Sabtu, 17 Juni 2017

SANTUN

Siang itu di hari ahad, cukup terik cahaya matahari menyinari hingga peluhku pun tak kuasa bertahan di dalam tubuh. Meskipun demikian tetap kulanjutkan aktivitasku mengayunkan cangkul ke tanah di pojok halaman depan rumah. Lubang sampah yang lama sudah cukup penuh, maka terpaksa hari ini juga harus kubuat lubang yang baru sebagaimana permintaan Lelekku. Lelek itu adalah panggilan di keluarga kami untuk mengganti kata paman, walaupun sebenarnya menurutku itu singkatan dari kata Paklek. Untuk memudahkan penyebutan ya kami terbiasa saja dengan kata lek atau lelek.
(Setelah lulus Ibtida’iyah aku memutuskan untuk hijrah dari kampung halaman demi melanjutkan studi di bangku tsanawiyah. Hal ini mengharuskan aku untuk tinggal bersama Lek Man di sebuah tempat yang jauh lebih maju dari kampungku berasal. Meskipun tidak di perkotaan, tapi setidaknya di sini jalanannya sudah aspal dan tidak perlu pakai parabola untuk mendaftarkan siaran televisi swasta.)
Seketika aktivitas mencangkulku berhenti tatkala mendengar tegur sapa dari seorang gadis.
“Eh, Rian?”
“Loh Henni, ngapain?” Sapaku balik.
“Ini lagi silaturahim tempat guruku di sini. Rajin betul ya?” Kalimat terakhirnya membuatku grogi dan langsung kulanjutkan mencangkul.
“Ah, biasa aja!” Dia masih mengajakku bercerita sedangkan aku masih terus sambil melakukan aktivitas korek bumi dengan sebatang cangkul yang beberapa kali harus berhenti sejenak untuk memperbaiki mata cangkul yang sering locot (terlepas-lepas karena tidak kencang). Kemudian beberapa menir kemudian ia pun pamit pulang.
“ Ri!” Terdengar Lek Man memanggil dari dalam rumah.
“Nun, opo lek? (Apa lek)” Aku setengah teriak menyahut.
“Rene dilut! (kemari sebentar)” Aku pun berjalan menuju ruangan tempat Lek Man memanggil.
“Iku mau sopo? (itu tadi siapa)”
“Oh, kawan neng DKR Pramuka Air Batu (teman di DKR Pramuka Air Batu).”
“Kok rah sopan sih kue! (kok kamu gak sopan ya?)” Aku mengerutkan dahi pertanda tidak paham dengan perkataan beliau. Kemudian beliau melanjutkan.
“Nek kita sek kerjo terus eneng tamu opo kawan yo disambutlah. Kon masuk. Kerjananmu mandekke sek. Wong jowo kok rah nduwe toto kromo! (Kalau kita masih mengerjakan sesuatu kemudian ada tamu atau teman yang datang baiknya disambut. Persilahkan masuk. Hentikan pekerjaanmu sejenak. Orang jawa kok gak tau sopan santun)”. Jleb, tubuhku serasa mendesir seolah menjadi dingin dari ujung kaki hingga kepala. Jujur saja tidak pernah kepikiran akan hal itu. Menurutku hal yang biasa tetapi kenyataannya salah kaprah di mata beliau.
Begitulah Lek Man. Beliau sangat menjaga tata krama sopan santun yang diajarkan oleh mbah dan mbok dulu (mbah sebutan untuk kakek dan mbok sebutan kami kepada nenek). Bahkan suatu kali aku pernah bertemu mertua beliau sambil menanyakan sesuatu. Kira-kira begini percakapannya.
“Lelek eneng? (Lelek ada)” Sambil tersenyum.
“Eneng, neng jero (ada di dalam).”
Aku pun masuk dans sesampainya di dalam aku dinasihati lagi.
“Nek takon karo wong tuo iku ojo nguno, rah sopan. Lembutno nadamu, alonke suaramu! ‘Lelek eneng mbah?’ Ojo buru-buru nguno (Kalau tanya kepada orang tua jangan begitu, gak sopan. Lembutkan nadamu, pelankan suaramu. ‘Lelek ada, mbah?’ Jangan terburu-buru)!” Subhanallah, batinku. Tentu dalam hal ini aku tidak sama sekali menyalahkan Lek Man, bahkan aku sangat berterima kasih karena diajarkan bagaimana layaknya sopan santun itu.
Di era digital ini kita sangat sulit memperoleh ilmu sopan santun itu. Padahal islam mengajarkan akan pentingnya adab ataupun sopan santun. Bahkan Imam Malik berpesan, “Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!” Tentu hal ini sepatutnya menjadi cambukan keras bagi kita yang sering menyepelekan guru apalagi ulama.
Aku jadi teringat, dulu kami di tahun 90-an -saat di bangku sekolah tentunya- akan mencoba bersembunyi atau menghindar sebisa mungkin ketika berpapasan dengan guru di luar hari-hari sekolah. Hal ini bukan menunjukkan kami takut, tentu tidak. Melainkan sebagai ungkapan betapa segan dan hormat dengan guru yang menjadi panutan kami. Kami takut jika kami ketemu, salah dalam bersikap dan bertatakrama. Aku tdak mau dan enggan membandingkan dengan sekarang karena aku yakin kita semua punya pengalaman masing-masing.
Sebagai generasi 90-an aku rindu dengan suasana kesantunan yang dulu.


Di ruangan tiga kali tiga, tersudut karena kenangan

Mbah Ya

Ayam berkokok bersahutan menandakan malam telah berlalu dan pagi telah datang. Hawa dingin menyeruak ke seluruh penjuru kampung masuk ke tiap-tiap celah rumah warga. Suara bedug membahana mengajak setiap manusia untuk membuka selumut dan kelopak mata agar segera bangkit menuju dapur mempersiapkan hidangan sahur di ramadhan ke-tiga ini. Mamak pun menyalakan televisi siaran guyonan sahur yang sama sekali tidak bermanfaat menurutku. Namun, suara televisi ini mampu memecah kesunyian di pagi hari menemani seluruh aktivitas mamak di dapur.
“Kresek.. kresek.. kresek.. fuh.. fuh..” Terdengar suara mikrofon yang sedang dites oleh pria paruh baya dari speaker pengeras di atas kubah masjid. Berulang-ulang sampai beliau yakin bahwa batang pelantangnya benar-benar terdengar ke semua rumah di desa.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga ya bapak ibuk? Sudah saatnya bangun ya? Kita siapkan sahur agar bisa kuat berpuasa, ya? Sahuuur... sahuuur...” Terdengar sangat keras sekali di telingaku dan aku pun terbangun untuk membantu mamak di dapur.
Kami memanggilnya Mbah Muji. Orang tua berumur 70an tahun yang hidup sebatang kara, semua anaknya merantau dan istrinya sudah tiga tahun yang lalu meninggal. Dengan sepeda antiknya, pagi-pagi buta menuju masjid untuk membangunkan sahur seluruh warga melalui pengeras suara di masjid. Biasanya beliau pukul dua dini hari sudah bergerak menuju masjid sampai ba’da shubuh baru pulang. Sampai hari ini tidak pernah kuselidiki kapan beliau makan sahur. Tidak hanya shubuh, seluruh waktu sholat selalu ia hadiri di awal waktu termasuk menjelang berbuka terkecuali saat sakit atau berhalangan.
Mungkin kesannya biasa saja, tetapi kami sebagai warga terkadang risih sendiri. Risihnya bukan disebabkan aktifnya beliau di masjid, melainkan kesukaannya beliau berbicara dengan mikrofon. Setiap ada hal apapun baik yang penting maupun yang tidak penting sama sekali selalu diungkapkan melalui batang pelantang tersebut.
Ketika akan masuk waktu shalat jum’at, hampir tiap menitnya akan segera diumumkan.
“Bapak-bapak waktu shalat jum’at sepuluh menit lagi ya! Segera bersiap dan menuju ke masjjid, ya!” Lima menit kemudian, enam menit kemudian, tujuh menit kemudian sampailah hingga sepuluh menit kemudian. “Tukang azan, mana tukang azan? Lekas ya!” Padahal saat itu aku tepat ada di belakangnya. Ya, aku, kang pran, dan lek jum digelari tukang azan oleh beliau.
Konyolnya, hingga pernah suatu ketika masuk sholat dzhuhur, dilihatnya belum nampak para tukang azan. Maka dengan sigap, diambilnya lah mikrofon.
“Ayo tukang azan, mana ini? Anaknya Senen, anaknya Kartino, mana ini, ya?” Wah nama bapak kami disebut-sebut. Sampai-sampai disahuti oleh Kang Supri, “Oalah, mbah... mbah... sekalian mbae! (mbae = kakeknya)” Kejadian seperti ini terus-menerus terjadi, sandal tertinggal atau hilang, wc masjid yang jorok, sisa-sisa tadarusan yang tidak dibersihkan, sapu dan sajadah yang tidak diletakkan pada tempatnya, bahkan ayam yang masuk ke masjid pun tak luput dari mikrofon.
“Ini ayam siapa ya yang sering masuk ke teras masjid, ya! Kok gak dijaga ya! Kotorannya itu najis loh, ya!” Begitulah seterusnya.
Pernah suatu ketika aku dimarahi oleh beliau yang kemudian membuatku tambah risih dengan Mbah Muji. Seperti biasa, yang selalu membersihkan sisa-sisa tadarusan adalah aku, kang Pran, Ril, dan Darvi. Kebetulan malam itu mati lampu dan hujan deras. Jadi kami agak kewalahan untuk ambil maupun antar makanan dan minuman untuk para pentadarus (kami sebut dengan jaburan). Ketika selesai tadarus, setelah kami rapikan hujan belum juga kunjung berhenti.
“Piye iki kang (Bagaimana ini bang)?” Tanyaku
“Yo wes, sesok wae pas shubuh kita terno gone wak Sabar (ya sudah, kita antar besok aja pas shubuh ke rumah wak Sabar)!” Jawab kang Pran. Kami pun langsung pulang ke rumah masing-masing.
Paginya menjelang shubuh, sebagai tukang azan setelah sahur aku hadir lebih awal untuk sekadar menyapu dan jika sempat tilawah sebentar sebelum shubuh. Kebetulan hujan sudah reda dan lampu sudah kembali nyala. Dalam perjalanan menuju masjid Mbah Muji kembali bermain dengan mikrofon.
“Tadi malam siapa yang narok lampu petromah di bawah ya? Ketabrak jadinya kan? Besok-besok jangan ditarok di tengah ya! Ini pun piring-piring, cangkir-cangkir masih di sini berserakan. Ya!” Celoteh Mbah Muji mengagetkanku dalam perjalanan, aku baru ingat ketika pulang tadi malam kami lupa mematikan lampu petromah. Langsung ku percepat langkah. Benar saja, begitu sampai di masjid langsung disemprot.
“Nek ndeleh lampu iku ojo neng tengah. Ketabrak jadine kan? Aku wes tuek, motoku wes kabur. Kepiye nya kalian iki? Ora dipikirke ndisek! (kalau meletakkan lampu itu jangan di tengah. Tertabrak jadinya kan? Aku sudah tua, mataku sudah rabun. Bagaimana kalian ini? Tidak dipikirkan terlebih dahulu!)” Aku langsung gerah, beliau mengulang-ulang terus kalimat demi kalimat itu. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.
“Uweslah mbah, nggak entek-entek nek merepet terus! Kan tinggal geser wae! (Sudahlah mbah, tidak ada habisnya kalau diomongkan terus! Tinggal geser saja kan!)” Spontan mendengar jawabanku Mbah Muji tambah marah dan byarrrr..... panjang cerita dan ocehannya. Aku hanya berpikir, beginilah mungkin kalau sudah tua. Mudah tersinggung. Tidak biasanya kami lupa dengan kondisi masjid sebelum kami tinggal. Piring dan gelas pun berceceran padahal tadi malam sudah kami rapikan. Mungkin dibongkar kucing karena piringnya masih bau bekas makanan alias belum dicuci.
Begitulah sehari-harinya bulan ramadhan di desa kami. Selalu saja diperdengarkan suara Mbah Muji dari masjid. Setiap kata yang diucapkannya tak pernah lepas dari “ya”. Baik di awal maupun di akhir kalimat yang diucapkannya. Sehingga banyak dari kami yang menjulukinya “Mbah Ya”.
Sekarang Mbah Muji sudah tidak di kampung lagi. Terdengar kabar beliau sudah di Kalimantan dibawa oleh salah seorang anaknya karena kondisinya sudah semakin tua dan sakit-sakitan. Suasana Ramadhan saat ini sudah tidak berisik seperti dulu. Suasana ramadhan sudah lengang, tidak berisik, tidak ada kata “ya” lagi. Mungkin kami bisa saja kami senang dengan kondisi ini, tetapi malah sebaliknya. Kami merindukan sosok itu. Karena Mbah Muji telah berhasil memeriahkan puasa kami. Tanpa bayaran dan pujian beliau rela bersusah payah memikirkan bagaimana agar kondisi masjid tidak sepi selama ramadhan. Ramadhan kami jadi seperti biasa saja, bahkan terkadang sesekali masjid tampak kosong tanpa aktivitas sholat berjama’ah karena kesibukan dunianya yang tidak mau dikalahkan dengan ibadah jama’inya.

Semoga engkau sehat selalu Mbah Muji dan keikhlasanmu membuahkan kebaikan untuk dunia dan akhiratmu.

MATUGET

Mata kuliah Sistem Politik Indonesia ada tugas rabu ini, Teori Hukum Konstitusi juga rabu, Pendidikan HAM hari kamisnya juga tugas, belum lagi Antropologi Budaya. Ya Allah Robbi, begini rupanya jadi anak kuliahan tugasnya menumpuk tanpa memahami kondisi hati dan perasaanku. Huh, aku harus bisa meyakinkan hati ini bahwa ini bagian dari risiko yang harus diambil ketika Aku memutuskan untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Lagipula tidak akan terselesaikan masalah hanya dengan banyak mengeluh.
Akupun langsung memutuskan untuk ke perpustakaan universitas mencari bahan yang relevan atas tugas-tugasku. Dengan langkah gontai penuh lelah ku himpun semangat untuk mengkonversi jenuh menjadi motivasi, mengubah rasa malas menjadi aksi, dan ku reduksi lelah bercampur penat, dengan perlahan ku provokasi gairah untuk meraih prestasi. Aku pun teringat dengan kata-kata Pak Wahyu dosen kami, “Cara belajar mahasiswa tentu berbeda dengan ketika kalian masih SMA, di sini kami hanya sedikit mengarahkan untuk kemudian kalian yang mengimprovisasi, baik dengan mencari referensi relevan maupun bertanya kepada orang yang memiliki kapasitas keilmuan di bidangnya. Jujur, ilmu yang saya dapat dulu ketika kuliah hanya dua puluh persen dari dosen, dan selebihnya dari keseriusan saya dalam belajar sendiri”. Mungkin inilah giliranku untuk meraih yang delapan puluh persen itu.
Langkah semakin kupercepat, menjadi penuh semangat, kugenggam jari-jariku rapat-rapat, dan di dalam hati berteriak hebat “Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar!!!”. Semakin yakin Aku bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, Allah sendiri yang menjanjikan bahkan ayat tersebut sampai diulang dalam surah Al-Insyirah. Ini menandakan penegasan bahwa Allah ingin meyakinkan kepada hamba-Nya tentang hal itu. Sekarang fokusku pada semangat untuk menyelesaikan segala tugas yang ada dan hari ini semua harus tuntas meskipun ini masih hari selasa. Tiba-tiba bergetar handphoneku di saku. Aku sengaja handphone harus dalam mode silent selama berada di kampus. Aku memahami bahwa aku cukup leler, teledor, dan pelupa jadi sebagai jaga-jaga handphone selalu dalam mode silent. Terlihat di layar handphone nama Budi Komting, ya si budi komisaris di kelas kami. Kawan yang satu ini memang sangat care dengan dan sigap jika ada informasi terkait perkuliahan. Langsung saja kuangkat.
“Assalamualaikum, Hen!”
“Wa’alaikumussalam kom. Hah, apa cerita?”
“Cuma ngingetin nih, kau kan leler orangnya!” Ledek Budi.
“Udah gak usah jujur kali kau pak kom! Kenapa rupanya?” Seketika itu pula feelingku berubah, sepertinya ada sesuatu yang salah.
“Jangan lupa jam satu ada kuliah SPI trus jam tiganya THK!” tegasnya.
“Woy jangan ngelantur kau kom, itu kan mata kuliah besok hari rabu!” Bantahku.
“Huh, benar perkiraanku.” Desah Budi.
“Apanya yang benar?”
“Ini hari Rabu loh Davi Suhendra Sembiring! Gak inget kau, semalam tanggal merah kita memang libur gak kuliah.”
“Mati Aku kom, jadi tugas pun hari ini lah ya?”
“Ya pastinya! Ya udah kerjain dulu sana, mumpung masih jam sepuluh lewat nih! Mudah-mudahan sempat! Udah ya, nanti pulsaku habis. Assalamu’alaikum!” Budi langsung menutup tanpa mau mendengarku menjawab salam. Aku semakin cepat, semakin cepat, dan berlari secepat mungkin ke perpustakaan. Semua harus siap hari ini.
Alhamdulillah sampai juga di perpustakaan, setelah mengisi form buku pengunjung dan menyerahkan kartu perpustakaan langsung aku menuju ke ruangan penuh rak buku yang berjejer berbaris. Dengan cepat dan sigap kucari buku-buku relevan dan kutulistandai semua materi yang penting dan bisa dijadikan bahan makalah.
***
Waktu menunjukkan pukul dua belas pas, di saat yang sama pula semua bahan selesai hanya tinggal memindahkan dan mengetikkan saja ke laptop. Soal kemampuan mengetikku tidak bisa diragukan. Aku pernah menjuarai kompetisi mengetik saat SMA, kecepatan jari-jariku di papan keyboard melebihi kecepatan para pekerja rental komputer sekitaran kampus. InsyaAllah selesai hanya lima belas menit tiap makalah baik untuk mata kuliah SPI (Sistem Politik Indonesia) maupun THK (Teori Hukum Konstitusi). Maka tepat pukul setengah satu tinggal print out semua kemudian sholat Dzhuhur di Musholla fakultas dan langsung masuk kuliah. Jeng..jeng..jeng.. beres deh.
Langsung ku buka laptop dan menekan tombol power di sudut kiri atas papan keyboard. Tidak lama kemudian bercahayalah layar laptop dan meminta pasword. Penting untuk melengkapi laptop dengan pasword mengingat maling laptop merajalela sekarang ini. Teman-temanku saja sudah enam orang yang mengaku sudah kehilangan laptopnya. Ya meskipun pasword tidak mampu mencegah hilangnya laptop, paling tidak sedikit membuat kesal si maling dan data-data yang sifatnya pribadi tidak disalahgunakan karena harus diinstall ulang pastinya. Kumasukkan pasword “sembiringmilala” dan enter. Loh, gagal. Kuulang dengan kata yang sama dan gagal lagi. Coba pake underscore, gagal. Pakai capslock, gagal. “MasyaAllah, cobaan apa lagi ini?” gumamku. Oh iya, aku mengganti pasword tadi malam karena mendengar nasihat dari Arif, “Pasword laptop baiknya sering diganti secara berkala bang, untuk biar lebih aman!” Seketika itu pula langsung ku ikuti sarannya dengan mengganti pasword laptopku. Malangnya, Aku tidak ingat paswordnya apa.
Semua kata-kata yang familiar bagiku kumasukkan, tetapi hasilnya masih nihil. Ku SMS Arif dijawabnya kalau dia tidak tahu. Kulihat jam dan sudah lima belas menit berlalu dengan aktivitas pencarianku. Namun, Aku tidak menyerah masih terus mencoba hingga ku restart juga berkali-kali siapa tahu bisa mengingatkanku atau setidaknya memberikan clue tetapi masih saja gagal.
Sudah tidak ada pilihan lain kecuali harus ke rental komputer dan mengerjakan di sana. Namun, sudah dapat dipastikan itu tidak akan sempat. Lagipula tidak diijinkan membawa buku lebih dari dua ke luar perpustakaan ini sementara ada delapan buku yang harus ku bawa. Aku pun mencari cara dan sungguh sangat tidak terduga, pertolongan Allah datang. Ku lihat Ersal kawan sekelas tampak lima puluh meter di hadapanku, tetapi dia tidak menyadarinya.
“Sal, bawa laptop?” Sergahku.
“Bawak napa?”
“Minjem ya, tolong? Tugasku belum siap ini, nah tiga puluh lima menit lagi dikumpul.”
“Eh, belum siap kau? Pasti lupa ya kan?”
“Udah, itu gak penting cepatlah tolong ambilkan!”
“Iya, iya tunggu!” Ersal langsung keluar ruangan menuju loker di lantai bawah yang dijaga oleh dua petugas security. Wajar saja, loker adalah sasaran empuk para maling. Beberapa menit kemudian Ersal datang dan menyodorkan laptopnya, maka jari-jariku pun langsung beraksi. Tak.. tak.. tak.. suara keyboard yang terjamah jari-jariku.
“Itu laptopmu ada Hen!” Sambil mengacungkan bibirnya ke arah laptop yang tertutup dengan pasword terlupa itu.
“Tolonglah sal, diam dulu muncungmu! Kusiapkan ini nanti kujelaskan semuanya.” Tegasku pada Ersal yang seharusnya tak layak kucapkan itu karena hari ini dia malaikat penolongku. Namun, untung saja dia paham dengan kondisiku. Kulanjutkan pengetikanku dan luar biasa, hanya sepuluh menit tugas pertama selesai. Badas!!! Mungkin inilah yang disebut dengan the power of kepepet teorinya Jaya Setiabudi. Lanjut dengan tugas kedua tak.. tak.. tak.. kemudian nyeletuk lagi Ersal.
“Udah Adzan Dzhuhur Hen, kau bawak ya nanti di kelas Aku duluan ke musholla. Oh iya, sebenarnya kalau kau mau ada tu tugasku di laptop. Kau edit aja dikit-dikit kan lebih cepat siap!”
“Kau kalau mau pigi ya pigi aja sana, jangan pengaruhi Aku dengan cara licik itu! Go..go..go.. hurry up go!” Teriakku layaknya tentara di film-film hollywood.
Adzan sudah berkumandang, terdengar jelas di telingaku karena memang corong speaker masjid kampus cukup banyak dan besar untuk menjangkau seluruh sudut fakultas. Hanya dua fakultas yang tidak mungkin terdengar di terik siang seperti ini yakni Fakultas Teknik dan Fakultas Bahasa dan Seni yang memang letaknya di ujung pintu gerbang satu. Aku hanya berdoa dalam hati dengan tetap sambil mengetik, ampuni Aku ya Allah yang harus melewatkan sholat Dzhuhur berjama’ah karena tugas ini. Kenapa ya Aku bisa seleler ini.
Lima belas menit berlalu dan tuntas sudah tugas kedua. Langsung berlari menuju lantai bawah perpustakaan untuk print out dan menjilid. Selesai Alhamdulillah. Waktu menunjukkan pukul satu tepat, aku menuju kelas untuk menitipkan tugas ke Budi dan kemudian izin ke musholla untuk menunaikan shalat Dzhuhur di musholla fakultas.
Penat dan beratnya aktivitas hari ini luntur seiring guyuran air keran yang menyentuh indera tubuh ini mulai dari telapak tangan, seluruh permukaan wajah, lengan, kulit rambut, telinga, sampai kaki. Kesejukan ini terasa benar-benar mampu menyegarkan raga dan hatiku. Subhanallah, inilah keajaiban wudhu. Kemudian langsung kulanjutkan dengan aktivitas ruhani, sarana komunikasi langsung antara makhluk hina dhaif penuh dosa kepada Sang Maha Sempurna. Shalat.
Selesai shalat aku langsung kembali menuju kelas. Sembari melangkahkan kaki teringat si pasword laptop, “KEMANA DICARI” pakai capslock. MasyaAllah, padahal dua kata itu terus terngiang di otakku ketika kebingungan dengan pasword tadi. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Mungkin ini cara Allah menegurku agar tidak terus-terusan teledor dan leler.
Sampailah aku di kelas untuk kuliah. Ruangan 36.15. Namun Anehhnya, kok sepi? Padahal beberapa menit yang lalu masih ramai di sini. Aku pun kembali melihat jadwal perkuliahan siapa tahu salah ruangan, dan tertulis di sana 36.15 artinya tidak salah. Aku berkeliling fakultas, mungkin ada perubahan kelas. Pindah kelas adalah hal yang lumrah terjadi di jurusan kami, bisa jadi karena tiba-tiba pindah ke ruangan multimedia atau karena ruangan dipakai dan alasan lain sebagainya. Namun, aku tidak menemukan teman-temanku di kelas manapun dan anehnya fakultas jadi sepi. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku bingung setengah mati. Handphoneku kembali bergetar, Budi Komting.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam, eh di mana kelas kita?” Ku tembak langsung.
“Kelas apa?” Tanya Budi heran.
“Loh bukannya kita ada kuliah siang ini? SPI sama THK!”
“Itu kan mata kuliah hari rabu Hen, ini hari selasa!”
“Yang bener donk, Kom!”
“Hehehe, iya becanda Hen. Tadi Bu Kajur ngasih tau kalau siang ini semua perkuliahan dikansel karena fakultas kita dipakai oleh mahasiswa pascasarjana.”
“Jadi?” tanyaku.
“Jadi, ya SPI dan THK dikansel juga.”
“Trus tugas gimana?”
“Tugas dikumpulnya rabu depan jadinya.” Kakiku mendadak lemah lunglai tak kuasa menahan berat tubuh yang cuma enam puluh kilogram ini. Pertanda apa ini sebenarnya.
“Hendra, hendra, masih di sana kan kau?”
“Ho’oh!” Jawabku tak bersemangat.
“Jangan lupa sore ini ya?”
“Lupa apa?” Jawabku datar.
“Hutang, katanya kan mau kau bayar sore ini. Kutunggu di masjid kampus.”
“Apa iya ada janjiku?”
“Dasar Matuget!”
“Apa lagi itu, Kom?
“Mahasiswa Tukang Forget!” Nyesek.

Di atas Sepatu Tua Usang ini

Di atas sepatu tua usang ini,
Berdiri seorang manusia tua,
Renta tubuh dimakan usia,
Dengan perjuangan tanpa surut membara.

Di atas sepatu tua usang ini,
Telah kau hamparkan jalan hidup,
Kau datangi segala pintu rezeki yang bisa diraup,
Dengan keyakinan tanpa pernah redup.

Di atas sepatu tua usang ini,
Sepasang kaki gontai mengayuh sepeda tua,
Perlahan nan pasti demi sebuah usaha,
Memperluas ilmu dan mengajarkannya.

Pernah kulihat di atas sepatu tua usang ini,
Kau berhenti dengan tangis rintih yang tidak tertahan lagi,
Seperti menyesali sesuatu yang tidak ku mengerti,
Berguncang badan, mengisak, hingga tak sanggup berdiri lagi.

Di atas sepatu tua usang ini,
Telah berdiri sosok manusia paruh baya dengan beban tak terkira,
Tidak terbagi dengan siapa jua karena kau sebatang kara,
Perih hidup hanya kau bagi pada Sang Pemilik Jiwa.

Di atas sepatu tua usang ini,
Tersimpul wajah senyum ceria lagi ramah,
Berat bebanmu kau simpan saja di rumah,
Agar tetap terjuluk engkau si guru berramah wajah.

Di atas sepatu tua usang ini,
Hanya iba yang aku rasakan ketika kau berdiri di depan,
Suaramu sudah tidak didengar dan diindahkan,
Siswa-siswa berakhlak bodoh selalu menyepelekan.

Di atas sepatu tua usang ini,
Apakah kau lupa bahwa kau tidak lagi muda,
Setiap kalimatmu hanya dianggap radio rusak saja,
Mengapa tidak beristirahat di rumah saja segera.

Sepatu tua usang ini,
Sepertinya kini sudah saatnya pensiun,
Kutemukan tergeletak tanpa si sosok santun,

Pengayuh sepeda tua yang mendekati masa pikun.

Sabtu, 20 Juni 2015

Tidak Harus Seindah Asa

Aku memang melihat ada gelagat aneh adikku belakangan ini. Semangatnya luar biasa, membuatku iri saja. Berangkat mengajar cepat kurang cepat, bahkan ketika pulang pun lama kurang lama. Ingin rasanya Aku meminta kiat darinya agar Aku pun bisa sesemangat dia. Membayangkan sekolah saja sudah membuatku penat dengan segala macam jenis pekerjaan yang serasa terus semakin membebaniku. Apa lagi kalau sudah bertemu dengan anak-anak, “haahhh” mau pecah rasanya isi kepala ini. Ingin segera keluar dari sekolah ini, tapi bingung juga mau kerja apa. Jaman sekarang bukannya mudah mendapat pekerjaan walaupun sudah sarjana. Seno, Waras, dan Izul, mereka semua teman kuliahku dulu, sekarang hanya bekerja sebagai tukang becak motor.  Tiba-tiba jadi teringat nasihat Pak Yadi guru baru di sekolah.
“Titel Sarjana Pendidikan itu bagi saya adalah amanah pak Sholeh, jadi akan sangat berdosa rasanya kalau saya enggan untuk mengajar. Sebab, mungkin dengan lulusnya kita di jurusan pendidikan telah menyingkirkan orang lain yang sebenarnya memiliki keinginan yang kokoh untuk jadi guru. Bisa jadi jika kita tidak lulus dan tidak keterima di kampus, maka orang yang berkeinginan kuat tersebutlah yang menggantikan posisi kita saat ini.”
Dia memang guru spiritualku, tak segan-segan aku kadang mencurahkan isi hatiku padanya. Dari pancaran ketawadhu’an wajahnya saja sudah meneduhkan kekeringan hatiku walau hanya sebentar. Orangnya sholeh, jauh kalau dibandingkan denganku. Padahal namaku Sholeh.
“Syifa?” panggilku pelan di tengah kekhusyuannya memeriksa latihan murid-muridnya.
“Hmm?” sahutnya walau tak mengalihkan pandangan pada lembar jawaban yang ia periksa.
“Boleh minta saran?” Syifa pun menghentikan aktivitas centang-mencentangnya.
“Jangan sekarang yang bang, Syifa lagi sibuk nih, ntar aja kalo dah siap ya? Oke?”
“Iya deh..” Sahutku kesal sambil berlalu meninggalkannya, seraya itu pula moodku untuk curhat pun sirna. Tidur aja deh, batinku. Mungkin memang harus kuhadapi sendiri saja, lagian gengsi juga harus curhat dengan Syifa. Adik kecilku yang sudah beranjak dewasa bahkan kalaupun menikah ini memang sudah saatnya. Eh, bicara tentang menikah aku jadi minder sendiri. Usiaku sudah kepala tiga lebih, tapi masih melajang saja. Bukannya tidak ada keinginan untuk menikah, hanya saja belum rela melepaskan Syifa sendirian apalagi suasana berkabung masih kurasakan ada pada dirinya. Aku dan Syifa selisih 3 tahun, baik umur maupun sekolah. Ayah kami meninggal sejak aku SMA, hal ini menyebabkan Aku harus menunda kuliah selama 3 tahun untuk membantu perekonomian keluarga dan biaya sekolah Syifa, hingga akhirnya aku pun kuliah sambil bekerja. Barengan dengan Syifa menjadi angkatan yang sama. Setelah kami semua selesai kuliah, kami pun memutuskan untuk mengajar di tempat yang sama agar mudah saat berangkat ke sekolah. Saat itulah Ibu kami mulai sakit-sakitan. Hingga akhirnya Ibu dipanggil Allah tepatnya 2 tahun setelah kami memasuki dunia kerja, itu tiga bulan yang lalu. Mungkin karena tugas Ibu memang sudah selesai membimbing dan membiayai kami sampai kuliah, selanjutnya kamilah yang harus berusaha secara mandiri. Kalau mengingat masa lalu, tidak bisa aku membendung air mataku.
Sejak meninggalnya Ibulah, Syifa kelihatan kehilangan gairah dalam hidupnya. Namun, Aku selalu memberinya semangat dan terus menghiburnya agar ia tetap bisa tersenyum. Belakangan ini sepertinya Aku tidak perlu menghiburnya lagi. Ia telah menemukan semangatnya kembali. Wajahnya pun selalu dihiasi dengan senyuman. Benar-benar membuatku heran. Tapi bahagia juga kok kalo melihatnya bisa bahagia begitu. Masalahnya sekarang ada di diriku sendiri, kenapa tidak bisa sebahagia dan sesemangat Syifa. Entalah, malam pun sudah semakin larut, mataku sudah mulai berat, langsung kubaringkan tubuhku dan tidur.
***
Mataku terbuka, di tengah keheningan malam ku dengar suara tangisan seorang gadis yang sedang memohon dan meminta penuh harap. Memelas sekali. Membuat bulu kudukku merinding. Aku pun bangkit menuju sumber suara itu. Suara detakan jam dinding pun semakin keras ku dengar menyebar ke penjuru ruangan. Ku perhatikan jam, tepat pukul 02.00 dini hari. Suara tangis semakin dalam kurasakan. Dan tepat tebakanku, suara itu ada di kamar Syifa. Dari pintu kamar yang memang sudah terbuka itu kulihat seorang gadis mungil berbalut mukenah menengadahkan kedua tangannya dengan wajah dibanjiri air mata. Luluh rasanya raga ini menyaksikan pemandangan itu. Sekujur tubuhku melemas, tak kuasa rasanya aku untuk tidak menghampirinya. Langsung saja ku peluk ia. Tidak pernah Aku melihatnya sesedih ini. Air mataku pun berlinang, bagai di film-film kenangan masa lalu kebersamaan kami bersama Ayah dan Ibu terus tergambar. Namun, aku sangat kaget ketika tiba-tiba saja Syifa mengatakan sesuatu dari mulutnya.
“Bang, Syifa jatuh cinta!.” Suaranya agak terbata karena tangisannya. Bagai tersambar petir, tubuhku tiba-tiba jadi dingin dan menggigil seketika. Tidak pernah aku mendengar kata-kata ini darinya. Aku hanya terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, aku mencoba menenangkan dan mencairkan kebekuan pikiranku, karena sebenarnya jatuh cinta itu sangatlah wajar apa lagi di usia Syifa yang harusnya sudah sangat layak baginya memasuki dunia rumah tangga. 26 tahun lebih. Kemudian ia pun melanjutkan perkataannya sambil melepaskan pelukanku dan menatapku dalam-dalam.
“Bang, Syifa sudah berusaha untuk menahan rasa ini. Sudah bertahun-tahun sejak kuliah. Dulu pernah ada beberapa laki-laki yang sholeh mengajak Syifa untuk serius, tetapi berulang kali Syifa tolak dan Syifa tahan perasaan ini sampai semua siap. Syifa tahu bahwa Syifa belum siap. Syifa juga berhasil membuang jauh-jauh perasaan Syifa laki-laki itu meskipun sebenarnya Syifa sukai. Namun, saat ini Syifa sudah tidak sanggup menahannya lagi bang. Semakin Syifa tepis, perasaan ini semakin menggebu datangnya. Jika Syifa ungkapkan dan sampaikan ke Abang, Syifa juga takut jika nanti membuat Abang marah. Syifa harus bagaimana bang?” Air matanya semakin meleleh deras dan tanpa sadar air mataku juga menetes. Aku merasa bersalah, selama ini ia terdiam hanya karena takut dan segan padaku. Pasti semua ini disebabkan sampai saat ini aku belum kepikiran untuk menikah sehingga membuatnya merasa lancang jika harus melangkahiku. Kembali aku mencoba menstabilkan hati dan pikiranku.
“Abang minta maaf ya dik, semua ini memang kesalahan Abang. Syifa takut melangkahi Abang khan?” Tanyaku sambil mencoba tersenyum di sela-sela tetesan air mata. Syifa hanya menjawab dengan mengangguk.
“Apa Syifa memang harus menunggu abang nikah duluan ya? Kalau memang begitu, gak apa-apa kok Syifa mesti menunggu lagi.” Kembali kupandangi lekat wajahnya. Ketahuan bahwa ia penuh harap.
“Bilang ke Abang, siapa laki-laki yang mampu meluluhkan hati Adik kecil abang itu?” Sambil kuangkat dagunya sambil ku beri isyarat senyum tanda setuju.
“Boleh bang?”
“Boleh, asal membuat Syifa bahagia pasti Abang bolehkan.” Jawabku meyakinkan.
“Ada laki-laki yang begitu sholeh. Tapi, Syifa juga gak tau dia suka apa gak sama Syifa.”
“Gak masalah dik, ntar biar Abang tanyakan ke orangnya langsung. Kalau dia gak mau ntar Abang pilihkan dengan yang lainnya, Abang sekarang wali Syifa.” Tiba-tiba tergambar wajah Pak Aman Hariyadi sang guru spiritualku yang juga sama-sama bekerja di sekolah tempatku mengajar. Pak Yadi adalah pilihan yang tepat, pikirku. Mudah-mudahan beliau mau, itupun kalau beliau masih belum ada pilihan.
“Tapi Syifa malu sebenarnya bang?” Syifa kembali tertunduk dan aku kembali tersenyum. Itu ekspresi yang wajar bagi seorang wanita.
“Hehe, ini Abang Syifa sendiri loh. Masa malu-malu? Ayo kasih tau Abang”
“Abang pasti kenal orangnya, karena Syifa lihat Abang sering ngobrol dengannya.” Tiba-tiba jantungku berdegup kencang.
“Apa maksud Syifa, Pak Yadi?” Sergahku dan Syifa kembali hanya menganggukkan kepala kemudian menundukkan kepalanya kembali. Tapat pilihanmu dik, pikirku.
“Abang setuju, besok coba Abang tanyakan ke beliaunya. Semoga beliau mau. Syifa banyak-banyak do’a aja ya, dan jangan lupa berdo’a untuk diberi kesabaran jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan.” Aku juga berharap semoga tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, tiba-tiba muncul kembali rasa minderku. “Aku kapan ya?” Ah sudahlah, yang penting Syifa bisa bahagia dulu. Aku pasti bisa mencarinya nanti.
“Pasti bang, Syifa tahu kok harus bagaimana.” Senyum manisnya kembali mengembang. Senyum itulah yang selama ini membuatku tenang dan nyaman. Aku baru sadar, inilah yang membuat Syifa sangat bersemangat berangkat kerja belakangan ini.
***
Udara pagi ini sangat bersahabat, ku kendarai motorku menuju sekolah tercinta dengan semangat menggelora. Entah mengapa hari ini aku kembali bersemangat. Mungkin karena ada misi besar hari ini. Misi yang mempertaruhkan kebahagiaan Adikku tercinta. Aku yakin Pak Yadi pasti mau menerima Syifa.  Aku juga tidak tahu memperoleh keyakinan ini dari mana. Hehe, aku hanya bisa tersenyum sepanjang jalan. Sedangkan Syifa sudah berangkat 15 menit yang lalu juga dengan semangatnya yang pasti lebih menggelora.
Gerbang sekolah sudah kelihatan beberapa meter di depan dan langsung ku belokkan memasuki kawasan sekolah. Tepat di depan kantor banyak guru berkumpul dengan wajah panik. Langsung ku parkirkan motorku dan berhambur menuju keramaian tersebut. Kulihat di sana Syifa yang sudah tiba dari tadi terpojok terdiam lesu dan semakin membuatku bingung.
“Ada apa pak?” Tanyaku pada Pak Rizal salah satu staff Tata Usaha sekolah.
“Pak Yadi di penjara.” Jawabnya singkat.
“Loh kenapa?”
“Masih belum jelas, katanya gara-gara melakukan tindakan kekerasan” Tukasnya.
“Kok bisa?”
“Inilah pak masih belum jelas. Nanti pulang sekolah sama-sama kita jenguk.” Jantungnya berdegup kencang serasa memungkiri kejadian pagi ini. Namun, pancaran kesedihan lebih terlihat di wajah Syifa. Ia serasa kehilangan harapan, duduk termenung dengan mata berkaca-kaca. Harusnya aku mampu memberinya kabar gembira tapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Kasihan adikku. Ingin aku rasanya menguatkan hatinya, tetapi tidak mungkin aku lakukan saat sekarang ini. Pasti semua akan bertanya-tanya mengapa kami yang sangat merasa terpukul dan bisa memunculkan spekulasi negatif.
Hatiku benar-benar diliputi kegalauan hari ini. Aku kehilangan konsentrasi selama mengajar. Aku sadar sebenarnya tidak boleh menunjukkan wajah murung di depan anak-anak, tapi apalah daya Aku sangat tidak bisa membohongi mereka. Guratan kebimbangan dan duka terlukis jelas di raut wajah setengah tua ini. Mudah-mudahan nanti semua terjelaskan dan tercerahkan setelah bertemu dengan Pak Yadi di kantor polisi. Yang pasti, kami semua guru-guru di sekolah tahu bahwa Pak Yadi bukanlah tipe guru “killer”, orangnya sangat sabar dan penyayang. Ini pasti hanya kesalahpahaman.
***
“Tadi tepatnya jam istirahat pertama, Haikal mencoba memanjat pohon mangga di depan kelas II c. Saat sebelum itu terjadi memang saya sedang diliputi amarah Pak, jadi reflek aja Saya menjewer si Haikal. Mungkin terlalu kuat ya, hingga akhirnya dia ngadu ke Orang tuanya. Karena tidak terima langsung aja saya di gelandang kemari.” Penjelasan Pak Yadi di tengah-tengah kerumunan kehadiran kami sebagai teman-teman seprofesinya di tempat mengajar. Kembali Aku melihat Syifa masih tersudut menunduk seperti seorang tersalah atas peristiwa ini.
Terus terang saja, Aku merasa sangat konyol dengan aduan yang dipertuntutkan orang tua Haikal. Hanya gara-gara menjewer imbasnya ke penjara. Jika ku ingat-ingat, aku juga termasuk guru yang tidak jarang melakukan hal yang sama. Tidak hanya menjewer, terkadang menarik jambang atau mencubit anak-anak juga sering. Namun aku tersadar, bahwa Haikal adalah anak dari konglomerat sekaligus mafia ditakuti di kota ini. Kalau hanya mengutak-atik hukum di kota yang kecil ini tentu sangat tidak sulit baginya. Benar-benar aneh. Jadi teringat, dulu aku saat SD pernah lupa mengerjakan PR. Langsung saja guru marah-marah sambil memukulku dengan dua batang rotan seukuran telunjuk yang disatukan sampai membuat betisku merah dan tidak hilang memarnya selama 1 bulan, tapi tidak pernah aku laporkan ke orang tua. Sebab jika ku laporkan akan bertambah fatal, bisa jadi akan ditambahi dengan hukuman lain di rumah. Begitulah pendidikan di jaman ini, anak-anak sulit diajari mandiri.
Satu hal yang aku pahami, ternyata tepat tebakanku bahwa Pak Yadi bukanlah melakukan kejahatan besar. Ini hanya na’asnya beliau saja.
“Kami sudah berkomunikasi dengan pihak polisi.” Tukas pak Syakir kepala sekolah dengan nada agak berbisik kepada Pak Yadi. “Katanya Pak Yadi bisa bebas jika bisa membayar dua puluh juta. Jika Pak Yadi berkenan, kami sudah sepakat dan rela jika harus mengusahakan uang tersebut entah bagaimana caranya untuk membebaskan Pak Yadi dari sini.” Pak Syakir menawarkan bantuan kepada Pak Yadi dengan harapan ia mau menerimanya, tetapi alangkah sangat terkejutnya kami dengan jawaban Pak Yadi atas tawaran tersebut.
“Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman atas kehadirannya, tetapi untuk tawaran Pak Syakir tadi saya tidak bisa menerimanya Pak maaf. Saya menyadari bahwa memang sebenarnya sayalah yang bersalah atas kasus ini. Jadi, biarkan saja saya menjalani prosesnya. Saya sudah pasrah, jika memang harus dipenjara ya mungkin inilah teguran dari Allah agar saya lebih berhati-hati terhadap emosi saya.” Sontak jawaban Pak Yadi membuat kami terdiam dan malu. Ketakjubanku atas pribadi Pak Yadi semakin bertambah. Tidak salah jika Syifa benar-benar mendambakan sosok beliau dan Aku pun semakin yakin untuk meneruskan hajatku memintanya untuk menjadi imam bagi Syifa adikku. Aku juga teringat perkataan Pak Yadi yang mengutip dari sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Turmudzi “Sebaik-baik anak Adam bukanlah yang tidak pernah melakukan dosa, tetapi ia yang selalu bertaubat ketika melakukan dosa”.
Setelah panjang bercerita, kami pun berpamitan pulang untuk kembali ke rumah masing-masing. Aku berencana untuk menemuinya lagi dan membicarakan niat yang tertunda sejak tadi pagi. Setelah aku yakin semua keluar, beberapa menit kemudian aku pun kembali menuji ruang lobi untuk menemuinya. Namun ternyata, kulihat dari luar ia juga kedatangan tamu. Seorang wanita dengan anak seumuran kelas 3 SD. Mereka bercerita sepertinya menyenangkan hingga membuat wajah Pak Yadi berseri sekali. “Jangan-jangan mereka adalah istri dan anak Pak Yadi”, batinku.
Ku urungkan niatku, lagipula ini masa-masa yang tidak tepat untuk menanyakan hal semacam ini. Nanti sajalah ketika beliau sudah keluar dari buih. Aku sangat yakin Pak Yadi akan segera bebas. Hmm kasihan dia, begitu juga dengan Syifa. Sejak mengetahui kabar ditangkapnya Pak Yadi ia hanya bisa merenung dan meneteskan air mata.
Setibanya di rumah Aku langsung menemui Adikku. Ia sedang mengurung diri di kamar. Ingin ku ketuk pintunya, tapi ku tahan. Sudahlah, mungkin ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Namun tiba-tiba suara deritan pintu terdengar, Syifa keluar.
“Bang, Syifa lah yang menyebabkan Pak Yadi ditangkap. Syifa bersalah bang.” Ia menangis menunduk menggeletar, tentu membuatku terkaget tidak faham.
“Maksud kamu apa Syifa? Sini duduk, tenangkan hatimu lalu bicaralah!” Syifa memaksakan dirinya untuk berhenti menangis dan menahan guncangan hebat dari hatinya.
“Tadi pagi di jam istirahat pertama pas Syifa kembali ke kelas dari kamar mandi, Syifa liat sapu tangan Pak Yadi melayang dari lantai dua dari kelas III dan tersangkut di pohon mangga di depan kelas II c. Jadi, karena di situ ada Haikal, Syifa suruh Haikal memanjat untuk mengambilkan sapu tangan Pak Yadi yang tersangkut itu. Tapi tiba-tiba Pak Yadi datang dan marah-marah trus langsung jewer kuping Haikal. Syifa gak pernah liat Pak Yadi semarah itu bang. Syifa menyesal…” Syifa kembali menangis, kali ini semakin kencang. Badannya terguncang hebat karena isakannya, matanya pun semakin membengkak.
“Sudahlah Syifa, semua sudah terjadi.” Aku mencoba menenangkan.
“Jadi Syifa mesti gimana bang?”
“Ayo kita ke rumah Pak Jalal orang tua Haikal. Kita jelaskan kondisinya. Kita mohon agar beliau bersedia mencabut tuntutannya.”
“Kalo begitu ayo kita berangkat bang, sekarang! Syifa gak mau dihantui rasa bersalah terus.” Desak Syifa padaku agar Aku mengikuti ajakannya.
Kami pun berangkat menjelang maghrib itu pula. Ada perasaan takut yang menghampiriku, wajar saja. Jalal Abdi adalah mafia yang sangat terkenal. Semua orang segan padanya. Walau aku belum pernah bertemu dengannya, Aku bisa menebak pasti orangnya sangar. Ah biarlah, Aku siap menanggung apapun resikonya. Bismillah..
Tepat maghrib kami tiba di sebuah komplek perumahan yang dihuni oleh orang-orang kelas atas. Dan kabarnya di sinilah Jalal Abdi tinggal. Aku tidak tahu tepatnya yang mana, tapi Aku berencana akan bertanya pada warga setempat. Karena sudah maghrib, kami pun sholat di mushola di komplek perumahan megah tersebut. Kontras memang. Komplek yang dihuni puluhan orang kaya tetapi tempat ibadahnya hanya mushola yang bisa dikatakan tidak cukup besar. Kurang lebih hanya berkapasitas 50 jamaah. Mungkin disesuaikan dengan jumlah penduduk di komplek itu, terbukti jamaah sholat maghribnya pun tidak begitu ramai, hanya 2 shaff tidak penuh.
Dengan berusaha khusyu’, sholat maghrib pun dilaksanakan. Memang cukup sulit bagiku untuk mengkhusyu’kan sholat apalagi saat ada tekanan seperti ini. Ah itu tidak penting, sekelas Ali bin Abi Thalib saja pun ketika dites kekhusyu’annya oleh Rasul beliau gagal. Lagipula khusyu’ tidak menjadi bagian dari rukun sholat. Sebagai manusia kita hanya berusaha, ikhtiar untuk beribadah sebaik-baiknya. Urusan diterima atau tidak, itu hak prerogatifnya Allah. Saat sholat selesai, Aku menegur sang imam sholat tadi. Wajahnya sangat tawadhu’, badannya kurus. Ia sedang berbincang dengan seorang salah satu makmumnya tadi. Ia juga kelihatan ramah sekali karena sangat mudah tersenyum. Temannya berbadan gemuk tinggi. Kulitnya gelap.
“Maaf pak, numpang Tanya!” Aku sambil menyodorkan tangan mengajak bersalaman. Bergantian, setelah sang imam juga ku salami teman bicaranya tadi.
“Oh iya, ada apa pak?”
“Hmm gini, rumah Pak Jalal yang mana ya?” Tanyaku sambil menunduk sebagai rasa sopan santunku. Namun mereka tertawa.
“Beliau inilah pak Jalal Abdi.” Sang imam menunjuk pria berbadan gemuk, tinggi dan berkulit gelap tadi. Tentu saja aku kaget. Badanku serasa menggigil seketika. Tapi pria tersebut masih saja dengan ramahnya melemparkan senyuman padaku.
“Maaf pak!” Aku mencoba memaksa diri untuk senyum. Tanpa basa-basi aku langsung memanggil Syifa dan memberitahukan bahwa beliaulah Jalal Abdi. Ternyata tidak seperti tebakanku, Jalal Abdi ini orangnya sangat welcome. Kami pun bercerita panjang lebar terkait peristiwa yang terjadi tadi pagi sampai ke perkara Pak Yadi di penjara. Namun, yang membuat kami semakin kaget ternyata Pak Jalal tidak mengetahui masalah ini.
“Ini pasti kerjaan si Tomtom. Maaf ya bapak dan ibuk. Walaupun anak saya dijewer, kalau dia salah saya gak akan pernah sampai marah-marah gak jelas. Aduh, bangsat ni Tomtom! Ya sudah nanti saya urus pak. Bapak dan Ibuk tenang aja. insyaAllah malam ini juga Pak Yadi sudah bebas.” Pak Jalal meyakinkan kami. Tentu saja kami sangat senang. Aku pun mengajak Syifa untuk pulang, tapi ia menolak dan belum puas sebelum melihat Pak Yadi benar-benar keluar. Maka kami pun memutuskan untuk membuntuti Pak Jalal, dan benar. Pak Jalal sangat serius dengan ucapannya tadi. Hingga kamipun mengikutinya sampai ke kantor polisi dan melihat Pak Jalal membebaskan Pak Yadi. Kami pun pulang dengan wajah sumringah. Tapi Aku baru tersadar dengan kejadian sore tadi. Siapa sebenarnya orang yang menjenguk Pak Yadi. Ah, besok aku akan tanyakan di sekolah. Karena misiku masih belum selesai.
***
“Apa Pak Yadi udah nikah?” Tanyaku pada seseorang yang kukagumi sosok kepribadiannya. Aku mendambakan memiliki adik ipar sesholeh pria tersebut.
“Eh belum pak..” jawabnya cepat melegakan pikiranku. Alhamdulillah.
“Trus, udah siap nikah gak?”
“Wah itu lah pak..” Malu-malu.
“Saya serius loh pak.” Aku meyakinkannya.
“Gini pak Sholeh, InsyaAllah saya udah siap. Tapi saya ragu.” Pak Yadi mencoba merapikan duduknya dan mencoba serius. Memang ini yang Aku harapkan. Kemudian ia melanjutkan.
“Ada wanita yang saya kagumi, cuma saya masih bingung bagaimana cara memulai untuk mengutarakan keseriusan saya menyuntingnya”. Degg, harapanku pupus.
“Siapa memangnya pak?” sahutku.
“Saya gak tau namanya, tapi saya yakin orangnya sholehah. Mama angkat si Topo Lukito siswa kelas tiga, pak.” Benar-benar hancur harapanku. Fokusku hilang dan sudah tidak bisa ku cerna lagi apa yang diucapkan Pak Yadi berikutnya. Akhirnya akupun undur diri dengan pura-pura ada keperluan. Berarti ia bukan jodoh Adikku. Kasihan Syifa. Ya Allah kuatkanlah Adikku menerima semua kenyataan ini. Aku tidak mau membuat Syifa berharap terlalu lama. Langsung ku SMS ia.
“Syifa, Pak Yadi sudah berniat mempersunting wanita idamannya. Sudahlah, nanti Abang carikan yang lain. Mudah-mudahan orangnya lebih baik.”
Sengaja Aku SMS dia karena jika ku katakana langsung di depannya Aku tidak sanggup harus melihat wajahnya diliputi kekecewaan. Sudah teramat banyak penderitaan yang dialaminya. Akupun berencana mengelak untuk bertemu dengannya dengan bersengaja pulang larut malam. Harapannya saat Aku pulang dan ia sudah tertidur. Tapi tidak sesuai harapan, ternyata ia telah menungguku sedari tadi.
“Abang gak perlu mengelak dari Syifa.” Syifa nyeletuk dengan senyum kecil di wajahnya. Tapi aku tahu, itu hanyalah tipuan. Senyum ikhlasnya tidak begitu. Aku hanya terdiam seribu bahasa.
“Syifa udah siap kok apapun jawabannya. Syifa udah pasang mental sehebat baja. Jadi Abang gak perlu ngerasa gak enak gitu. Syifa juga yakin, harapan manusia tidak selamanya paling baik. Jadi, tidak harus seindah asa. Meskipun resikonya agak menyakitkan.”
“Alhamdulillah, berarti adik kecil abang udah semakin tegar sekarang. Abang janji, akan carikan yang labih manteb.” Hiburku sambil mencubit pipi kanannya.
“Manteb?” Dahinya mengerut.
“Manteb sholehnya, manteb gantengnya, manteb semuanya deh. insyaAllah….heheh” Aku pun mencoba menghiburnya agar tidak terlalu galau.
***
1 minggu kemudian.
Entah ada angin apa, Pak Syakir meneleponku dan menyuruhku ke rumahnya malam-malam begini. Pas ditanya beliau malah berkata, “Datang aja, ada keperluan yang gak seru banget kalau dibicarakan melalui telepon!” Ya sudahlah, nurut saja. Siapa tahu ada rezeky nomplok pikirku.
“Gini pak sholeh, langsung aja ya tanpa basa-basi. Kebanyakan basa-basi malah asem nanti.” Canda beliau yang ku sahuti dengan senyuman. Kemudia beliau melanjutkan.
“Biasa tiap malam selasa, saya kan ngisi pengajian. Jadi, malam selasa lalu salah satu murid pengajian saya ada yang ngebet nikah. Dia tsiqoh sama pilihan saya siapa aja. Nah, kebetulan Pak Sholeh ini kan walinya Ibuk Syifa Shalihah. Saya pikir ini akan menjadi pilihan tepat nantinya. Jadi kira-kira gimana kalau kita proseskan saja mereka.” Aku tercengang, tidak mampu menerjemahkan perasaanku sendiri. Harus bagaimanakah Aku baiknya. Aku sama sekali tidak meragukan pria yang dipilihkan Pak Syakir itu. Pak Syakir adalah sosok yang sangat disegani, banyak ilmunya. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya dengan baik sampai S2 di Al-Azhar Kairo. Kesholehannya pun tidak diragukan. Aku hanya bingung dan bimbang, apakah Syifa bisa cocok dengan pilihanku ini jika ku iyakan. Walau sebenarnya Syifa sudah mempercayakan sepenuhnya ke Aku. Dia yakin dengan pilihanku.
“Sebenarnya pak, Syifa memang sudah siap secara lahir dan bathin jika harus menikah. Dan ia sudah mempercayakan semuanya pada saya untuk mencarikan pendamping hidupnya. Tapi saya masih punya ketakutan pak.”
“Ya kan bapak gak mesti menjawab sekarang. Dikonsultasikan baik-baik ke buk Syifanya. Pernikahan itu gak bisa langsung bilang iya dan menerima begitu saja. Harus menjalani prosesnya secara syar’i dan sehat.” Jelas Pak Syakir.
“Betul itu pak, ngomong-ngomong siapa laki-laki itu? Apa saya kenal pak?” Aku mulai penasaran.
“Pak Sholeh pasti kenal, namanya Aman Hariyadi salah satu guru kita juga.”
“Kalau begitu saya SETUJU.” Pak Syakir bengong.

The End.