Ayam
berkokok bersahutan menandakan malam telah berlalu dan pagi telah datang. Hawa
dingin menyeruak ke seluruh penjuru kampung masuk ke tiap-tiap celah rumah
warga. Suara bedug membahana mengajak setiap manusia untuk membuka selumut dan kelopak
mata agar segera bangkit menuju dapur mempersiapkan hidangan sahur di ramadhan
ke-tiga ini. Mamak pun menyalakan televisi siaran guyonan sahur yang sama
sekali tidak bermanfaat menurutku. Namun, suara televisi ini mampu memecah
kesunyian di pagi hari menemani seluruh aktivitas mamak di dapur.
“Kresek..
kresek.. kresek.. fuh.. fuh..” Terdengar suara mikrofon yang sedang dites oleh
pria paruh baya dari speaker pengeras di atas kubah masjid. Berulang-ulang
sampai beliau yakin bahwa batang pelantangnya benar-benar terdengar ke semua
rumah di desa.
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga ya bapak ibuk?
Sudah saatnya bangun ya? Kita siapkan sahur agar bisa kuat berpuasa, ya?
Sahuuur... sahuuur...” Terdengar sangat keras sekali di telingaku dan aku pun
terbangun untuk membantu mamak di dapur.
Kami
memanggilnya Mbah Muji. Orang tua berumur 70an tahun yang hidup sebatang kara,
semua anaknya merantau dan istrinya sudah tiga tahun yang lalu meninggal.
Dengan sepeda antiknya, pagi-pagi buta menuju masjid untuk membangunkan sahur
seluruh warga melalui pengeras suara di masjid. Biasanya beliau pukul dua dini
hari sudah bergerak menuju masjid sampai ba’da shubuh baru pulang. Sampai hari
ini tidak pernah kuselidiki kapan beliau makan sahur. Tidak hanya shubuh,
seluruh waktu sholat selalu ia hadiri di awal waktu termasuk menjelang berbuka
terkecuali saat sakit atau berhalangan.
Mungkin
kesannya biasa saja, tetapi kami sebagai warga terkadang risih sendiri.
Risihnya bukan disebabkan aktifnya beliau di masjid, melainkan kesukaannya
beliau berbicara dengan mikrofon. Setiap ada hal apapun baik yang penting
maupun yang tidak penting sama sekali selalu diungkapkan melalui batang
pelantang tersebut.
Ketika
akan masuk waktu shalat jum’at, hampir tiap menitnya akan segera diumumkan.
“Bapak-bapak
waktu shalat jum’at sepuluh menit lagi ya! Segera bersiap dan menuju ke
masjjid, ya!” Lima menit kemudian, enam menit kemudian, tujuh menit kemudian
sampailah hingga sepuluh menit kemudian. “Tukang azan, mana tukang azan? Lekas
ya!” Padahal saat itu aku tepat ada di belakangnya. Ya, aku, kang pran, dan lek
jum digelari tukang azan oleh beliau.
Konyolnya,
hingga pernah suatu ketika masuk sholat dzhuhur, dilihatnya belum nampak para
tukang azan. Maka dengan sigap, diambilnya lah mikrofon.
“Ayo
tukang azan, mana ini? Anaknya Senen, anaknya Kartino, mana ini, ya?” Wah nama
bapak kami disebut-sebut. Sampai-sampai disahuti oleh Kang Supri, “Oalah,
mbah... mbah... sekalian mbae! (mbae = kakeknya)” Kejadian seperti ini
terus-menerus terjadi, sandal tertinggal atau hilang, wc masjid yang jorok,
sisa-sisa tadarusan yang tidak dibersihkan, sapu dan sajadah yang tidak
diletakkan pada tempatnya, bahkan ayam yang masuk ke masjid pun tak luput dari
mikrofon.
“Ini
ayam siapa ya yang sering masuk ke teras masjid, ya! Kok gak dijaga ya!
Kotorannya itu najis loh, ya!” Begitulah seterusnya.
Pernah
suatu ketika aku dimarahi oleh beliau yang kemudian membuatku tambah risih
dengan Mbah Muji. Seperti biasa, yang selalu membersihkan sisa-sisa tadarusan
adalah aku, kang Pran, Ril, dan Darvi. Kebetulan malam itu mati lampu dan hujan
deras. Jadi kami agak kewalahan untuk ambil maupun antar makanan dan minuman
untuk para pentadarus (kami sebut dengan jaburan). Ketika selesai tadarus,
setelah kami rapikan hujan belum juga kunjung berhenti.
“Piye
iki kang (Bagaimana ini bang)?” Tanyaku
“Yo
wes, sesok wae pas shubuh kita terno gone wak Sabar (ya sudah, kita antar besok
aja pas shubuh ke rumah wak Sabar)!” Jawab kang Pran. Kami pun langsung pulang
ke rumah masing-masing.
Paginya
menjelang shubuh, sebagai tukang azan setelah sahur aku hadir lebih awal untuk
sekadar menyapu dan jika sempat tilawah sebentar sebelum shubuh. Kebetulan
hujan sudah reda dan lampu sudah kembali nyala. Dalam perjalanan menuju masjid
Mbah Muji kembali bermain dengan mikrofon.
“Tadi
malam siapa yang narok lampu petromah di bawah ya? Ketabrak jadinya kan?
Besok-besok jangan ditarok di tengah ya! Ini pun piring-piring, cangkir-cangkir
masih di sini berserakan. Ya!” Celoteh Mbah Muji mengagetkanku dalam
perjalanan, aku baru ingat ketika pulang tadi malam kami lupa mematikan lampu
petromah. Langsung ku percepat langkah. Benar saja, begitu sampai di masjid
langsung disemprot.
“Nek
ndeleh lampu iku ojo neng tengah. Ketabrak jadine kan? Aku wes tuek, motoku wes
kabur. Kepiye nya kalian iki? Ora dipikirke ndisek! (kalau meletakkan lampu itu
jangan di tengah. Tertabrak jadinya kan? Aku sudah tua, mataku sudah rabun.
Bagaimana kalian ini? Tidak dipikirkan terlebih dahulu!)” Aku langsung gerah,
beliau mengulang-ulang terus kalimat demi kalimat itu. Tidak hanya sekali,
tetapi berkali-kali.
“Uweslah
mbah, nggak entek-entek nek merepet terus! Kan tinggal geser wae! (Sudahlah
mbah, tidak ada habisnya kalau diomongkan terus! Tinggal geser saja kan!)”
Spontan mendengar jawabanku Mbah Muji tambah marah dan byarrrr..... panjang
cerita dan ocehannya. Aku hanya berpikir, beginilah mungkin kalau sudah tua.
Mudah tersinggung. Tidak biasanya kami lupa dengan kondisi masjid sebelum kami
tinggal. Piring dan gelas pun berceceran padahal tadi malam sudah kami rapikan.
Mungkin dibongkar kucing karena piringnya masih bau bekas makanan alias belum
dicuci.
Begitulah
sehari-harinya bulan ramadhan di desa kami. Selalu saja diperdengarkan suara
Mbah Muji dari masjid. Setiap kata yang diucapkannya tak pernah lepas dari
“ya”. Baik di awal maupun di akhir kalimat yang diucapkannya. Sehingga banyak
dari kami yang menjulukinya “Mbah Ya”.
Sekarang
Mbah Muji sudah tidak di kampung lagi. Terdengar kabar beliau sudah di
Kalimantan dibawa oleh salah seorang anaknya karena kondisinya sudah semakin
tua dan sakit-sakitan. Suasana Ramadhan saat ini sudah tidak berisik seperti
dulu. Suasana ramadhan sudah lengang, tidak berisik, tidak ada kata “ya” lagi.
Mungkin kami bisa saja kami senang dengan kondisi ini, tetapi malah sebaliknya.
Kami merindukan sosok itu. Karena Mbah Muji telah berhasil memeriahkan puasa
kami. Tanpa bayaran dan pujian beliau rela bersusah payah memikirkan bagaimana
agar kondisi masjid tidak sepi selama ramadhan. Ramadhan kami jadi seperti
biasa saja, bahkan terkadang sesekali masjid tampak kosong tanpa aktivitas
sholat berjama’ah karena kesibukan dunianya yang tidak mau dikalahkan dengan
ibadah jama’inya.
Semoga
engkau sehat selalu Mbah Muji dan keikhlasanmu membuahkan kebaikan untuk dunia
dan akhiratmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar