Hari ini,
kemarahannya menyulut kemarahanku. Anak yg memang kukenal sebagai sosok
tempramen itu berhasil membuatku memukul meja berkali-kali. Tapi anehnya tak
memberi ketakutan berarti baginya. Padahal jarang sekali aku bisa marah. Tapi
ya sudahlah,barangkali Sang Penyayang menunjukkan ayat-ayat cintaNya melalui
peristiwa ini.
Kemudian suasanapun drastis
berubah ketika muncul satu sosok bocah dengan senyum innocent nan lugu
menyeletuk, "Pak, lagi ngerjain apa kita?". Pertanyaan itu langsung
disahut sinis oleh teman-temannya dan ada juga yang tertawa tidak terbahak.
Suasana ini benar-benar memecah
kebekuan amarah yang menyelimutiku. Namun, terlalu gengsi untuk tertawa.
Jangankan tertawa, untuk sekadar mengikuti arus kelucuan saja aku tak sudi.
"Kekonyolan yang luar biasa", Pikirku mengingat pelajaran sudah berlangsung dua jam pelajaran lebih tetapi masih
tidak tau ia apa yg ku perintahkan untuk dikerjakan tadi.
Batu,
Ia keras,
Ia keras,
Sukar pecah, maupun diluluhkan
Tidak bisa merasa,
Tidak mau bergerak,
Itulah batu. "Aku"
Terlalu beda memang dua muridku
ini. Kukatakanlah padanya –si sosok bocah lugu nan ekspresif pemilik nama Xena
Juwita- “ Nak, yang sedang kita kerjakan hari ini adalah sebuah proyek besar
untuk kepentingan futuristik tanpa meninggalkan aspek kekinian dan masa lampau.
Masa lampau kita jadikan “the best experience” dan hari ini kita jadikan
sebagai titik tolak dalam melangkah demi kehidupan yang lebih baik menyongsong
peradaban berkerakter di tengah arus modernisasi”.
Semua siswa seketika terdiam melongo menunjukkan ekspresi
ketidaktahuan mendalam, terkecuali bocah ekspresif yang ada di hadapanku ini
yang mengerutkan dahinya mencoba memahami kalimatku. Hembusan angin masuk ke
ruangan melalui pintu kelas yang terbuka menerpa jilbab putih yang membaluti
kepala mungilnya, kemudian ia manggut-manggut. Aku takjub. Ternyata ia mampu
memahami omonganku yang sebenarnya terkesan ngawur dan sengaja agar membuatnya
bingung. Seranganku meleset.
“Pahamkah engkau?” Tanyaku tegas,
dan ia dengan tenangnya kembali ke tempat duduknya tidak mempedulikan
pertanyaanku. Setelah duduk ia pun mencoba membuka mulutnya, “Entah ngomong apa
bapak ini…” Gubrakkkkk!!!!
Pecahlah sudah batu itu. Tak
mampu lagi aku menahan tawa. Terbahak aku di depan anak-anak. “Dimana, dimana
gengsiku tadi?” aku sudah tidak tahu.
Batu,
Ia keras,
Ia keras,
Sukar pecah maupun diluluhkan,
Namun, sukar tidak berarti tak
bisa,
Tetesan air yang lembut saja
mampu melubanginya,
Kini, batu memalu. “Aku”
Tertawaku ternyata bertepuk
sebelah tangan. Murid-muridku tidak paham. Sebagai anak kelas tiga SD ilmu
mereka mungkin belum sampai jika dihadapkan dengan fenomena hari ini, eh kata
fenomena aku ralat deh. Kejadian aja. Terlalu mendramatisir jika kata fenomena
digunakan untuk mengilustrasikan peristiwa ini.
Marahku di awal yang kulampiaskan
di atas meja si Topo tadi, kini telah reda oleh tingkah si Xena. Begitulah di
kelas ini, ada penyakit tetapi obat juga ada. Eitt, tunggu dulu. Sebelumnya,
aku ingin bercerita tentang satu hal. Sosok tempramen yang tidak suka diganggu
tetapi suka mengganggu ini namanya Topo Lukito. Tubuh kurus berkulit gelap ini
memiliki rambut lurus. Lurusnya ke atas. Bahkan teman-temannya sering berkata
padaku, kalau ada balon kena rambutnya pasti meledak. Perkataan yang tidak baik
batinku, apa lagi bagi seorang guru sepertiku.
Dengan mendengar namanya, orang
manapun bisa menebak kalau Topo adalah orang Jawa. Begitu juga bagiku saat
pertama mengenalnya. Tetapi, itu salah. Ternyata Topo Lukito adalah orang
Melayu. Tak habis pikir aku dibuatnya. Namun, ada penjelasan yang logis kok
kenapa bocah berkulit gelap ini bukan orang Jawa, bahkan ia sangat marah jika
disamakan dengan orang Jawa. Kata Topo, orang Jawa itu pemalas. Iya, pemalas.
Sempat tersinggung juga aku mendengar ungkapan dari mulutnya, pasalnya aku
orang Jawa. Nanti aku jelaskan kenapa ia tidak suka disamakan dengan orang
Jawa.
Beberapa bulan
yang lalu ia pernah menyampaikan sesuatu yang amat rahasia padaku. Waktu itu,
pagi hari senin pukul 06.40 wib. Jam sepagi itu tak biasanya ia datang cepat,
tapi sudah biasa bagiku. ia menemuiku dengan melihat ke kanan dan ke kiri
seolah ketakutan jika langkahnya mendekatiku diketahui orang lain.
“Po, kenapa
kamu?” Tanyaku.
“Anu pak, ada
yang kirim salam sama bapak.” Jawabnya sambil senyum malu-malu. Aku hanya bisa
mengerutkan dahiku.
“Siapa?”
Tanyaku penuh tanda Tanya.
“Anu pak, tapi jangan bilang siapa-siapa ya pak?”
“Anu pak, tapi jangan bilang siapa-siapa ya pak?”
“Iya, siapa?”
aku menjadi tambah penasaran.
“Mama,
pak” ia langsung berhambur lari menjauhiku menuju ke kelasnya. Aku terdiam
membisu dan terpojok seolah semua memandangiku ingin memangsa. Termasuklah
laptop di hadapanku, detakan jam dinding di sebelah pintu, dan meja kursi yang
tersusun sedemikian rupa di dalam kantor yang masih sepi ini. “Apa gak salah?”
batinku. Ah mungkin perasaan hatiku yang sedang dilanda kegeeran saja. Kalau
itu benar, bisa digampar bapaknya aku. “Hihihi”, tawaku kecil.
***
“Anak-anak
semua yang bapak sayangi, orang yang paling utama untuk kita hormati di rumah
adalah kedua orang tua kita. Terus, di antara Ayah dan Ibu siapakah yang lebih
utama untuk dihormati, Xena?” pertanyaan appersepsi ku tujukan kepada Xena yang
sedari awal aku masuk dan memulai pelajaran PKn ini ia hanya asyik bercerita
dengan teman satu mejanya Vivi. Sontak saja membuat Xena gelagapan dan terdiam
malu dan langsung menghentikan perbincangannya.
“Ayo
jawab Xen! Atau Vivi juga boleh dech!” tepat seperti perkiraanku mereka tidak
bisa menjawabnya. Namun, Topo langsung menyahut dari jarak jauh, “Ibuuu….”
Teman-teman lain terdiam dan pandangan beralih ke Topo seakan melupakan
kejadian Xena dan Vivi.
“Ohhh
Topo udah berubah namanya ya?” Sindirku.
“Makanya,
kalau bapak sedang menjelaskan, kalian jangan ikut menjelaskan. Ganti-gantian
kita ngomongnya ya Xen! Atau Xena aja yang jelaskan di depan biar bapak yang
mendengarkan” Tambahku. Mereka hanya terdiam kecuali si Topo yang seperti tak
peduli dengan apapun yang terjadi. Begitulah Topo, kelihatannya aku harus mengunjungi
rumahnya untuk berkomunikasi dengan orang tuanya membicarakan perilakunya
selama ini yang kerap membuatku kesulitan mengelola kelas ini. Ada banyak
catatan kurang baik di buku jurnal perkembangan sikap siswa mengenai dirinya.
Itu nantilah, biar ku selesaikan dulu pelajaran ini.
“Pada
pertemuan sebelumnya kita sudah membahas, bahwa orang yang paling utama untuk
dihormati adalah…..”
“Ibu….”
Jawab anak-anak kompak.
“Terus
siapa lagi?”
“Ibu…”
Jawab mereka lagi
“Kemudian…”
“Ibu…”
“Dan
yang ke empat….” Tanyaku mengakhiri.
“Ayah…”
“Jadi…”
penjelasanku terhenti saat kulihat Xena mengangkat tangannya seperti ingin
member pertanyaan.
“Iya
Xena, ada apa?”
“Pak,
berarti Ibu kita harus tiga ya Pak?” Tanya Xena penuh dengan keluguan yang
menafsirkan pembahasan ini terlalu dalam bahkan melebihi teman-temannya. Siswa
yang lain hanya tertawa dan beberapa protes.
“Ehhh
bukan, yang benar empat.” Jawabku iseng sambil tertawa. Siswa-siswa hanya mampu
menunjukkan ekspresi kebingungan yang amat mendalam sedalam cara berpikir si
Xena tadi. Dan akupun langsung meluruskan, takut anak-anak terjebak dalam
penafsiran yang salah.
Ketika
jam pulang pun tiba, selesai anak-anak membaca do’a pulang aku langsung
memanggil Topo untuk menjelaskan bahwa aku akan berkunjung ke rumahnya menemui
orang tuanya.
“Baik
anak-anak silakan pulang kecuali Topo, sebentar ada yang bapak sampaikan.”
Anak-anak pun berhambur pulang berebut menyalami tanganku hingga membuatku
terdesak. “Pelan-pelan nak!” Dan dalam hitungan detik kelas menjelma menjadi
sepi tinggal berdua Aku dan Topo.
“Topo,
hari ini pulang bapak antar ya! Bapak mau bertemu dengan orang tua kamu tadi
udah Bapak telepon kok mama kamu.” Mendengar kata-kataku mendadak ekspresi
wajah Topo berubah berseri sumringah padahal dari tadi merengut saja. Aku hanya
heran tak mengerti dengan arti semua ini, padahal Aku datang ke rumahnya karena
membicarakan tingkahnya yang mulai membuatku kerepotan. “Ah biarlah!” pikirku
sambil merapikan barang-barang yang hendak ku tinggalkan dan sebagian ku bawa
pulang. Semuanya berserakan di atas meja bak ada karang yang baru saja ditabrak
bahtera.
“Pak?”
Tiba-tiba Topo menghentikan aktivitasku sejenak.
“Ya?”
Jawabku singkat dan ku lanjutkan lagi merapikan barang-barang tadi.
“Anu,
Bapak mau jadi ayah Topo?” Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah Topo
untuk melampiaskan ketersentakanku mendengar ucapannya. Tapi langsung ku
positifkan cara berpikirku. Mungkin ayah dalam artian menyayangi.
“Ya
kalian kan semua memang anak bapak. Bapak menyayangi kalian walau terkadang
buat bapak jengkel dan emosi.” Jelasku sambil melanjutkan merapikan barang yang
tinggal sedikit lagi.
“Bukan
gitu loh pak. Jadi Ayah Topo di rumah, maksudnya.” Tersentak lagi Aku
dibuatnya. Untung proses merapikan sudah rampung, jadi tidak perlu lagi jeda
karena melampiaskan ketersentakan seperti tadi.
“Hahahah,
bisa digamparlah bapak sama Ayah Topo.” Aku hanya tergelak menganggap Topo
hanya bercanda.
“Ih
Bapak ini!” Dia mulai kembali merengut.
“Udah,
ayok berangkat!” Ajakku.
Rumah
Topo cukup jauh dari sekolahnya bagi seukuran anak SD, kurang lebih 8 Km dari
Sekolahnya. Biasanya ia diantar jemput oleh Mamanya dengan sepeda motor matic.
Aku memang tidak pernah melihat sosok Ayahnya. Maklumlah, Aku guru yang baru
mengajar 3 bulan yang lalu di sekolah ini. Terlambat memang baru hari itu Aku
mulai mengenali latar belakang keluarga siswa-siswaku. Padahal Ron Clark
seorang tokoh guru yang pernah ku tonton dalam filmnya “Ron Clark Story”,
sebelum mengajar di sebuah sekolah yang terkenal dengan banyak kasus kejahatan
anak-anaknya ia mengunjungi semua orang tua siswa untuk mengajak bekerja sama
dalam proses pendidikan anak-anaknya. Biarlah terlambat, bukankah itu lebih
baik daripada tidak sama sekali.
Beberapa
menit kemudian tibalah Aku di sebuah rumah 2 lantai dengan pagar besi yang
cukup tinggi. Tidak begitu besar, minimalis dengan banyak susunan bunga di
dalam pot rapi. Indah sekali. Topo langsung lari menuju pintu dan berteriak
tanpa salam seperti kegirangan.
“Mamaaa…..
Pak Yadi datang!” Teriak Topo dengan gembiranya sambil menggerakkan gagang
pintu tetapi tidak terbuka. Mungkin dikunci. Dia tidak sadar bahwa aku datang
ke rumahnya sebenarnya karena kelakuan buruknya. Aneh.
“Po,
pake salam donk!” Tegurku. Ia hanya tersipu malu.
“Assalamu’alaikum,
Mama?” Terdengar suara menjawab salam dari dalam rumah dan dengan sekejap
terbukalah pintu. Pintu yang membatasi kami dengan penghuni yang ada di dalam.
Muncullah sosok wanita dengan hijab rapi nan indah mempresentasikan kesholihan
dan keanggunan pemakainya. Wanita berkulit putih dengan mata sipit, sangat jauh
dari kata mirip dengan anaknya Topo Lukito. Masih kelihatan sangat muda
dan….CANTIK. Membuat tubuhku merinding dan salah tingkah.
“Silakan
masuk pak!” Ramah tamahnya memecah kekikukanku (apa ada kata itu?).
Astaghfirullah, aku tersadar dan sisi baik hatiku berkata, “Yadi, ingat dia udah
punya anak! Jangan sampai kau beneran digampar suaminya. Ingat dosa juga Yadi!”
“Iya
buk terima kasih!” Jawabku sambil menunduk mengurangi grogi dan masuk.
“Pak,
pake salam donk!” Topo menegurku, rasanya Gubrak gimana gitu. Aku malu. Mungkin
kalau kulitku putih langsung kelihatan mulai memerah. Untungnya Aku berkulit
gelap.
“Oh
iya Po, Assalamu’alaikum!” Sedetik itu pula Topo menghilang dari pandanganku
menuju ke belakang bagian rumahnya.
Langsung
aku disuruh duduk di sova coklat yang tersusun rapi di ruang tamu. Di atas
mejanya sudah ada segelas teh dan beberapa camilan.
“Begini
buk, sebelumnya mohon maaf karena mengganggu waktu ibuk. Maksud kedatangan saya
kemari untuk bersilaturahim selaku saya sebagai gurunya Topo dengan Ibu maupun
Bapak selaku orang tuanya. Dan maksud yang berikutnya, saya cuma ingin tahu
bagaimana aktivitas Topo kesehariannya agar saya dan Ibu maupun Bapak bisa
mencari solusi menangani perilaku ananda yang kurang baik di sekolah.” Aku
mencoba menjelaskan maksud kedatanganku dengan kata-kata yang tidak kurancang
sebelumnya. Kacau memang.
“Iya
pak, sebenarnya semenjak saya menerima telepon dari bapak tadi saya sudah bisa
menebak pasti anak saya melakukan sesuatu yang tidak baik. Saya mengakui koq
pak, di rumah saja pun dia begitu. Agak susah belajar, maunya main game, kalau
jumpa temannya pasti berkelahi. Terkadang saya juga hampir menyerah pak.”
Sejenak kami terdiam, Aku masih tertunduk dan mencoba sedikit demi sedikit
mengangkat wajah untuk melihat Mamanya Topo. Aku kaget, matanya berkaca-kaca
dan tak menunggu lama air matanya pun jatuh.
“Maaf
ya pak, saya gak bisa menahan ini.” Sambil mengusap air matanya sementara aku
masih terdiam bunging tak tahu harus apa. Kemudian ia melanjutkan
penjelasannya.
“Sebenarnya
saya kasihan dengan Topo Pak. Perlu bapak ketahui, saya ini bukan Mama
kandungnya.” Aku langsung tersentak.
“Jadi?”
“Topo
itu anak Kakak saya. Kakak saya itulah Bunda si Topo. Namun, sejak Topo berumur
tiga tahun Saya dan Ibu saya yang mengasuhnya.” Aku langsung teringat tawaran
Topo untuk menjadi Ayahnya. Mungkin Mamanya ini –yang berada di hadapanku- yang
ia maksudkan. Hihihi, aku geli. Tapi ku tahan, karena wanita anggun ini sedang
menangis. Walaupun Aku tak mengerti maksud tangisannya, setidaknya aku
menghormatinya. Karena di saat orang lain bersedih dan kita tertawa, itu bisa
diartikan mengejek.
“Maaf
buk kalau boleh tahu, Ayah dan Bunda Topo sekarang di mana ya?” Ia menarik
nafas panjang sebelum menjawab pertanyaanku.
“Saya
akan ceritakan semua kronologisnya pak, cukup panjang kisahnya. Oh iya, diminum
pak tehnya!” Aku tersenyum dan langsung menyeruput teh buatan Mamanya Topo.
Mama angkat. Kemudian meletakkan kembali ke meja. Sudah tak sabar aku ingin
mendengar kisahnya. Saat itu langit mulai mendung seperti sedang mempersiapkan
diri untuk menjalankan perintah malaikat Mikail untuk menurunkan hujan.
“Ayah
Topo adalah seorang kontraktor yang berasal dari Solo. Saat itu kebetulan
sekali dia mendapat tugas di sini dan saat itu pulalah mereka bertemu. Saya
tidak tahu bagaimana mereka bisa bertemu, yang pasti setelah pacaran 5 bulan
mereka memutuskan untuk menikah. Setelah menikah lahirlah dua orang anaknya,
yang pertama Topo dan yang kedua Aini. Aini sekarang dibawa kakak saya ke
Malaysia. Ia bekerja di sana sebagai TKW. Semenjak setelah menikah, Ayahnya
sering keluar kota. Keadaan ini memicu ketidakharmonisan hubungan mereka.
Hingga tiba akhirnya ketika Topo berusia 6 tahun, Ayah Topo di-PHK oleh
perusahaannya. Sejak saat itulah hubungan mereka semakin parah. Ayahnya mulai
malas-malasan, untuk mencari kerja sajapun tidak mau. Kalaupun ada, kerjanya
milih-milih. Maunya enaknya saja. Ia benar-benar menjadi pemalas.”
“Oh
pantas saja Topo pernah bilang kalau orang Jawa pemalas ya buk?” Aku menyela.
“Iya
pak, bahkan dia tidak mau disebut sebagai orang Jawa. Padahal ayahnya Jawa
asli. Sampai-sampai Topo mendeklarasikan diri tidak mau disebut sebagai orang
Jawa. Dia maunya disebut sebagai orang Melayu seperti Bundanya.”
“Hebat
juga Topo ya buk, usia 6 tahun saja sudah paham dan bisa mengambil kesimpulan
hanya dengan mengamati perilaku Ayahnya?”
“Sebenarnya
tidak sesederhana itu, yang membuat ia membenci Ayahnya adalah Bundanya juga.
Setiap Bundanya pulang, ia selalu dihasut Bundanya agar membenci ayahnya karena
pemalas itu dan kalau ditanya kenapa pemalas ia akan menjawab karena orang
Jawa.” Imbuh Mama Topo. Tetapi masih ada satu hal yang aneh. Kalau Topo tidak
menyukai orang Jawa, kenapa dia menawarkanku menjadi ayahnya? Apa harus ku
tanyakan ya? Ah tidak mungkin ku tanyakan hal itu. Hihihi, aku tertawa kembali
di dalam hati karena membayangkan lucunya tawaran itu bagiku meskipun kalau
boleh jujur hmmm… aku, ah entahlah. (tafsirkan sendiri, :-D)
“Jadi
sekarang Ayahnya di mana ya buk?” sergahku.
“Iya
pak, klimaksnya ketika Topo masuk di bangku SD. Kondisi keharmonisan mereka
semakin kacau dan menjadi-jadi hingga terucaplah kata cerai dari mulut ayahnya.
Sedangkan bundanya pun sepakat. Ayahnya pulang ke kampung halamannya di Solo
dan tak pernah kembali lagi sampai sekarang. Hal ini ditambah parah dengan
kondisi ekonomi yang juga semakin memburuk. Ternyata kepergian ayah Topo
meninggalkan utang cukup banyak.” Aku berpikir sejenak, rumah 2 lantai
minimalis mewah seperti ini menunjukkan pemiliknya adalah orang yang berada.
Apa iya ibunya tidak mau membantu? Kemudian pertanyaan hatiku langsung terjawab
ketika gadis putih bermata sipit ini menambahkan penjelasannya.
“Mungkin
bapak berpikir kenapa kami tidak membantunya kan?” Aku tak menunjukkan ekspresi
apa-apa tetapi sebenarnya juga sangat ingin tahu.
“Kakak
saya itu pak, anaknya sangat mandiri sejak kecil dan tidak mau menceritakan
masalahnya apa lagi meminta bantuan kepada orang lain. Padahal banyak orang
yang sudah mendatanginya untuk menagih utang mantan suaminya dulu meskipun
kakak saya tidak tahu apa-apa mengenai itu. Namun akhirnya kakak saya tidak
mampu menahan masalahnya sendiri. Hal ini disebabkan ada beberapa orang yang
datang dengan didampingi polisi dan pengacara ke rumahnya. Mereka membawa surat
sita rumah kakak saya. Rumahnya disita dan sekarang jadi milik salah satu
bank.” Suasana hening sejenak, hingga suara gemuruh angin dengan hiasan kilatan
petir terdengar jelas dari dalam rumah yang sedang kami jadikan tempat
pertemuan. Sebatas guru dan klien. Langit semakin mendung, semendung hati
mamanya Topo. Pas seperti film India, jika sedang sedih-sedih pasti langit
berubah jadi mendung ditambah suara kilatan petir dan kemudian turun hujan.
Hanya saja saat itu tak turun hujan.
“Mama Topo kemudian datang kemari dengan
sambil menggendong dua tas besar dengan ekspresi wajah memaksakan diri untuk
tersenyum. Karena ia malu harus mengakui masalahnya. Ketika di dalam kamar kami
berdua, saat itulah ia menceritakan masalahnya kepada saya Pak. Intinya, Topo
menjadi anak yang sedikit kasar itu karena latar belakang keluarganya juga.
Anak sekecil ia belum pantas menerima beban sepahit ini. Saya sangat iba pak.”
Tangis Mama Topo meledak tak terbendung. Aku hanya serba salah tak tahu harus
apa.” Itulah kejadian beberapa bulan yang lalu saat aku mengunjungi rumah Topo.
Aku
pun mulai mencoba memahami karakter dia untuk segera kutangani kenakalannya
hanya saja terkadang aku juga tidak bisa menahan amarahku. Hari ini ia mengejek
si Haikal teman sebangkunya dengan kata “Gendut”, padahal anaknya memang
gendut. Tetapi tidak terima dengan ejekan itu kemudian langsung mendaratkan
tinjunya di wajah Topo. Hingga terjadilah perkelahian sengit. Aku geram saja,
kenakalan anak yang paling tidak kusukai ya perkelahian. Najis aku kalau sudah
berhadapan masalah yang satu ini. Memang agak lain tingkah anak-anakku
belakangan. Mereka jadi sering bermain-main silat-silatan. Aku yakin ini pasti
disebabkan acara televisi yang belakangan sering menayangkan sinetron beradegan
perkelahian dengan mengenakan baju sekolah. Fiuhhhh…. Pening kepala Spongebob.
Haikal
adalah anak salah satu konglomerat di kota ini. Ayahnya seorang kepala mafia
yang cukup terkenal. Secara ilegal mengimpor barang-barang dari Negara tetangga
seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Berbagai jenis barang
diimpornya, sebut saja Gadget, peralatan elektronik rumah tangga bahkan barang
gelap juga ada. Ayah Haikal bukan orang sembarangan, ia dilindungi oleh oknum
tertentu untuk memuluskan usahanya. Itulah yang aku dengar dari teman-teman
mengajarku. Guru-guru banyak yang tidak berkutik berhadapan dengan Haikal jika sewaktu-waktu
ia melakukan suatu kesalahan. Apalagi Haikal ini anak semata wayang. Namun,
untungnya Haikal bukanlah tipe anak yang nakal. Anaknya pendiam, nurut, hanya
saja sedikit tempramen. Aku memang belum sempat datang silaturahim ke rumahnya
sampai saat ini.
Pelajaran
yang unik yang dapat aku ambil. Sekelas mafia seperti ayah Haikal saja tidak
suka jika keturunan tunggalnya mengikuti jejak buruknya. Buktinya, Haikal malah
disekolahkan di sini SD islam terpadu yang memiliki program andalan Tahfidz dan
Qiro’ah. Menekankan perbaikan karakter yang baik, yang selalu mengawasi dengan
ketat kewajiban lima waktu anak-anaknya dan menekankan kedisiplinan ekstra
keras dengan jurus Ka-eS alias kasih sayang. Jika seperti inilah mindset
seluruh orang tua di negeri ini, aku yakin akan muncul generasi sholih-sholihah
yang mampu menciptakan kampung-kampung tarbiyah seperti lagunya UCIHA Nasheed
yang diciptakan oleh Rian itu. Nasyid favoritku. Heheh….
***
Langit
berubah menjadi gelap, angin cukup kencang bertiup, aku masih keasyikan
menikmati alur waktu yang terus berlalu sambil menunggu anak-anak menyelesaikan
tugas yang ku berikan sekaligus bel istirahat yang tak kunjung berbunyi. Hari
ini aku sangat kelelahan. Malam tadi aku begadang menyiapkan pembelajaran hari
ini. Wajar saja, kurikulum 2013 ini membutuhkan persiapan matang dan mantab
baik materi maupun fisik pengajarnya.
Sesekali
aku berkeliling memeriksa pekerjaan anak-anak sambil menyindir beberapa siswa
yang melirik pekerjaan temannya.
“Hayo
Vivi, kok melirik jawaban Xena?” Tegurku tiba-tiba hingga membuat Vivi
gelagapan.
“Mencontek
dia tu pak!” Sela Topo.
“Yee,
gak ya!” Vivi membela diri
“Jadi
kenapa kamu melirik-lirik Xena?” Aku bertanya, sebenarnya hanya pertanyaan
retorik yang tak harus dijawab. Namun, aku tercengang saat secara tiba-tiba
Xena menyahut.
“Vivi
gak mencontek pak, dia Cuma memastikan jawabannya sama apa gak sama jawaban
Xena.” Sahutan lugu Xena kembali membuatku tertawa. Hahahah, lucu banget
batinku. Xena memang cerdas dibanding teman yang lain. Dia mampu masuk dan
memahami hal-hal detail yang aku ucapkan. Hanya saja ia memiliki kebiasaan
buruk. Suka bercerita saat guru menjelaskan. Tak patoooot! (kata Mail dalam
serial kartun Upin Ipin)
Kembali
aku terduduk di bangku guru, masih menunggu, sambil meresapi nikmat ilahi.
Sembari kulakukan hal kecil yang menurutku sangat berarti untuk mengiringi
akalku yang sedang terbang entah kemana menghayalkan semua kejadian yang pernah
kulalui. Menghayalkan amanah sebagai seorang aktivis, menghayalkan tunggakan
kos dan hutang, menghayalkan kampung halaman, dan menghayalkan masa depan.
Tiba-tiba sekelebat tergambar wajah mama Topo dipikiranku. Eh, koq jadi mama
Topo. Hihihi, aku jadi malu dengan pikiranku. Hanya bisa berucap istighfar
untuk menutupinya. Gimana ya kabarnya sekarang? Ehh……keceplosan.
“Eh
liat, Pak Yadi ngupil!” Gubrak!!!! Tegur Xena yang secara tidak sengaja
mempermalukanku di depan teman-temannya yang lain. Aku hanya bisa meringis malu
karena disambut tawa terbahak oleh anak-anak. Langsung ku tata diri hendak
menyahut, tetapi kembali Topo berujar membela,
“Itu
tandanya Pak Yadi pembersih woy!” Senengnya dibela.
“Betul
tu Po, coba aja kalian bayangin kalo seandainya hidung kalian dipenuhi
dengan…., hiii jijik khan?” Aku mencoba membela diri dan dalam hati mengejek
Xena “wekkk gak kena!”
Bel
kemudian berbunyi menandakan jam istirahat tiba. Anak-anak berhambur
menyerahkan jawaban mereka dan secara mandiri langsung menuju ke tempat
berwudhu untuk melaksanakan Sholat Sunnah Dhuha. Inilah istimewanya SDIT,
anak-anak sudah terbiasa akan hal itu. Tanpa perlu harus membentak-bentak
menyuruh mereka karena sudah dibiasakan sejak kelas 1.
Aku
merapikan jawaban anak-anak untuk kuperiksa nanti di kantor. Karena pasti
terganggu jika di kelas ini ku periksa. Harus fokus. Saat merapikan dan hendak
berjalan keluar aku baru sadar bahwa sapu tanganku hilang, padahal sedari tadi
ada di meja. “Kemana ya?”. Langsung ku tanyakan ke anak-anak.
“Anak-anak,
ada yang liat sapu tangan bapak?” Mereka melihat kanan dan kiri mencoba
membantuku mencarinya, tapi tak kunjung jumpa. Ah, ya sudahlah, cuma sapu
tangan. Nanti bisa ku bawa yang lainnya. Masih ada 2 sapu tangan lagi di rumah.
Aku langsung bergegas turun menuju kantor. Kelas 3 memang terletak di lantai 3,
jadi harus kuat-kuat lah apalagi sambil membawa buku anak-anak ini. Memang sih,
aku masih muda jika harus mengeluh karena tangga ini. Jadi malu.
Sampai
di kantor, ku sempatkan sholat dhuha 2 rekaat dan langsung memeriksa jawaban
anak-anak. Tidak ada waktu ngerumpi dengan guru-guru, karena jika ini ditunda
nanti jadi tambah merepotkan disebabkan kerjaan yang lain juga sudah menunggu.
Beberapa menit mengerjakan aku heran dan kaget ternyata jawaban anak-anak
sangat mengecewakan. Aduh, serasa persiapan mengajarku tadi malam sia-sia. Mau
pecah rasanya kepala ini. Kok bisa sih? Benar-benar mengecewakan.
“Pak
Yadi, Pak Yadi! Haikal manjat pohon pak!” Rezi si ketua kelas datang menemuiku
terburu untuk memberi tahu suatu kejadian penting. Langsung aja emosiku kembali
meledak. Aku lelah, kecewa dengan jawaban anak-anak ditambah lagi tingkah
Haikal. Aaaaahhhh….. langsung aku berlari menuju lokasi.
“Haikaaal…
turun!!” Haikal kaget dan memaksakan mulutnya tersenyum kaku sambil bergegas
turun. Begitu sampai di bawah, ibu jari dan telunjuk tanganku secara refleks
mendarat di telinganya. Menjewer. Tapi tak lama, aku langsung sadar dan
melepaskan tanganku.
“Kok
manjat-manjat sih nak! Kalau jantuh nanti gimana? Bisa patah tangan dan kaki
kamu!” Aku marah-marah tak tahu arah. Seperti kesetanan saja. Namun begitu
sadar aku langsung istighfar sebanyak mungkin.
“Sekarang
Haikal istighfar 30 kali ya, dan berjanji dalam hati tidak mengulanginya!”
Haikal hanya terdiam tanpa ekspresi. Aku mendadak takut. Takut kemarahanku
mematikan mentalnya. Aku langsung mengelus kepalanya menunjukkan kasih
sayangku. Karena aku pernah membaca sebuah artikel, memarahi anak dengan emosi
yang tinggi mampu membuat mereka ketakutan sehingga merusak mental. Kerusakan
mental inilah yang pada jangka panjang juga merusak karakternya. Kembali
kuperhatikan dia baik-baik. Ia masih komat-kamit, membaca istighfar sampai 30
kali seperti yang ku perintahkan tadi.
“Itu
berbahaya nak, kamu bisa jatuh. Jangan ulangi ya!” ku turunkan nada bicaraku.
“Iya
pak!” Haikal menyahut pelan.
***
Sampailah
aku di kamar kos kecil tempat di mana aku sejenak melempangkan badan untuk
kemudian kembali beradu dengan nasib membuktikan bahwa aku adalah manusia yang
mampu survive menatap masa depan. Langsung saja ku banting tasku di sebelah
kasur dan ku rebahkan badanku hingga terlelap.
Belum
lama aku terlelap terdengar suara ketukan keras di pintu. Keras sekali seperti
memaksa aku segara membukanya.
“Iya
sabar!” Langsung kurapikan diri sekenanya dan kemudian membuka pintu. Begitu ku
buka, aku sangat kaget karena yang datang dua orang berseragam dengan susunan
simbol-simbol yang tak kumengerti menempel di bajunya. Mereka polisi. Kemudian
muncul juga seorang pria berbadan cukup kekar dari belakang kedua polisi
tersebut mendaratkan pukulannya tepat di wajahku. Cukup keras, karena aku
sempat limbung dan terjatuh di lantai kamar. Ketika sudah jatuh pun ia berusaha
menginjakku, untung saja kedua polisi tersebut menahannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar