anak-anak ini. Memang sih, aku masih muda jika harus mengeluh karena tangga ini. Jadi malu.
Sampai di kantor, ku sempatkan sholat dhuha 2 rekaat dan langsung memeriksa jawaban anak-anak. Tidak ada waktu ngerumpi dengan guru-guru, karena jika ini ditunda nanti jadi tambah merepotkan disebabkan kerjaan yang lain juga sudah menunggu. Beberapa menit mengerjakan aku heran dan kaget ternyata jawaban anak-anak sangat mengecewakan. Aduh, serasa persiapan mengajarku tadi malam sia-sia. Mau pecah rasanya kepala ini. Kok bisa sih? Benar-benar mengecewakan.
“Pak Yadi, Pak Yadi! Haikal manjat pohon pak!” Rezi si ketua kelas datang menemuiku terburu untuk memberi tahu suatu kejadian penting. Langsung aja emosiku kembali meledak. Aku lelah, kecewa dengan jawaban anak-anak ditambah lagi tingkah Haikal. Aaaaahhhh….. langsung aku berlari menuju lokasi.
“Haikaaal… turun!!” Haikal kaget dan memaksakan mulutnya tersenyum kaku sambil bergegas turun. Begitu sampai di bawah, ibu jari dan telunjuk tanganku secara refleks mendarat di telinganya. Menjewer. Tapi tak lama, aku langsung sadar dan melepaskan tanganku.
“Kok manjat-manjat sih nak! Kalau jantuh nanti gimana? Bisa patah tangan dan kaki kamu!” Aku marah-marah tak tahu arah. Seperti kesetanan saja. Namun begitu sadar aku langsung istighfar sebanyak mungkin.
“Sekarang Haikal istighfar 30 kali ya, dan berjanji dalam hati tidak mengulanginya!” Haikal hanya terdiam tanpa ekspresi. Aku mendadak takut. Takut kemarahanku mematikan mentalnya. Aku langsung mengelus kepalanya menunjukkan kasih sayangku. Karena aku pernah membaca sebuah artikel, memarahi anak dengan emosi yang tinggi mampu membuat mereka ketakutan sehingga merusak mental. Kerusakan mental inilah yang pada jangka panjang juga merusak karakternya. Kembali kuperhatikan dia baik-baik. Ia masih komat-kamit, membaca istighfar sampai 30 kali seperti yang ku perintahkan tadi.
“Itu berbahaya nak, kamu bisa jatuh. Jangan ulangi ya!” ku turunkan nada bicaraku.
“Iya pak!” Haikal menyahut pelan.
***
Sampailah aku di kamar kos kecil tempat di mana aku sejenak melempangkan badan untuk kemudian kembali beradu dengan nasib membuktikan bahwa aku adalah manusia yang mampu survive menatap masa depan. Langsung saja ku banting tasku di sebelah kasur dan ku rebahkan badanku hingga terlelap.
Belum lama aku terlelap terdengar suara ketukan keras di pintu. Keras sekali seperti memaksa aku segara membukanya.
“Iya sabar!” Langsung kurapikan diri sekenanya dan kemudian membuka pintu. Begitu ku buka, aku sangat kaget karena yang datang dua orang berseragam dengan susunan simbol-simbol yang tak kumengerti menempel di bajunya. Mereka polisi. Kemudian muncul juga seorang pria berbadan cukup kekar dari belakang kedua polisi tersebut mendaratkan pukulannya tepat di wajahku. Cukup keras, karena aku sempat limbung dan terjatuh di lantai kamar. Ketika sudah jatuh pun ia berusaha menginjakku, untung saja kedua polisi tersebut menahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar