Sabtu, 17 Juni 2017

MATUGET

Mata kuliah Sistem Politik Indonesia ada tugas rabu ini, Teori Hukum Konstitusi juga rabu, Pendidikan HAM hari kamisnya juga tugas, belum lagi Antropologi Budaya. Ya Allah Robbi, begini rupanya jadi anak kuliahan tugasnya menumpuk tanpa memahami kondisi hati dan perasaanku. Huh, aku harus bisa meyakinkan hati ini bahwa ini bagian dari risiko yang harus diambil ketika Aku memutuskan untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Lagipula tidak akan terselesaikan masalah hanya dengan banyak mengeluh.
Akupun langsung memutuskan untuk ke perpustakaan universitas mencari bahan yang relevan atas tugas-tugasku. Dengan langkah gontai penuh lelah ku himpun semangat untuk mengkonversi jenuh menjadi motivasi, mengubah rasa malas menjadi aksi, dan ku reduksi lelah bercampur penat, dengan perlahan ku provokasi gairah untuk meraih prestasi. Aku pun teringat dengan kata-kata Pak Wahyu dosen kami, “Cara belajar mahasiswa tentu berbeda dengan ketika kalian masih SMA, di sini kami hanya sedikit mengarahkan untuk kemudian kalian yang mengimprovisasi, baik dengan mencari referensi relevan maupun bertanya kepada orang yang memiliki kapasitas keilmuan di bidangnya. Jujur, ilmu yang saya dapat dulu ketika kuliah hanya dua puluh persen dari dosen, dan selebihnya dari keseriusan saya dalam belajar sendiri”. Mungkin inilah giliranku untuk meraih yang delapan puluh persen itu.
Langkah semakin kupercepat, menjadi penuh semangat, kugenggam jari-jariku rapat-rapat, dan di dalam hati berteriak hebat “Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar!!!”. Semakin yakin Aku bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, Allah sendiri yang menjanjikan bahkan ayat tersebut sampai diulang dalam surah Al-Insyirah. Ini menandakan penegasan bahwa Allah ingin meyakinkan kepada hamba-Nya tentang hal itu. Sekarang fokusku pada semangat untuk menyelesaikan segala tugas yang ada dan hari ini semua harus tuntas meskipun ini masih hari selasa. Tiba-tiba bergetar handphoneku di saku. Aku sengaja handphone harus dalam mode silent selama berada di kampus. Aku memahami bahwa aku cukup leler, teledor, dan pelupa jadi sebagai jaga-jaga handphone selalu dalam mode silent. Terlihat di layar handphone nama Budi Komting, ya si budi komisaris di kelas kami. Kawan yang satu ini memang sangat care dengan dan sigap jika ada informasi terkait perkuliahan. Langsung saja kuangkat.
“Assalamualaikum, Hen!”
“Wa’alaikumussalam kom. Hah, apa cerita?”
“Cuma ngingetin nih, kau kan leler orangnya!” Ledek Budi.
“Udah gak usah jujur kali kau pak kom! Kenapa rupanya?” Seketika itu pula feelingku berubah, sepertinya ada sesuatu yang salah.
“Jangan lupa jam satu ada kuliah SPI trus jam tiganya THK!” tegasnya.
“Woy jangan ngelantur kau kom, itu kan mata kuliah besok hari rabu!” Bantahku.
“Huh, benar perkiraanku.” Desah Budi.
“Apanya yang benar?”
“Ini hari Rabu loh Davi Suhendra Sembiring! Gak inget kau, semalam tanggal merah kita memang libur gak kuliah.”
“Mati Aku kom, jadi tugas pun hari ini lah ya?”
“Ya pastinya! Ya udah kerjain dulu sana, mumpung masih jam sepuluh lewat nih! Mudah-mudahan sempat! Udah ya, nanti pulsaku habis. Assalamu’alaikum!” Budi langsung menutup tanpa mau mendengarku menjawab salam. Aku semakin cepat, semakin cepat, dan berlari secepat mungkin ke perpustakaan. Semua harus siap hari ini.
Alhamdulillah sampai juga di perpustakaan, setelah mengisi form buku pengunjung dan menyerahkan kartu perpustakaan langsung aku menuju ke ruangan penuh rak buku yang berjejer berbaris. Dengan cepat dan sigap kucari buku-buku relevan dan kutulistandai semua materi yang penting dan bisa dijadikan bahan makalah.
***
Waktu menunjukkan pukul dua belas pas, di saat yang sama pula semua bahan selesai hanya tinggal memindahkan dan mengetikkan saja ke laptop. Soal kemampuan mengetikku tidak bisa diragukan. Aku pernah menjuarai kompetisi mengetik saat SMA, kecepatan jari-jariku di papan keyboard melebihi kecepatan para pekerja rental komputer sekitaran kampus. InsyaAllah selesai hanya lima belas menit tiap makalah baik untuk mata kuliah SPI (Sistem Politik Indonesia) maupun THK (Teori Hukum Konstitusi). Maka tepat pukul setengah satu tinggal print out semua kemudian sholat Dzhuhur di Musholla fakultas dan langsung masuk kuliah. Jeng..jeng..jeng.. beres deh.
Langsung ku buka laptop dan menekan tombol power di sudut kiri atas papan keyboard. Tidak lama kemudian bercahayalah layar laptop dan meminta pasword. Penting untuk melengkapi laptop dengan pasword mengingat maling laptop merajalela sekarang ini. Teman-temanku saja sudah enam orang yang mengaku sudah kehilangan laptopnya. Ya meskipun pasword tidak mampu mencegah hilangnya laptop, paling tidak sedikit membuat kesal si maling dan data-data yang sifatnya pribadi tidak disalahgunakan karena harus diinstall ulang pastinya. Kumasukkan pasword “sembiringmilala” dan enter. Loh, gagal. Kuulang dengan kata yang sama dan gagal lagi. Coba pake underscore, gagal. Pakai capslock, gagal. “MasyaAllah, cobaan apa lagi ini?” gumamku. Oh iya, aku mengganti pasword tadi malam karena mendengar nasihat dari Arif, “Pasword laptop baiknya sering diganti secara berkala bang, untuk biar lebih aman!” Seketika itu pula langsung ku ikuti sarannya dengan mengganti pasword laptopku. Malangnya, Aku tidak ingat paswordnya apa.
Semua kata-kata yang familiar bagiku kumasukkan, tetapi hasilnya masih nihil. Ku SMS Arif dijawabnya kalau dia tidak tahu. Kulihat jam dan sudah lima belas menit berlalu dengan aktivitas pencarianku. Namun, Aku tidak menyerah masih terus mencoba hingga ku restart juga berkali-kali siapa tahu bisa mengingatkanku atau setidaknya memberikan clue tetapi masih saja gagal.
Sudah tidak ada pilihan lain kecuali harus ke rental komputer dan mengerjakan di sana. Namun, sudah dapat dipastikan itu tidak akan sempat. Lagipula tidak diijinkan membawa buku lebih dari dua ke luar perpustakaan ini sementara ada delapan buku yang harus ku bawa. Aku pun mencari cara dan sungguh sangat tidak terduga, pertolongan Allah datang. Ku lihat Ersal kawan sekelas tampak lima puluh meter di hadapanku, tetapi dia tidak menyadarinya.
“Sal, bawa laptop?” Sergahku.
“Bawak napa?”
“Minjem ya, tolong? Tugasku belum siap ini, nah tiga puluh lima menit lagi dikumpul.”
“Eh, belum siap kau? Pasti lupa ya kan?”
“Udah, itu gak penting cepatlah tolong ambilkan!”
“Iya, iya tunggu!” Ersal langsung keluar ruangan menuju loker di lantai bawah yang dijaga oleh dua petugas security. Wajar saja, loker adalah sasaran empuk para maling. Beberapa menit kemudian Ersal datang dan menyodorkan laptopnya, maka jari-jariku pun langsung beraksi. Tak.. tak.. tak.. suara keyboard yang terjamah jari-jariku.
“Itu laptopmu ada Hen!” Sambil mengacungkan bibirnya ke arah laptop yang tertutup dengan pasword terlupa itu.
“Tolonglah sal, diam dulu muncungmu! Kusiapkan ini nanti kujelaskan semuanya.” Tegasku pada Ersal yang seharusnya tak layak kucapkan itu karena hari ini dia malaikat penolongku. Namun, untung saja dia paham dengan kondisiku. Kulanjutkan pengetikanku dan luar biasa, hanya sepuluh menit tugas pertama selesai. Badas!!! Mungkin inilah yang disebut dengan the power of kepepet teorinya Jaya Setiabudi. Lanjut dengan tugas kedua tak.. tak.. tak.. kemudian nyeletuk lagi Ersal.
“Udah Adzan Dzhuhur Hen, kau bawak ya nanti di kelas Aku duluan ke musholla. Oh iya, sebenarnya kalau kau mau ada tu tugasku di laptop. Kau edit aja dikit-dikit kan lebih cepat siap!”
“Kau kalau mau pigi ya pigi aja sana, jangan pengaruhi Aku dengan cara licik itu! Go..go..go.. hurry up go!” Teriakku layaknya tentara di film-film hollywood.
Adzan sudah berkumandang, terdengar jelas di telingaku karena memang corong speaker masjid kampus cukup banyak dan besar untuk menjangkau seluruh sudut fakultas. Hanya dua fakultas yang tidak mungkin terdengar di terik siang seperti ini yakni Fakultas Teknik dan Fakultas Bahasa dan Seni yang memang letaknya di ujung pintu gerbang satu. Aku hanya berdoa dalam hati dengan tetap sambil mengetik, ampuni Aku ya Allah yang harus melewatkan sholat Dzhuhur berjama’ah karena tugas ini. Kenapa ya Aku bisa seleler ini.
Lima belas menit berlalu dan tuntas sudah tugas kedua. Langsung berlari menuju lantai bawah perpustakaan untuk print out dan menjilid. Selesai Alhamdulillah. Waktu menunjukkan pukul satu tepat, aku menuju kelas untuk menitipkan tugas ke Budi dan kemudian izin ke musholla untuk menunaikan shalat Dzhuhur di musholla fakultas.
Penat dan beratnya aktivitas hari ini luntur seiring guyuran air keran yang menyentuh indera tubuh ini mulai dari telapak tangan, seluruh permukaan wajah, lengan, kulit rambut, telinga, sampai kaki. Kesejukan ini terasa benar-benar mampu menyegarkan raga dan hatiku. Subhanallah, inilah keajaiban wudhu. Kemudian langsung kulanjutkan dengan aktivitas ruhani, sarana komunikasi langsung antara makhluk hina dhaif penuh dosa kepada Sang Maha Sempurna. Shalat.
Selesai shalat aku langsung kembali menuju kelas. Sembari melangkahkan kaki teringat si pasword laptop, “KEMANA DICARI” pakai capslock. MasyaAllah, padahal dua kata itu terus terngiang di otakku ketika kebingungan dengan pasword tadi. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Mungkin ini cara Allah menegurku agar tidak terus-terusan teledor dan leler.
Sampailah aku di kelas untuk kuliah. Ruangan 36.15. Namun Anehhnya, kok sepi? Padahal beberapa menit yang lalu masih ramai di sini. Aku pun kembali melihat jadwal perkuliahan siapa tahu salah ruangan, dan tertulis di sana 36.15 artinya tidak salah. Aku berkeliling fakultas, mungkin ada perubahan kelas. Pindah kelas adalah hal yang lumrah terjadi di jurusan kami, bisa jadi karena tiba-tiba pindah ke ruangan multimedia atau karena ruangan dipakai dan alasan lain sebagainya. Namun, aku tidak menemukan teman-temanku di kelas manapun dan anehnya fakultas jadi sepi. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku bingung setengah mati. Handphoneku kembali bergetar, Budi Komting.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam, eh di mana kelas kita?” Ku tembak langsung.
“Kelas apa?” Tanya Budi heran.
“Loh bukannya kita ada kuliah siang ini? SPI sama THK!”
“Itu kan mata kuliah hari rabu Hen, ini hari selasa!”
“Yang bener donk, Kom!”
“Hehehe, iya becanda Hen. Tadi Bu Kajur ngasih tau kalau siang ini semua perkuliahan dikansel karena fakultas kita dipakai oleh mahasiswa pascasarjana.”
“Jadi?” tanyaku.
“Jadi, ya SPI dan THK dikansel juga.”
“Trus tugas gimana?”
“Tugas dikumpulnya rabu depan jadinya.” Kakiku mendadak lemah lunglai tak kuasa menahan berat tubuh yang cuma enam puluh kilogram ini. Pertanda apa ini sebenarnya.
“Hendra, hendra, masih di sana kan kau?”
“Ho’oh!” Jawabku tak bersemangat.
“Jangan lupa sore ini ya?”
“Lupa apa?” Jawabku datar.
“Hutang, katanya kan mau kau bayar sore ini. Kutunggu di masjid kampus.”
“Apa iya ada janjiku?”
“Dasar Matuget!”
“Apa lagi itu, Kom?
“Mahasiswa Tukang Forget!” Nyesek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar