Sabtu, 17 Juni 2017

Di atas Sepatu Tua Usang ini

Di atas sepatu tua usang ini,
Berdiri seorang manusia tua,
Renta tubuh dimakan usia,
Dengan perjuangan tanpa surut membara.

Di atas sepatu tua usang ini,
Telah kau hamparkan jalan hidup,
Kau datangi segala pintu rezeki yang bisa diraup,
Dengan keyakinan tanpa pernah redup.

Di atas sepatu tua usang ini,
Sepasang kaki gontai mengayuh sepeda tua,
Perlahan nan pasti demi sebuah usaha,
Memperluas ilmu dan mengajarkannya.

Pernah kulihat di atas sepatu tua usang ini,
Kau berhenti dengan tangis rintih yang tidak tertahan lagi,
Seperti menyesali sesuatu yang tidak ku mengerti,
Berguncang badan, mengisak, hingga tak sanggup berdiri lagi.

Di atas sepatu tua usang ini,
Telah berdiri sosok manusia paruh baya dengan beban tak terkira,
Tidak terbagi dengan siapa jua karena kau sebatang kara,
Perih hidup hanya kau bagi pada Sang Pemilik Jiwa.

Di atas sepatu tua usang ini,
Tersimpul wajah senyum ceria lagi ramah,
Berat bebanmu kau simpan saja di rumah,
Agar tetap terjuluk engkau si guru berramah wajah.

Di atas sepatu tua usang ini,
Hanya iba yang aku rasakan ketika kau berdiri di depan,
Suaramu sudah tidak didengar dan diindahkan,
Siswa-siswa berakhlak bodoh selalu menyepelekan.

Di atas sepatu tua usang ini,
Apakah kau lupa bahwa kau tidak lagi muda,
Setiap kalimatmu hanya dianggap radio rusak saja,
Mengapa tidak beristirahat di rumah saja segera.

Sepatu tua usang ini,
Sepertinya kini sudah saatnya pensiun,
Kutemukan tergeletak tanpa si sosok santun,

Pengayuh sepeda tua yang mendekati masa pikun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar