Siang
itu di hari ahad, cukup terik cahaya matahari menyinari hingga peluhku pun tak
kuasa bertahan di dalam tubuh. Meskipun demikian tetap kulanjutkan aktivitasku
mengayunkan cangkul ke tanah di pojok halaman depan rumah. Lubang sampah yang
lama sudah cukup penuh, maka terpaksa hari ini juga harus kubuat lubang yang
baru sebagaimana permintaan Lelekku. Lelek itu adalah panggilan di keluarga
kami untuk mengganti kata paman, walaupun sebenarnya menurutku itu singkatan
dari kata Paklek. Untuk memudahkan penyebutan ya kami terbiasa saja dengan kata
lek atau lelek.
(Setelah
lulus Ibtida’iyah aku memutuskan untuk hijrah dari kampung halaman demi
melanjutkan studi di bangku tsanawiyah. Hal ini mengharuskan aku untuk tinggal
bersama Lek Man di sebuah tempat yang jauh lebih maju dari kampungku berasal.
Meskipun tidak di perkotaan, tapi setidaknya di sini jalanannya sudah aspal dan
tidak perlu pakai parabola untuk mendaftarkan siaran televisi swasta.)
Seketika
aktivitas mencangkulku berhenti tatkala mendengar tegur sapa dari seorang
gadis.
“Eh,
Rian?”
“Loh
Henni, ngapain?” Sapaku balik.
“Ini
lagi silaturahim tempat guruku di sini. Rajin betul ya?” Kalimat terakhirnya
membuatku grogi dan langsung kulanjutkan mencangkul.
“Ah,
biasa aja!” Dia masih mengajakku bercerita sedangkan aku masih terus sambil
melakukan aktivitas korek bumi dengan sebatang cangkul yang beberapa kali harus
berhenti sejenak untuk memperbaiki mata cangkul yang sering locot
(terlepas-lepas karena tidak kencang). Kemudian beberapa menir kemudian ia pun
pamit pulang.
“
Ri!” Terdengar Lek Man memanggil dari dalam rumah.
“Nun,
opo lek? (Apa lek)” Aku setengah teriak menyahut.
“Rene
dilut! (kemari sebentar)” Aku pun berjalan menuju ruangan tempat Lek Man
memanggil.
“Iku
mau sopo? (itu tadi siapa)”
“Oh,
kawan neng DKR Pramuka Air Batu (teman di DKR Pramuka Air Batu).”
“Kok
rah sopan sih kue! (kok kamu gak sopan ya?)” Aku mengerutkan dahi pertanda
tidak paham dengan perkataan beliau. Kemudian beliau melanjutkan.
“Nek
kita sek kerjo terus eneng tamu opo kawan yo disambutlah. Kon masuk. Kerjananmu
mandekke sek. Wong jowo kok rah nduwe toto kromo! (Kalau kita masih mengerjakan
sesuatu kemudian ada tamu atau teman yang datang baiknya disambut. Persilahkan
masuk. Hentikan pekerjaanmu sejenak. Orang jawa kok gak tau sopan santun)”.
Jleb, tubuhku serasa mendesir seolah menjadi dingin dari ujung kaki hingga
kepala. Jujur saja tidak pernah kepikiran akan hal itu. Menurutku hal yang
biasa tetapi kenyataannya salah kaprah di mata beliau.
Begitulah
Lek Man. Beliau sangat menjaga tata krama sopan santun yang diajarkan oleh mbah
dan mbok dulu (mbah sebutan untuk kakek dan mbok sebutan kami kepada nenek).
Bahkan suatu kali aku pernah bertemu mertua beliau sambil menanyakan sesuatu.
Kira-kira begini percakapannya.
“Lelek
eneng? (Lelek ada)” Sambil tersenyum.
“Eneng,
neng jero (ada di dalam).”
Aku
pun masuk dans sesampainya di dalam aku dinasihati lagi.
“Nek
takon karo wong tuo iku ojo nguno, rah sopan. Lembutno nadamu, alonke suaramu!
‘Lelek eneng mbah?’ Ojo buru-buru nguno (Kalau tanya kepada orang tua jangan
begitu, gak sopan. Lembutkan nadamu, pelankan suaramu. ‘Lelek ada, mbah?’
Jangan terburu-buru)!” Subhanallah, batinku. Tentu dalam hal ini aku tidak sama
sekali menyalahkan Lek Man, bahkan aku sangat berterima kasih karena diajarkan
bagaimana layaknya sopan santun itu.
Di
era digital ini kita sangat sulit memperoleh ilmu sopan santun itu. Padahal
islam mengajarkan akan pentingnya adab ataupun sopan santun. Bahkan Imam Malik
berpesan, “Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!” Tentu hal ini
sepatutnya menjadi cambukan keras bagi kita yang sering menyepelekan guru
apalagi ulama.
Aku
jadi teringat, dulu kami di tahun 90-an -saat di bangku sekolah tentunya- akan
mencoba bersembunyi atau menghindar sebisa mungkin ketika berpapasan dengan guru
di luar hari-hari sekolah. Hal ini bukan menunjukkan kami takut, tentu tidak.
Melainkan sebagai ungkapan betapa segan dan hormat dengan guru yang menjadi
panutan kami. Kami takut jika kami ketemu, salah dalam bersikap dan
bertatakrama. Aku tdak mau dan enggan membandingkan dengan sekarang karena aku
yakin kita semua punya pengalaman masing-masing.
Sebagai
generasi 90-an aku rindu dengan suasana kesantunan yang dulu.
Di
ruangan tiga kali tiga, tersudut karena kenangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar