Sabtu, 17 Juni 2017

Mbah Ya

Ayam berkokok bersahutan menandakan malam telah berlalu dan pagi telah datang. Hawa dingin menyeruak ke seluruh penjuru kampung masuk ke tiap-tiap celah rumah warga. Suara bedug membahana mengajak setiap manusia untuk membuka selumut dan kelopak mata agar segera bangkit menuju dapur mempersiapkan hidangan sahur di ramadhan ke-tiga ini. Mamak pun menyalakan televisi siaran guyonan sahur yang sama sekali tidak bermanfaat menurutku. Namun, suara televisi ini mampu memecah kesunyian di pagi hari menemani seluruh aktivitas mamak di dapur.
“Kresek.. kresek.. kresek.. fuh.. fuh..” Terdengar suara mikrofon yang sedang dites oleh pria paruh baya dari speaker pengeras di atas kubah masjid. Berulang-ulang sampai beliau yakin bahwa batang pelantangnya benar-benar terdengar ke semua rumah di desa.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga ya bapak ibuk? Sudah saatnya bangun ya? Kita siapkan sahur agar bisa kuat berpuasa, ya? Sahuuur... sahuuur...” Terdengar sangat keras sekali di telingaku dan aku pun terbangun untuk membantu mamak di dapur.
Kami memanggilnya Mbah Muji. Orang tua berumur 70an tahun yang hidup sebatang kara, semua anaknya merantau dan istrinya sudah tiga tahun yang lalu meninggal. Dengan sepeda antiknya, pagi-pagi buta menuju masjid untuk membangunkan sahur seluruh warga melalui pengeras suara di masjid. Biasanya beliau pukul dua dini hari sudah bergerak menuju masjid sampai ba’da shubuh baru pulang. Sampai hari ini tidak pernah kuselidiki kapan beliau makan sahur. Tidak hanya shubuh, seluruh waktu sholat selalu ia hadiri di awal waktu termasuk menjelang berbuka terkecuali saat sakit atau berhalangan.
Mungkin kesannya biasa saja, tetapi kami sebagai warga terkadang risih sendiri. Risihnya bukan disebabkan aktifnya beliau di masjid, melainkan kesukaannya beliau berbicara dengan mikrofon. Setiap ada hal apapun baik yang penting maupun yang tidak penting sama sekali selalu diungkapkan melalui batang pelantang tersebut.
Ketika akan masuk waktu shalat jum’at, hampir tiap menitnya akan segera diumumkan.
“Bapak-bapak waktu shalat jum’at sepuluh menit lagi ya! Segera bersiap dan menuju ke masjjid, ya!” Lima menit kemudian, enam menit kemudian, tujuh menit kemudian sampailah hingga sepuluh menit kemudian. “Tukang azan, mana tukang azan? Lekas ya!” Padahal saat itu aku tepat ada di belakangnya. Ya, aku, kang pran, dan lek jum digelari tukang azan oleh beliau.
Konyolnya, hingga pernah suatu ketika masuk sholat dzhuhur, dilihatnya belum nampak para tukang azan. Maka dengan sigap, diambilnya lah mikrofon.
“Ayo tukang azan, mana ini? Anaknya Senen, anaknya Kartino, mana ini, ya?” Wah nama bapak kami disebut-sebut. Sampai-sampai disahuti oleh Kang Supri, “Oalah, mbah... mbah... sekalian mbae! (mbae = kakeknya)” Kejadian seperti ini terus-menerus terjadi, sandal tertinggal atau hilang, wc masjid yang jorok, sisa-sisa tadarusan yang tidak dibersihkan, sapu dan sajadah yang tidak diletakkan pada tempatnya, bahkan ayam yang masuk ke masjid pun tak luput dari mikrofon.
“Ini ayam siapa ya yang sering masuk ke teras masjid, ya! Kok gak dijaga ya! Kotorannya itu najis loh, ya!” Begitulah seterusnya.
Pernah suatu ketika aku dimarahi oleh beliau yang kemudian membuatku tambah risih dengan Mbah Muji. Seperti biasa, yang selalu membersihkan sisa-sisa tadarusan adalah aku, kang Pran, Ril, dan Darvi. Kebetulan malam itu mati lampu dan hujan deras. Jadi kami agak kewalahan untuk ambil maupun antar makanan dan minuman untuk para pentadarus (kami sebut dengan jaburan). Ketika selesai tadarus, setelah kami rapikan hujan belum juga kunjung berhenti.
“Piye iki kang (Bagaimana ini bang)?” Tanyaku
“Yo wes, sesok wae pas shubuh kita terno gone wak Sabar (ya sudah, kita antar besok aja pas shubuh ke rumah wak Sabar)!” Jawab kang Pran. Kami pun langsung pulang ke rumah masing-masing.
Paginya menjelang shubuh, sebagai tukang azan setelah sahur aku hadir lebih awal untuk sekadar menyapu dan jika sempat tilawah sebentar sebelum shubuh. Kebetulan hujan sudah reda dan lampu sudah kembali nyala. Dalam perjalanan menuju masjid Mbah Muji kembali bermain dengan mikrofon.
“Tadi malam siapa yang narok lampu petromah di bawah ya? Ketabrak jadinya kan? Besok-besok jangan ditarok di tengah ya! Ini pun piring-piring, cangkir-cangkir masih di sini berserakan. Ya!” Celoteh Mbah Muji mengagetkanku dalam perjalanan, aku baru ingat ketika pulang tadi malam kami lupa mematikan lampu petromah. Langsung ku percepat langkah. Benar saja, begitu sampai di masjid langsung disemprot.
“Nek ndeleh lampu iku ojo neng tengah. Ketabrak jadine kan? Aku wes tuek, motoku wes kabur. Kepiye nya kalian iki? Ora dipikirke ndisek! (kalau meletakkan lampu itu jangan di tengah. Tertabrak jadinya kan? Aku sudah tua, mataku sudah rabun. Bagaimana kalian ini? Tidak dipikirkan terlebih dahulu!)” Aku langsung gerah, beliau mengulang-ulang terus kalimat demi kalimat itu. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.
“Uweslah mbah, nggak entek-entek nek merepet terus! Kan tinggal geser wae! (Sudahlah mbah, tidak ada habisnya kalau diomongkan terus! Tinggal geser saja kan!)” Spontan mendengar jawabanku Mbah Muji tambah marah dan byarrrr..... panjang cerita dan ocehannya. Aku hanya berpikir, beginilah mungkin kalau sudah tua. Mudah tersinggung. Tidak biasanya kami lupa dengan kondisi masjid sebelum kami tinggal. Piring dan gelas pun berceceran padahal tadi malam sudah kami rapikan. Mungkin dibongkar kucing karena piringnya masih bau bekas makanan alias belum dicuci.
Begitulah sehari-harinya bulan ramadhan di desa kami. Selalu saja diperdengarkan suara Mbah Muji dari masjid. Setiap kata yang diucapkannya tak pernah lepas dari “ya”. Baik di awal maupun di akhir kalimat yang diucapkannya. Sehingga banyak dari kami yang menjulukinya “Mbah Ya”.
Sekarang Mbah Muji sudah tidak di kampung lagi. Terdengar kabar beliau sudah di Kalimantan dibawa oleh salah seorang anaknya karena kondisinya sudah semakin tua dan sakit-sakitan. Suasana Ramadhan saat ini sudah tidak berisik seperti dulu. Suasana ramadhan sudah lengang, tidak berisik, tidak ada kata “ya” lagi. Mungkin kami bisa saja kami senang dengan kondisi ini, tetapi malah sebaliknya. Kami merindukan sosok itu. Karena Mbah Muji telah berhasil memeriahkan puasa kami. Tanpa bayaran dan pujian beliau rela bersusah payah memikirkan bagaimana agar kondisi masjid tidak sepi selama ramadhan. Ramadhan kami jadi seperti biasa saja, bahkan terkadang sesekali masjid tampak kosong tanpa aktivitas sholat berjama’ah karena kesibukan dunianya yang tidak mau dikalahkan dengan ibadah jama’inya.

Semoga engkau sehat selalu Mbah Muji dan keikhlasanmu membuahkan kebaikan untuk dunia dan akhiratmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar