Kamis, 15 Januari 2015

HAMDHANI, THE TRUE FRIEND

Matahari siang ini memuntahkan panasnya, memasuki tiap celah ruangan kelas kami. Kaca - kaca jendela menjadi tempat cahayanya masuk dengan mudah. Satu les berlalu, Bu Elda pun pamit keluar diikuti salam. Serentak itu pula suasana kelas menjadi gaduh, sementara aku  menguap lebar. Kurasakan kantuk yang mendalam.
Kulihat Rani memulai gosipnya, Dana bernyanyi-nyanyi sendiri dan Rizal memukul - mukul meja seakan-akan meja tersebut adalah drum. Maklumlah, Dana dan Rizal sama-sama anak band. Begitu pula dengan Andi, Nouva dan Ardi. Si Hamdan di sebelahku membuka buku PAI dan membacanya sambil sesekali menekan-nekan dadanya, entah kenapa. Rahman duduk di sudut kelas dengan kepalanya ditutupi buku PAI dan bisa kupastikan kalau di sana ia tertidur. Satria, Yusuf dan Dina sibuk membahas soal-soal Try Out. Semua teman -teman kuperhatikan.
            “Kau kenapa, Ri?” Tanya Hamdan kepadaku.
            “Nggak apa-apa, emang kenapa?” Tanyaku.
            “Kayak gak punya semangat kau, ngantuk?”
            “Iya, tadi malam aku nggak bisa tidur.”
            “Nggak bisa tidur? Koq bisa?” Tanya Hamdan lagi.
            “Pening aku, duit habis, kiriman belum datang, tugas buat makalah masih banyak, mana lagi ini malam Minggu. Nggak mungkin kan gak nge-date?” Jawabku.
            “Oh, ya udah pake duitku aja dulu! Tapi, khusus untuk buat tugas aja, kalo’ untuk nge-date, tidaklah.” Tawar Hamdan.
            “Boleh?” Tanyaku memastikan dan Hamdan menggut-manggut tanda setuju sambil menekan dadanya lagi. Ingin aku bertanya kenapa, tapi malas mengatakannya, malah aku bertanya hal lain.
“Eh, betewe kenapa sih kayaknya kau itu sinis dan sinting kali sama yang namanya nge-date, ngapel, pacaran. Kalo’ kuperhatikan, kaupun kurang ada feel sama cewek. Jangan-jangan kau nggak normal lagi?”
            “Hmm (tertawa kecil). Alasannya cuma satu. Itu bukan jalannya orang Islam.” Jawabnya singkat tanpa menoleh padaku.
            “Tapi...” Kata-kataku terputus karena Ummi (panggilan untuk guru PAI kami) masuk kelas.
            “Nanti kita lanjut ya!” Bisikku pelan dan Hamdan hanya mengangguk.
            Ummi pun menjelaskan materi yang diajarkannya kepada kami panjang lebar mengenai “Perilaku Terpuji” yang di dalamnya membahas sifat adil, qonaah, jujur, dan lain sebagainya. 30 menit berjalan, Ummi menghentikan pelajarannya sejenak.
            “Anak-anak, 10 menit lagi masuk shalat Zhuhur, untuk laki-lakinya semua wajib ke musholla. Nouva muazzin dan Hamdan imamnya ya! Karena hari ini jadwal kalian XII IA 1 petugas solat berjamaah.”
            “Iya, Mi!” Jawab kami serentak.
            Aku pun memaksa diri untuk sholat enggan sekali rasanya. Maklumlah, aku termasuk cowok yang gak pernah tinggal sholat, alias lewat terus. Entah kenapa aku malas, padahal sudah 12 tahun aku belajar tentang agama. Tapi susah mengaplikasikannya, tak seperti teman sebangkuku, Hamdan.
            Selesai sholat, kami langsung kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran kami dan berakhir pada pukul 13.30 tepat. Tiba-tiba Hamdan menghampiriku.       
“Kita makan ayam penyet dulu yuk, kutraktir!. Dia memang sangat memahamiku, bahkan makanan favoritku dia pun tahu.
            “Wah, siapa takut ditraktir? Aku pun pengen ngelanjutin pembicaraan kita tadi.”
            Tibalah kami di warung ayam penyet Mas Mansyur yang terkenal di kota Kisaran ini. Hamdan langsung memesan dua porsi dan mencari tempat duduk strategis. Meja yang dilapisi plastik dengan tempat duduk yang bahannya juga terbuat dari plastik. Di belakangku duduk sepasang suami istri dengan kedua anaknya. Aku melihat perempuan berjilbab, ibu dari kedua anak itu mirip sekali dengan ibuku. Wah, tersentuh sekali hatiku. Sudah hampir sebulan aku tidak pulang ke rumah. Mendadak aku jadi melankolis, mungkin karena rindu, atau mungkin karena sedang galau tak punya uang. Ah entahlah, akupun tak bisa memahami jalan pikiranku.
            “Koq melamun lagi?” Sela Hamdan.
            “Ngaak ah.” Elakku.
            Dua piring ayam penyet pun singgah di meja kami. Aku sudah sangat lapar, tak sabar untuk menyantapnya. Sambil makan, aku pun bertanya kepada Hamdan.
            “Tadi kau bilang pacaran itu bukan jalannya orang Islam, kenapa?”
            “Karena pacaran itu nggak ada diatur dalam Islam. Yang pertama kali membawa ajaran-ajaran tentang  pacaran itu kan orang barat yang notabene-nya adalah orang kafir. Masih ingatkan sama hadis yang pernah diingatkan Ummi?” Tanya Hamdan balik.
            “Jika kamu meniru-niru suatu kaum, maka kamu termasuk ke dalam golongannya.”
            “Dhan, swear aku jadi tambah pening. Nyesel aku curhat sama kau.” Keluhku.
            “Kenapa?” Tanya Hamdan balik.
            “Kalau aku ngomong apapun sama kau, pasti buanyak banget haramnya. Jadi kalau kita mau nikah gimana? Nggak mungkin kan kita langsung ngelamar gitu aja, sementara kita gak tahu pribadi perempuan itu?”
            “Kenapa nggak mungkin? Allah pasti akan menjodohkan kita dengan wanita yang sesuai dengan keimanan kita. Itu janji Allah loch dalam Al Qur’an surah An Nur ayat 26. Apa kau nggak percaya sama janji Allah?”
            “Ah entahlah, gak bisa kuterima tuh di akalku.” Gumamku.
            “Rasulullah dulu gak pacaran, tapi kok bisalah beliau dapat istri yang sesolehah Khadijah dan Aisyah? Ali dan Fatimah juga gak pacaran. Jadi intinya perbaiki diri biar bisa dapat jodoh wanita yang baik juga.” Paparnya panjang lebar.
            “Ah, udah lah,,, udah habis ayamku.”
            “Mau tambah?” Tawar Hamdan.
            Udah kenyang kok. Eh, aku ke toilet dulu ya!”
            Beberapa menit kemudian, aku pun kembali menemui Hamdan, tapi dia sudah menunggu di luar. Tidak di kursi tempat kami makan tadi.
            “Kecut bah mulutku.” Sindirku.
            “Eits, merokok itu tak baik loh. Ada ribuan penyakit tersimpan pada tiap batang rokok,”
            “Iya tau, tapi udah kebiasaan kalo’ habis makan mana enak gak ngerokok.” Bantahku.
            Aku mengabaikan perkataannya. Di sebuah simpang Enam tepatnya dekat mesjid di jalan Sisingamangaraja kami berpisah, karena rumah kostku berbeda jauh dangan rumah Hamdan.
***
            Tepat pukul 14.45 aku tiba di kost, dan aku pun baru ingat kalau tadi sebenarnya mau meminjam uang Hamdan. Aku jadi kesal dan menyesal sekali. Ku rebahkan di atas kasur tak berkaki untuk menikmati nyamannya siang ini beristirahat. Sambil kuraih tas dan ku buka untuk mengambil HP yang tersimpan di sana. Di sekolah dilarang membawa HP, aku selalu menyembunyikannya di tas. Namun jika ada pemeriksaan aku menyimpannya di atap kelas, takut disita. Saat ku buka tas, kulihat ada uang seratus ribu rupiah dan kertas yang bertuliskan suatu pesan yang aku yakin itu tulisan Hamdan. Ya, dia memang baik. Tetapi terlalu lugu bagiku. Biarlah. Aku mengabaikan surat itu. Ku letakkan saja di atas meja sebelah tempat kasur.
             Langsung ku SMS Hamdan untuk mengucapkan terimah kasih sebagai rasa penghargaan saja jika nanti aku butuh bantuannya lagi dia tidak segan menolongku. Aku langsung beranjak keluar rumah untuk membeli rokok, karena mulutku sudah sangat masam, tak kupedulikan pesan Hamdan di sekolah tadi, lagi pula dia kan tidak tahu.
Sudah agak ceria rasanya, karena nanti malam bisa nge-date, ngapelin sayangku. Pesan si hamdan? Biar aja yang penting bisa senang – senang. Nanti kalau dah datang kiriman, uang Hamdan bisa diganti. Kemudian Aku pun tidur siang setelah menghabiskan sebatang rokokku.
***
            Jam enam sore aku terbangun, mandi, dan langsung mempersiapkan diri untuk malam mingguan. Wah, malam ini aku sangat bersemangat. Tiba – tiba HP-ku berdering tanda SMS masuk. Ternyata dari Erik anak ibu Kostku. Dia ada dikamar depan, tapi entah kenapa dia SMS segala. Mungkin sedang banyak bonus SMS.
“Coey jadi gak u pake mio-ku?
Akupun senyum dan kubalas
“Jadi donk,
Nanti ku isi full minyaknya.”
            Tepat pukul tujuh aku langsung berangkat menemui pacarku Mira. Kosnya di jalan Setia Budi Mutiara. Cukup jauh memang dari kosku, kurang lebih 10 kiloan gitu. Dia sekolah di SMA Negeri 1 Kisaran, sekolah favorit bagi kebanyakan anak-anak Asahan. Beda denganku, SMA Negeri 4. Wajar saja, sekolah kami masih baru dan aku adalah angkatan pertama.
Ku starting mio yang ku pinjam dari Erik dan langsung ku gas. Di sepanjang jalan Sisingamangaraja terus tembus ke Imam Bonjol kulihat banyak sepasang anak manusia berboncengan lalu lalang kesana kemari. Mereka sedang menikmati malam mingguannya. Suasana itu menambah semangatku untuk mempercepat laju mionya.
            Tiba di depan SMANSA (sebutan SMAN 1) sebelum memasuki jalan Setia Budi, dadaku berdegup kencang menandakan sudah tidak sabar untuk segera menemui Mira. Aku pun membelok ke kanan dan tak jauh aku melaluinya tibalah aku dijalan tepat di depan Kost Mira. Sebelum aku masuk di halaman rumah kostnya kulihat disana seorang gadis sedang ngobrol dengan pemuda sebaya denganku. Ku pandangi baik-baik dan aku yakin itu adalah Mira. Mereka duduk diatas motor Vixion merah yang diparkirkan disamping rumah. Aku bisa menyakini bahwa itu adalah sepeda motor pemuda itu. Dengan pura-pura tidak tahu dan dengan sembunyi-sembunyi aku menelpon Mira.
“Assalamua’laikum” Aku
“Wa’alaikum salam”
Mengetahui itu telpon dariku, Mira mencoba menjauhi pemuda itu dan masuk ke rumah.
“Tunggu ya bang!“. Pamit si Mira dari pemuda itu dan pemuda itu hanya manggut saja. Suasana itu bisa kulihat dengan jelas.
            “Adek di mana ni?“ Tanyaku
            “ Ehm…ini lagi di kampung bang. Tadi siang adik pulang.”
            “Oh…pulang ya?”
            “Iya, abang di…?” Langsung kuputuskan telponnya dan aku pulang. Sakit sekali rasanya hati ini. Aku telah didustai pacarku. HP langsung kunonaktifkan. Kutancap gas sekencang mungkin dan langsung kembali ke kost. Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa merutuk sendiri, memaki-maki tak tentu. Amarahku benar-benar sedang terbakar.
Setibanya di kost
            “Loch, kok balik, Gak jadi?’’. Tanya Erik heran.
            “Gak…” jawabku datar sambil melempar kunci sepeda motor ke arahnya dan dia pun menangkapnya.
            “Kenapa?”
            “Gak apa-apa”
            “Main bilyar aja yuk.” Bisik Erik karena takut pembicaraannya didengar ibunya. Sebab ibunya sangat melarang anaknya berjudi dengan benda itu.
            “Ayolah …” Kami pergi berdua ke jalan Ahmad Yani untuk main bilyar. Aku sudah bingung, entah apa lagi yang harus aku lakukan. Mudah-mudahan bilyar dapat mengurangi beban pikiranku. Kami pun main bilyar sampai puas hingga tepat jam satu malam kami pulang. Aku kalah. Uang yang diberi Hamdan sudah habis. Aku langsung tidur.
***
            Cahaya matahari sudah menyinari wajahku. Teriknya sudah terasa masuk melalui ventilasi. Ini menandakan sudah hampir siang. Kulihat jam dinding kamar, sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. Kulihat HP masih nonaktif, kemudian kuaktifkan. Tak berapa lama muncul 3 pesan, yang pertama dari Mira, dan langsung kuhapus karena aku sudah kecewa dan sangat membencinya. Pesan kedua dari mama yang isinya
“HP Rian kok gak bisa dihubungi? Cuma mau kasih tau, mama belum bisa ngirim uang hari senin. Insya Allah hari Rabu. Mama ke luar kota, kartu ATM ketinggalan di rumah”
Aku jadi tambah lemas, jadi nyesal tadi malam main biliyar. Pesan terakhir, dari Anto ketua kelasku.
“Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Telah meninggal dunia teman 1 kelas kita Hamdan Syukri. Jadi diharapkan kepada teman – teman kelas XII IA 1 untuk datang takziah hari ini pukul 08.00 pagi.”
            Seperti petir yang menyambarku di siang bolong. Aku sangat tersentak. Tidak percaya, tapi aku harus membuktikan sendiri. Aku langsung bergegas bangun dan tak sempat sarapan lagi. Cuci muka, ganti baju, dan langsung menuju rumah Hamdan di Gambir Baru. Aku minjam mio Erik. Di jalan aku tancap gas, jantungku memompa kencang sekali, hingga teras sesak nafasku. Aku menangis. Di sepanjang perjalanan tergambar wajahnya di pikiranku, kemarin ia masih mengobrol denganku.
            Setibanya di rumah Hamdan, kulihat tubuh Hamdan terbujur kaku berbalut kain putih bersih. Tubuhku melemas, kaki sudah tidak bisa menahan berat tubuhku, air mata sudah pecah. Aku jatuh terduduk diatas tikar yang di bentang dihalaman rumah. Melihat kondisiku, Satria mendatangiku dan mencoba menenangkanku. Aku menangis hebat,
***
            Setelah jenazah Hamdan dikuburkan, Aku, Satria, Nouva, Rizal dan teman-teman yang lain duduk-duduk berkumpul di Mushola dekat rumah Alm. Hamdan Syukri
            “Aku jadi teringat, semalam Hamdan masih jadi imam sholat kita” Nouva
            “Aku juga, semalam dia masih sempat mengajakku shalat dhuha.”Rahman
            “Semalam dia minjam uangku Seratus Ribu rupiah.“ Anto
            “Apa To? Minjam seratus ribu?” Tanyaku cepat.
            “Iya, tapi sudah dibayar semalam sore di rumah, dan dia gak bilang itu uang untuk apa!” Aku sangat yakin, utang itu adalah untukku. Sedihku semakin bertambah.
Selesai acara pemakaman kamipun semua masing-masing pulang, tak terkecuali aku. Ku coba kembali menghimpun semangat yang masih terburai entah kemana-mana. Sesampainya di kamar aku terduduk di kasur dan tanpa sadar terlihat selembar kertas yang terlipat di atas meja. Aku ingat, itu adalah surat yang dititipkan bersama uang yang diberinya padaku.
“Assalamua’laikum Wr. Wb’
Fren, ini uangnya. Sorry kalau kurang banyak. Soalnya Cuma segitu yang ada. Demi Allah aku ikhlas, so gak perlu diganti. Tapi ingat, gunakan itu untuk keperluanmu jangan gunakan untuk hal-hal yang sia-sia, seperti nge-date, beli rokok, main PS, Bilyar, de-el-el. OKEY !!!. Aku percaya pasti kamu bisa berubah….
            ‘’Wassalam”
Hamdan Syukri
Tangisku kembali meledak, kali ini lebih dahsyat dari yang tadi. Aku lemas, merasa tak berdaya. Aku seperti menjadi orang yang paling berdosa di dunia ini. Semua pesan yang tertulis di surat tersebut telah ku langgar. “Hamdan, maafkan aku ya!” aku berbisik kecil di sela-sela tangisku. Aku merasa malu. Aku harus bisa berubah. Aku janji akan menjalankan semua nasihat Hamdan yang selama ini selalu ku abaikan. Aku harus bertaubat. Aku harus menjemput hidayah yang diberikan Allah melalui perantaraan Hamdan.
Beberapa hari setelah kepergian Hamdan, aku seperti baru merasakan hidup. Hamdan telah meninggal karena penyakit yang selama ini dideritanya dan ia tak pernah menceritakannya kepadaku dan teman-teman yang lain. Bodohnya lagi, aku tidak menyadarinya. Selama ini ia sering menekan dadanya adalah untuk menahan rasa sakit yang ia derita. Dia mengidap kelainan jantung sejak kecil. Keluarganya sebenarnya sudah menyadari itu, tapi Hamdan sendiri yang berpesan agar tidak menceritakannya kepada siapapun termasuk teman-temannya. Namun walau mengidap penyakit kronis tersebut, ia tak pernah bosan memberiku semangat untuk berubah. Aku mulai mengkuti pengajian yang diadakan oleh rohis (rohani islam sekolah). Walaupun sudah kelas XII, Aku tak pernah berputus asa. Rokok sudah kutinggalkan, pacaran juga sudah tidak lagi. Meskipun sudah meninggalkan dunia ini, aku tetap merasakan ruhnya tertinggal di ragaku. Selamat jalan Hamdan, semoga Allah menempatkanmu bersama para orang-orang sholeh.
Semoga Allah meng-istiqomah-kan jalanku ini.
Terinspirasi dari sebuah kisah nyata....
Sahabat sejati bukanlah ia yang selalu ada untukmu ketika suka maupun duka, tetapi ia yang tak pernah lupa untuk mendoakan kebaikan dan selalu menyampaikan kebaikan untukmu, walau dalam kondisi yang tak pernah kau bayangkan.
Persahabatan sejati ditandai dengan hati yang saling terikat dan terpaut dengan tulus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar