Sabtu, 17 Juni 2017

SANTUN

Siang itu di hari ahad, cukup terik cahaya matahari menyinari hingga peluhku pun tak kuasa bertahan di dalam tubuh. Meskipun demikian tetap kulanjutkan aktivitasku mengayunkan cangkul ke tanah di pojok halaman depan rumah. Lubang sampah yang lama sudah cukup penuh, maka terpaksa hari ini juga harus kubuat lubang yang baru sebagaimana permintaan Lelekku. Lelek itu adalah panggilan di keluarga kami untuk mengganti kata paman, walaupun sebenarnya menurutku itu singkatan dari kata Paklek. Untuk memudahkan penyebutan ya kami terbiasa saja dengan kata lek atau lelek.
(Setelah lulus Ibtida’iyah aku memutuskan untuk hijrah dari kampung halaman demi melanjutkan studi di bangku tsanawiyah. Hal ini mengharuskan aku untuk tinggal bersama Lek Man di sebuah tempat yang jauh lebih maju dari kampungku berasal. Meskipun tidak di perkotaan, tapi setidaknya di sini jalanannya sudah aspal dan tidak perlu pakai parabola untuk mendaftarkan siaran televisi swasta.)
Seketika aktivitas mencangkulku berhenti tatkala mendengar tegur sapa dari seorang gadis.
“Eh, Rian?”
“Loh Henni, ngapain?” Sapaku balik.
“Ini lagi silaturahim tempat guruku di sini. Rajin betul ya?” Kalimat terakhirnya membuatku grogi dan langsung kulanjutkan mencangkul.
“Ah, biasa aja!” Dia masih mengajakku bercerita sedangkan aku masih terus sambil melakukan aktivitas korek bumi dengan sebatang cangkul yang beberapa kali harus berhenti sejenak untuk memperbaiki mata cangkul yang sering locot (terlepas-lepas karena tidak kencang). Kemudian beberapa menir kemudian ia pun pamit pulang.
“ Ri!” Terdengar Lek Man memanggil dari dalam rumah.
“Nun, opo lek? (Apa lek)” Aku setengah teriak menyahut.
“Rene dilut! (kemari sebentar)” Aku pun berjalan menuju ruangan tempat Lek Man memanggil.
“Iku mau sopo? (itu tadi siapa)”
“Oh, kawan neng DKR Pramuka Air Batu (teman di DKR Pramuka Air Batu).”
“Kok rah sopan sih kue! (kok kamu gak sopan ya?)” Aku mengerutkan dahi pertanda tidak paham dengan perkataan beliau. Kemudian beliau melanjutkan.
“Nek kita sek kerjo terus eneng tamu opo kawan yo disambutlah. Kon masuk. Kerjananmu mandekke sek. Wong jowo kok rah nduwe toto kromo! (Kalau kita masih mengerjakan sesuatu kemudian ada tamu atau teman yang datang baiknya disambut. Persilahkan masuk. Hentikan pekerjaanmu sejenak. Orang jawa kok gak tau sopan santun)”. Jleb, tubuhku serasa mendesir seolah menjadi dingin dari ujung kaki hingga kepala. Jujur saja tidak pernah kepikiran akan hal itu. Menurutku hal yang biasa tetapi kenyataannya salah kaprah di mata beliau.
Begitulah Lek Man. Beliau sangat menjaga tata krama sopan santun yang diajarkan oleh mbah dan mbok dulu (mbah sebutan untuk kakek dan mbok sebutan kami kepada nenek). Bahkan suatu kali aku pernah bertemu mertua beliau sambil menanyakan sesuatu. Kira-kira begini percakapannya.
“Lelek eneng? (Lelek ada)” Sambil tersenyum.
“Eneng, neng jero (ada di dalam).”
Aku pun masuk dans sesampainya di dalam aku dinasihati lagi.
“Nek takon karo wong tuo iku ojo nguno, rah sopan. Lembutno nadamu, alonke suaramu! ‘Lelek eneng mbah?’ Ojo buru-buru nguno (Kalau tanya kepada orang tua jangan begitu, gak sopan. Lembutkan nadamu, pelankan suaramu. ‘Lelek ada, mbah?’ Jangan terburu-buru)!” Subhanallah, batinku. Tentu dalam hal ini aku tidak sama sekali menyalahkan Lek Man, bahkan aku sangat berterima kasih karena diajarkan bagaimana layaknya sopan santun itu.
Di era digital ini kita sangat sulit memperoleh ilmu sopan santun itu. Padahal islam mengajarkan akan pentingnya adab ataupun sopan santun. Bahkan Imam Malik berpesan, “Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!” Tentu hal ini sepatutnya menjadi cambukan keras bagi kita yang sering menyepelekan guru apalagi ulama.
Aku jadi teringat, dulu kami di tahun 90-an -saat di bangku sekolah tentunya- akan mencoba bersembunyi atau menghindar sebisa mungkin ketika berpapasan dengan guru di luar hari-hari sekolah. Hal ini bukan menunjukkan kami takut, tentu tidak. Melainkan sebagai ungkapan betapa segan dan hormat dengan guru yang menjadi panutan kami. Kami takut jika kami ketemu, salah dalam bersikap dan bertatakrama. Aku tdak mau dan enggan membandingkan dengan sekarang karena aku yakin kita semua punya pengalaman masing-masing.
Sebagai generasi 90-an aku rindu dengan suasana kesantunan yang dulu.


Di ruangan tiga kali tiga, tersudut karena kenangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar